Bisnis
·
7 November 2020 18:01

Cerita Usaha Melepaskan Perjanjian Iblis akibat Melakukan Pesugihan

Konten ini diproduksi oleh Pesugihan
Cerita Usaha Melepaskan Perjanjian Iblis akibat Melakukan Pesugihan (340138)
Ilustrasi kuntilanak (Foto: Shutterstock)
“Gimana kabarmu Ren?” tanya Ilham.
“Ya, begini-begini saja Ham. Kerja di Jakarta juga tak semudah yang aku bayangkan,” sahutku.
ADVERTISEMENT
Sore itu aku bertemu kawan masa kecilku, Ilham. Sudah dua hari aku pulang kampung lantaran libur panjang Lebaran. Saat aku berjalan di sekitar kampung, aku bertemu dengan Ilham. Kami lalu mengobrol lama tentang masa kecil kami sampai lupa waktu.
“Ren, ayo main ke rumahku. Kita lanjut ngobrol di sana,” ajak Ilham.
“Mantap, ide bagus tuh,” sahutku riang. Sudah lama juga aku tidak berkunjung ke rumah Ilham. Ya, meskipun rumahnya bukan tipe rumah yang bikin kangen. Tapi, kenangan masa kecilku bersamanya di sanalah yang membuat ingin kembali ke rumah itu.
Namun, sesampainya di sana, aku tidak menemukan rumah Ilham yang dulu. Seingatku dulu, rumah Ilham terlampau sederhana. Dia pun terpaksa putus sekolah karena harus membantu ayahnya berjualan di warung makan.
ADVERTISEMENT
Tapi yang kulihat sekarang adalah rumah lantai dua yang benar-benar mewah. Sejak kapan Ilham jadi kaya? Ah, aku tak ingin berpikir macam-macam. Mungkin nanti Ilham akan menceritakannya sendiri kepadaku.
Ilham lalu mempersilakan aku masuk. Di dalam ternyata tak ada siapa-siapa. Mana ayah, ibu, dan kakaknya Lathi? Apa mungkin mereka sedang keluar ya? Atau mungkin ini rumah hasil jerih payah Ilham? Ah, terlalu banyak pertanyaan di kepalaku yang tak bisa kujawab.
“Ren, mau minum apa?” tanya Ilham membuyarkan lamunanku.
“Kopi saja Ham, yang pahit ya,” balasku.
“Seleramu ternyata enggak berubah ya,” jawab Ilham sambil tersenyum lalu pergi mengambilkan minum.
Aku menunggu Ilham dengan duduk di ruang tamu yang punya interior indah. Lampu kristal, sofa empuk, karpet dengan bulu halus, dan guci besar yang kelihatannya mahal ada di ruangan tersebut. Kalau memang iya ini hasil jerih payah Ilham, aku benar-benar kagum dengannya.
ADVERTISEMENT
Meski sangat indah dipandang mata, entah kenapa aku merasa ada sesuatu yang janggal dari rumah ini. Lampu kristal yang menggantung di tengah ruangan memang terang sekali. Tapi aku merasa ada suasana suram di rumah ini.
Bosan menunggu Ilham, aku berkeliling di ruang tamu untuk melihat-lihat. Aku lalu tiba di sebuah guci besar yang diletakkan di ujung tangga menuju lantai dua. Guci tersebut berwarna hitam kelam, cukup mengkilat hingga dapat memantulkan wajahku sendiri.
Beberapa detik aku mengamati guci tersebut, aku dikejutkan oleh sebuah bayangan perempuan dengan mata yang sepenuhnya putih sedang mendekatkan wajahnya di sebelahku.
Sontak, aku langsung menoleh karena takut. Namun, aku tidak menemukan siapa-siapa di belakangku. Di ruangan itu pun ternyata hanya ada aku seorang.
ADVERTISEMENT
“Ada apa Ren? Kok pucet begitu?” tanya Ilham yang datang membawa dua buah cangkir.
“Ah, tidak apa-apa. Kurang kopi kali hehe,” balasku sambil meringis.
Sejak saat itu, aku merasa tidak nyaman di rumah Ilham. Aku lalu permisi ke kamar mandi. Mungkin hari itu adalah hari paling apes bagiku. Pasalnya, aku bertemu lagi dengan sosok yang kulihat tadi saat menuju kamar mandi.
Perempuan itu memakai baju putih panjang dan sedang berdiri di sebelah pintu kamar mandi, seakan sedang menungguku. Matanya putih, rambutnya menjulur panjang sampai kaki, dan dia tersenyum memperlihatkan dua taringnya.
Aku terbirit-birit lari menuju ruang tamu seketika melihat penampakan itu. Anehnya, saat aku sampai di ruang tamu, Rendi tidak kaget melihat aku yang berlarian seperti dikejar setan. Ia justru seperti sudah paham kalau hal ini aka terjadi kepadaku.
ADVERTISEMENT
“Ren, ikut aku,” ajak Ilham untuk keluar rumah.
Ilham lalu mengajakku ke warung yang tak jauh dari rumahnya. Ia lalu bercerita bahwa kejadian yang menimpaku adalah ulah peliharaan ayahnya. Ayah Ilham ternyata menyepakati sebuah perjanjian dengan iblis untuk melakukan pesugihan. Itulah sebabnya dia punya rumah sebesar itu.
Awalnya Ilham tidak mengetahui perbuatan ayahnya. Akan tetapi, semua itu terungkap ketika kakak dan ibunya meninggal akibat dijadikan tumbal oleh ayahnya. Kini, Ilham harus hidup sendirian lantaran ayahnya juga ikut meninggal akibat pesugihan itu.
“Sepertinya hanya tinggal menunggu waktu untuk aku jadi target berikutnya Ren,” katanya dengan nada sedih.
Aku tidak tega melihat keadaan Ilham. Aku lalu sepakat untuk membantunya lepas dari “kutukan” tersebut. Malam itu juga, kami mengunjungi seorang sesepuh desa bernama Mbah Waringin. Setelah menceritakan duduk perkaranya, ia kemudian mau membantu Ilham.
Cerita Usaha Melepaskan Perjanjian Iblis akibat Melakukan Pesugihan (340139)
Ilustrasi hutan (Foto: Pexels)
Setelah itu, kami bertiga kembali menuju rumah Ilham. Di sana, Mbah Waringin melakukan kegiatan klenik dengan menerawang kekuatan peliharaan pesugihan di rumah itu. Beberapa menit kemudian, Mbah Waringin menemui kami yang menunggu di teras rumah.
ADVERTISEMENT
“Makhluk ini sangat kuat. Aku harus membuangnya agar ia tidak mengganggumu lagi,” katanya kepada Ilham.
Mbah Waringin lalu menyuruh kami mencari kendaraan untuk menuju sebuah hutan yang muncul di penglihatannya. Ilham lalu berhasil meminjam sebuah mobil kap dari tetangganya. Tak menunggu waktu lama, kami akhirnya menuju hutan yang dimaksud Mbah Waringin.
Sesampainya di sana, kami disuruh menunggu di mobil oleh Mbah Waringin. Ia lalu keluar mobil dengan membawa sebuah bungkusan sarung yang kami tidak ketahui benda di dalamnya.
Sekitar setengah jam kemudian, Mbah Waringin datang kembali dengan membawa bungkusan kain putih yang sudah kotor dengan tanah. “Cepat nyalakan mobilnya dan kendarai secepat mungkin. Dan jangan sekali-kali kalian melihat spion,” kata Mbah Waringin.
ADVERTISEMENT
Aku lalu cepat-cepat memutar mobil dan menginjak gas secepatnya. Hutan yang gelap itu kini hanya ada suara gas mobil kami yang terdengar ngebut. Tiba-tiba, ada goncangan berasal dari belakang mobil. Seperti tahu siapa itu, Mbah Waringin lalu komat kamit merapal mantra untuk mengusirnya.
Namun, Ilham yang sedang panik itu tak sengaja melihat spion untuk melihat siapa yang sedang mengganggu kami di belakang. Nahas, usaha kami melepaskan perjanjian itu digagalkan sendiri oleh Ilham.
Goncangan itu berhenti pada akhirnya. Mbah Waringin juga sudah tak komat-kamit lagi. Tapi kami harus pulang dengan Ilham yang kini sudah gila akibat tak menuruti kata Mbah Waringin.
Tulisan ini hanya rekayasa. Kesamaan nama dan tempat kejadian hanyalah kebetulan belaka.
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-whitesosmed-facebook-whitesosmed-twitter-whitesosmed-line-white