Konten dari Pengguna

Cerita Pesugihan yang Tumbalkan Istri Sendiri

Pesugihan

Pesugihan

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Pesugihan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Nyi Blorong (Foto: minews.id)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Nyi Blorong (Foto: minews.id)

Bandi kewalahan menenangkan istrinya yang entah mengapa bertingkah seperti bukan dirinya. Waktu itu, Bandi sedang melakukan ritual pesugihan yang biasa ia lakukan dengan istrinya. Akan tetapi, di tengah-tengah ritual itu, tiba-tiba saja istrinya berteriak-teriak tidak jelas.

“Mar, kamu kenapa sih?” tanya Bandi sambil mengguncangkan bahu istrinya.

Marni tentu tidak menjawab. Ia malah terus berteriak-teriak di depan wajah suaminya. Bandi merasa ada yang tidak beres dengan istrinya itu. Ia lalu berinisiatif memanggil Mbah Ngatiman untuk mengembalikan Marni seperti semula.

Namun, Mbah Ngatiman tidak punya kekuatan lebih untuk menyembuhkan Marni. Katanya, makhluk halus yang ada di tubuh Marni terlalu kuat. Ia lalu menyarankan untuk melakukan sebuah ritual pengusiran setan.

Bandi menyetujui hal tersebut. Malam harinya, ritual tersebut segera dilaksanakan di rumah Mbah Ngatiman. Ia lalu merapal mantra sambil menyemburkan air ke tubuh Marni.

“Siapa kamu?” tanya Mbah Ngatiman.

“Hahahaha, aku adalah penunggu Pantai Selatan,” jawab Marni sambil tertawa keras.

“Apa yang akan kau lakukan dengan tubuh Marni?” tanya dukun itu lagi.

“Aku akan membawanya menjadi pengikutku, hahaha,” jawab Marni lagi disertai tawa.

“Segera keluar kau dari tubuh wanita ini. Kalau tidak, aku akan membakarmu!” ancam Mbah Ngatiman.

Mantra Mbah Ngatiman semakin cepat dilafalkannya. Semua berlalu cepat. Marni terguncang hebat dengan serangan Mbah Ngatiman.

Tak lama kemudian, ia jatuh pingsan. Kata dukun itu, ritual telah selesai dan makhluk yang ada di dalam tubuh Marni sudah keluar. Bandi lalu berterima kasih dan segera membawa Marni pulang.

Namun nahas, Marni ditemukan tewas dengan lidah menjulur dan badan bau tak sedap keesokan harinya. Kabar kematian Marni menjadi bahan gunjingan warga. Sementara Bandi masih berduka dengan kematian istrinya tersebut.

---

Kematian Marni yang tak wajar itu kelak menjadi dongeng misteri warga. Pasalnya, banyak warga yang mengaku pernah melihat sosok yang mirip dengan wajah Marni saat melewati rumahnya.

Bahkan, ponakan Bandi yang baru pulang dari merantau di Jakarta menyaksikannya sendiri. Ia adalah Ujang. Tiga hari setelah kematian Marni, Ujang pulang ke rumahnya yang tak jauh dari rumah Bandi.

Sesampainya di sana, ia mengetuk pintu rumah agar istrinya membukakan. Namun, sebelum pintu itu terbuka, Ujang ditepuk pundaknya oleh seseorang dari belakang.

“Ehhh,” Ujang kaget lalu menoleh. Ternyata itu adalah Mbak Marni.

“Kenapa Mbak, tengah malam begini ke sini?” tanya Ujang penasaran.

“Ujang, tolong bantu Mbak,” kata Marni.

“Ada apa Mbak memangnya?” tanya Ujang sedikit khawatir.

“Tolong berikan ini ke Bandi. Aku tidak ingin ditinggalkan begitu saja,” kata Marni sambil memberikan bungkusan kecil.

“Lah kenapa Mas Bandi meninggalkan Mbak? Apa yang terjadi Mbak?” tanya Ujang.

“Aku harus buru-buru Jang. Aku sudah ditunggu di Pantai Selatan,” kata Marni.

“Loh ngapain jam segini ke Pantai Selatan, Mbak?” tanya Ujang semakin bingung.

Belum selesai pertanyaan itu terjawab, istri Ujang lalu membukakan pintu.

“Ngomong sama siapa Mas barusan?” tanya istrinya.

“Anu, Mbak Marni nitip ini buat dikasihkan ke Mas Bandi,” jawab Ujang.

“Astaghfirullah,” istrinya menyebut lalu segera menyeret Ujang masuk ke dalam rumah.

“Mas, Mbak Marni sudah meninggal 3 hari yang lalu,” kata istrinya panik.

“Innalillahi. Aku harus mengantarkan amanah ini, Dik,” kata Ujang.

Singkat cerita, Ujang lalu mengunjungi Bandi keesokan harinya untuk memberikan bungkusan yang dititipkan Marni. Saat bertemu Bandi Ujang mendapat respon yang aneh.

Tak sekalipun Bandi menyahuti Ujang. Ia hanya diam saja. Namun Ujang tak mau ikut campur. Yang terpenting, amanahnya sudah disampaikan kepada Bandi.

---

Ilustrasi perdukunan (Foto: Aditia Noviansyah/Kumparan)

Setelah membuka bungkusan kecil yang diberikan Ujang, Bandi bergegas menuju Pantai Selatan yang didatanginya beberapa bulan lalu untuk meminta pesugihan. Betapa terkejutnya Bandi saat menemukan istrinya.

Dia melihat istrinya diikat kedua tangannya di tiang dan disiksa oleh banyak makhluk. Marni terlihat sangat kesakitan. Tubuhnya penuh dengan luka sabetan. Kondisinya benar-benar buruk. Tak kuasa melihat itu, Bandi mencoba menyelamatkan istrinya.

Namun, ia gagal lantaran jasad istrinya sudah dibawa para makhluk itu menuju Pantai Selatan. Bandi menangis sejadi-jadinya. Ia meminta tolong kepada Mbah Ngatiman untuk mengembalikan jasad Marni.

“Tidak bisa, Le. Itu semua akibat dari perbuatanmu sendiri,” kata Mbah Ngatiman.

“Perbuatan apa Mbah?” tanya Bandi bingung.

“Kamu dan istrimu sudah sepakat untuk melakukan pesugihan. Tapi sayangnya, kamu salah alamat meminta kepada makhluk yang salah.

Kamu terperdaya oleh mereka sehingga tidak tahu konsekuensi yang harus kamu tanggung. Istrimu,” jelas Mbah Ngatiman.

Mendengar itu, Bandi sangatlah menyesal. Niatnya mencari pesugihan karena ingin hidup enak dengan istrinya. Namun, nasi telah menjadi bubur. Marni sudah tidak bisa kembali ke dunia ini.

Tulisan ini hanya rekayasa. Kesamaan nama dan tempat kejadian hanyalah kebetulan belaka.