Konten dari Pengguna

Cerita Pesugihan Uang Jin: Selamatnya Tukang Tambal Ban yang Jadi Tumbal

Pesugihan

Pesugihan

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Pesugihan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi istana jin (Foto: Republika)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi istana jin (Foto: Republika)

Sudah enam tahun lamanya, Parimin menekuni pekerjaan yang hanya bisa dilakoninya saat itu, menambal ban. Meski tidak seberapa, setidaknya keterampilan Parimin menambal ban bisa mencukupi kebutuhan istri dan anaknya.

Suatu hari, Parimin didatangi oleh seseorang tak dikenal. Ia yang membawa mobil sport mahal itu tiba-tiba berhenti di depan warung tambal ban milik Parimin. Saat ia mengeceknya, tidak ada yang salah dengan ban mobil tersebut.

Malah, bannya kuat dan bagus sekali kualitasnya. Mengapa pula mobil mahal seperti ini memilih warung tambal ban buluk seperti punya Parimin? Ah, Parimin lelah bertanya-tanya sendiri.

“Pak, ini saya ada uang 10 juta. Tolong diterima,” kata pria itu yang baru saja keluar dari mobil.

“Hah, banyak sekali Mas. Kenapa Mas mau memberi saya uang sebanyak ini? Saya juga tidak kenal Masnya siapa,” kata Parimin.

“Saya ada rezeki saja Pak. Hanya ingin berbagi,” kata pria itu. Kemudian ia melengos pergi masuk ke mobilnya dan meninggalkan Parimin yang masih bengong dengan uang segepok di tangannya.

Parimin punya firasat. Ia yang selama ini taat menjalankan amalan tidak segampang itu ditipu. Apalagi ketika diberi uang banyak dari orang tak dikenal tanpa alasan yang jelas. Entah pria itu benar-benar ikhlas atau berniat menjadikan Parimin tumbal pesugihan, Parimin tidak tahu pasti.

Yang pasti, Parimin akan menerima uang itu karena kondisi keuangan keluarganya juga sedang tidak baik. Tapi, Parimin harus berjaga-jaga. Tak lama setelah itu, Parimin memutuskan untuk pulang ke rumah.

---

“Dik, nanti jangan ganggu aku. Aku mau wiridan,” kata Parimin kepada istrinya.

Setelah sholat maghrib, Parimin langsung menjalankan salah satu amalannya. Firasatnya tadi sore ternyata semakin memburuk. Wirid yang diucapkan Parimin semakin berat di mulutnya. Tiba-tiba saja, ada suara sepatu kuda yang berlarian ke arahnya.

“Duk duk duk duk”

Saat Parimin membuka matanya, sudah ada kereta kuda yang bersiap menjemputnya menuju suatu tempat. Parimin tidak kaget, pun takut. Ia sudah menduga hal ini akan terjadi karena uang yang diterimanya sore tadi.

Dengan bekal iman yang kuat, Parimin mencoba mengikuti ke mana dia akan dibawa. Dia kemudian naik ke kereta kuda yang tidak bersupir itu. Tanpa sadar, ia dibawa melewati sebuah air terjun yang sering dilewatinya saat berangkat menuju warung tambal ban.

Tak disangka, kereta kuda itu lalu membawa Parimin menerobos air terjun itu. Sungguh aneh, baju dan celana Parimin tidak basah sedikitpun. Sementara Parimin sibuk memeriksa bajunya, ia tak tahu kalau ia sudah sampai di tempat tujuan.

Di balik air terjun itu, Parimin turun dari kereta kuda dan takjub melihat istana besar di depan matanya. Di sana, ia langsung digotong oleh dua orang penjaga pintu istana untuk bertemu kepada yang mereka sebut sebagai Sang Raja.

Sambil terus berdzikir di dalam hatinya, Parimin yakin sekali ini bukanlah istana buatan manusia. Hal itu dibuktikan Parimin sendiri ketika ia mulai memasuki istana tersebut. Betapa terkejutnya dia, ternyata istana tersebut dibangun dengan manusia yang tubuhnya sudah koyak dan terpisah-pisah.

Dari pilar, tangga, dinding, hingga meja kursi, semuanya adalah tumpukan manusia yang sekarat. Mereka menjerit kesakitan, seperti meminta pertolongan. Hati Parimin benar-benar tersayat melihat apa yang disaksikannya sendiri.

Ilustrasi iblis (Foto: David W Cerny/Reuters)

Setelah itu, dia dihadapkan kepada Sang Raja. Tempat ini memang bukan buatan manusia. Sang Raja yang mereka sebut itu terlihat seperti iblis berbadan besar dan memiliki tanduk di kepalanya.

“Kau di sini karena sudah mengambil rejeki dariku,” kata Sang Raja dengan suara berat dan serak.

“Apa yang akan kau lakukan kepadaku?” tanya Parimin.

“Tentu saja seperti yang lainnya,” jawab Sang Raja sambil menyeringai.

“Astaghfirullahaladzim,” Parimin keceplosan menyebut nama Tuhan.

Mendengar itu, Sang Raja murka. Parimin langsung dibawa ke ruang gelap yang membuatnya sesak napas. Namun, Parimin tetap tenang. Ia semakin menguatkan wiridan untuk membuat Parimin tenang sekaligus menyelamatkan dirinya.

Tiba-tiba, istana itu bergetar hebat, hampir membuat istana itu runtuh. Sang Raja semakin murka.

“Keluarkan manusia itu dari sini! Dia terlalu kuat untuk dijadikan sebagai tumbal!” teriak Sang Raja.

Lalu, seberkas cahaya memasuki ruangan Parimin. Dua orang penjaga yang menuntunnya tadi menggeret Parimin keluar istana. Tanpa disadari, Parimin sudah berada di pinggir air terjun tadi. Ia lalu bergegas pulang.

---

“Astaghfirullah!”

Semua orang yang sedang membacakan tahlil untuk Parimin di rumahnya itu berteriak dan berhamburan keluar tatkala menyaksikan Parimin berdiri di ambang pintu. Parimin yang merasa baru pergi dari rumahnya sekitar 10 menit yang lalu tidak mengerti dengan apa yang terjadi.

“Pak, ini benar kamu?” tanya istri Parimin.

“Iya, ini aku. Ada apa ini?” Parimin berbalik nanya.

“Tapi kamu sudah meninggal tujuh hari yang lalu, Pak,” kata istrinya.

“Ini benar aku, Dik. Coba saja cek kuburanku, siapa yang ada di sana,” kata Parimin.

Kemudian, orang-orang yang masih berada di tahlilan itu bergegas membongkar kuburan Parimin karena penasaran. Ternyata, setelah dibongkar, tidak ada apa-apa di dalamnya kecuali kain kafan yang kosong isinya. Parimin kemudian menceritakan kejadian yang baru saja dialaminya kepada orang-orang yang ada di situ.

Tulisan ini hanya rekayasa. Kesamaan nama dan tempat kejadian hanyalah kebetulan belaka.