Cerita Seorang Pembeli Memergoki Pesugihan Warung Penyetan yang Pakai Penglaris

Tulisan dari Pesugihan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Hari ini, aku akhirnya bisa jalan-jalan. Sejak sebulan terakhir, aku sibuk bekerja di menjadi kurir mengantarkan barang dari rumah ke rumah. Pun juga teman-temanku, mereka juga sibuk mengais rezeki demi sesuap nasi.
Karena hari ini hari libur nasional, aku dan kedua sahabatku, Rendi dan Bagus, berencana untuk makan bersama sambil mengobrol santai.
Rendi yang pekerjaannya paling baik di antara kita bertiga, mau membonceng kami di mobilnya. Meski bekas, yang penting ada di antara kami yang punya mobil dan bisa dibuat jalan-jalan bareng.
Setelah menunggu selama lima menit di depan rumah, Rendi dan Bagus akhirnya muncul. Aku langsung bergegas menaiki mobil dan duduk di sebelah Rendi yang sedang menyetir. Seketika aku masuk, kami langsung melakukan tos andalan kami sejak SMA.
“Mau makan apa kita hari ini bro?” celetuk Bagus.
“Lagi pengen penyetan nih. Ke warung makan Cak Makar aja yuk!” seru Rendi.
“Aku terserah kalian ajalah. Bisa makan bareng aja udah seneng banget,” kataku menimpali.
Tak banyak berdiskusi, kami kemudian langsung meluncur ke tempat warung Cak Makar berada. Jarak yang kami tempuh sebenarnya lumayan jauh dari rumahku.
Terlebih, jalanan Surabaya pasti sangat ramai di jam pulang kerja seperti ini. Untuk memecah keheningan, aku akhirnya membuka percakapan.
“Ngomong-ngomong, kita seriusan mau makan di tempat itu?” tanyaku.
“Lah, serius dong Don. Masa bohong sih,” kata Bagus menimpali.
“Emang ada apa sama warung itu?” Rendi bertanya penasaran.
“Ini denger-denger aja sih, bener atau enggaknya aku gak tau ya. Katanya, banyak yang bilang kalau warung itu pakai pesugihan,” kataku.
“Ah, yang bener aja kamu Don. Itu mah orang sirik aja karena penyetan Cak Makar emang seenak itu,” tukas Bagus.
“Iya nih. Orang makanannya enak, tempatnya juga gak kotor. Biasanya kan kalau warung pakai pesugihan ciri-cirinya itu, tapi gak ada yang mencurigakan kok dari warungnya Cak Makar,” Rendi menambahi.
“Gini aja, gimana kalau setelah ini kita buktikan saja. Kamu kan bisa “ngeliat” Don. Nanti coba cek, apa ada hal yang mencurigakan dari warungnya,” usul Bagus.
“Deal,” sambarku langsung setuju.
---
Ternyata warung itu ramai sekali saat kami datang. Hampir saja mobil kami tidak mendapat tempat parkir. Tapi, kami bersyukur sekali atas kelihaian tukang parkir di situ. Berkatnya, mobil kami bisa mendapatkan tempat, meski agak jauh dari warungnya.
Kalau boleh dibilang, aku tidak percaya dengan omongan orang. Meskipun aku bisa “melihat”, bukan berarti aku suka.
Tidak hanya yang dikatakan Rendi bahwa penyetan Cak Makar seenak itu, aku juga tidak menemukan tanda-tanda mencurigakan sejauh ini.
Warungnya yang berada di deretan ruko ini punya banyak meja. Selain itu, tempatnya juga terang benderang.
Ah, memang benar, orang-orang itu hanya sirik saja dengan kesuksesa Cak Makar. Tak lama kemudian, pesanan kami datang. Masing-masing dari kami langsung tergiur untuk segera memakannya.
Namun, saat kembali dari mencuci tangan di wastafel, aku terkejut setengah mati. Di depan Rendi, tepatnya di sebelah tempat dudukku, ada genderuwo yang punya mata besar dan lidah bercabang dua.
Dia asyik sekali menjilati nasi dan lauk di meja kami. Sedangkan, Rendi dan Bagus yang tidak bisa “melihat” lahap sekali menyantap makanan mereka.
Aku ingin muntah. Lalu, aku bergegas ke toilet untuk mengeluarkan mualku dan mencuci muka. Aku benar-benar tidak percaya dengan apa yang kulihat tadi. Kupikir, Cak Makar tidak pakai pesugihan. Ternyata aku salah, dan orang-orang itu benar.
Saat aku kembali ke meja kami, Rendi dan Bagus heran menatapku.
“Ke mana saja kamu Don?” tanya Bagus sambil menjilati sisa sambal di tangannya.
“Dari toilet, tiba-tiba mules. Aku bungkus aja deh makannya. Yang ini makan saja,” kataku sambil menyodorkan makananku ke mereka.
Rendi dan Bagus saling menatap satu sama lain. Bukan karena heran dengan tingkah lakuku, melainkan mereka bertatap untuk menentukan siapa dapat apa. Kemudian, mereka yang mungkin masih kelaparan itu segera menghabiskan makanan di hadapan mereka.
Selama menunggu mereka menyelesaikan makananku, aku memesan lagi menu yang sama. Aku hanya ingin membuktikan sekali lagi kalau Cak Makar benar-benar melakukan pesugihan.
“Yuk, kita balik aja,” kataku.
“Yah, Don. Masa udah balik aja, nongkrong dulu lah kita,” kata Bagus.
“Enggak, aku gak enak badan tiba-tiba,” sebenarnya, ada yang segera ingin kukatakan kepada mereka.
“Eh, duit siapa ini jatuh seratus ribu?” dari jauh, Rendi meneriakkan sesuatu.
Ternyata, ada uang sebesar seratus ribu jatuh tak jauh dari warung itu. Aku dan Bagus yang sudah mendekati mobil Rendi terpaksa berbalik arah dan mendatangi dia.
“Bukan duit kalian?” tanya Rendi.
Aku dan Bagus menggeleng.
“Yaudah, aku kantongin aja deh. Lumayan juga seratus ribu bisa buat makan dua hari,” kata Rendi.
Ada yang tidak beres, pikirku. Kenapa ada uang seratus ribu jatuh dan tukang parkir itu tidak tahu? Lalu aku bergegas mengambil uang di saku Rendi dan membuangnya.
“Apa-apaan kamu Don,” Rendi terlihat marah.
“Aku jelasin di mobil aja,” kataku sambil menarik tangan mereka berdua untuk menuju mobil.
Sesampainya di mobil, mereka langsung mencercaku dengan banyak pertanyaan.
“Jadi, yang dibilang orang-orang itu benar. Cak Makar pakai pesugihan. Awalnya aku gak percaya. Tapi setelah aku lihat sendiri, aku berani bilang kalau itu semua benar,” kataku menjelaskan.
“Pesugihan dari mananya Don? Orang tadi enak banget penyetannya sampai kita ngabisin punya kamu loh, ya kan Ren?” kata Bagus yang disambut anggukan Rendi.
“Aku melihat sendiri Ren, Gus. Tadi ada genderuwo menjilati makanan kita di meja. Makanya aku tadi gak makan karena abis muntah di toilet.
Dan uang tadi itu adalah cara dia mencari tumbal untuk pesugihannya. Makanya aku tidak mau kamu mengambil uang sembarangan itu,” kataku meyakinkan mereka.
Mendengar itu, perut mereka terasa mules dan mual. Terakhir, aku akan membuktikan ke mereka kalau perkataanku benar.
“Ini, ada yang aku bungkus. Kalau ini tidak enak, berarti tidak ada yang diragukan lagi,” kataku.
Kemudian, masing-masing dari kami mencicipi makanan yang aku bungkus tadi. Dan benar, rasanya sangat tidak enak. Hampir seperti nasi dan lauk busuk. Sejak kejadian itu, aku dan kedua sahabatku tidak pernah membeli penyetan di warung itu lagi.
Tulisan ini hanya rekayasa. Kesamaan nama dan tempat kejadian hanyalah kebetulan belaka.
