Kisah Meninggalnya Pelaku Pesugihan Kandang Bubrah yang Syaratkan Renovasi Rumah

Tulisan dari Pesugihan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Slamet berasal dari keluarga yang berada. Keluarganya memiliki bisnis perkebunan di kampung. Bisnis itu sukses besar. Sebagai anak pertama, Slamet pun kebagian untuk meneruskan usaha keluarganya itu.
Tapi dirinya tak mau. Ia tak terlalu menyukai kehidupan desa. Ia memiliki mimpi untuk membuka usaha di Kota. Orang tuanya pun memahami keinginan anak itu. Keduanya membekali modal yang lumayan untuknya membuka usaha di kota.
Slamet pun mempersiapkan segala keperluannya untuk berangkat ke Jakarta. Sebelum berangkat, dirinya berpamitan dengan Damar sahabat karibnya. Damar memang sudah mengetahui kawannya itu memiliki mimpi yang besar.
“Yasudah hati-hati. Kamu mau tinggal di mana disana?”tanya nya.
“Belum tahu, kemungkinan mau cari kosan” jawab Slamet.
“Selama mencari kos, kamu tinggal saja di rumah kawanku, Damar. Dia orang baik, sukanya membantu sesama. Ini alamatnya. Akan ku kabarkan padanya kalau kau akan tinggal di sana. Ini alamatnya” kata Damar sembari mengulurkan kartu nama.
Keduanya berpelukan saling mengucap salam perpisahan. Sepuluh tahun lalu, di usianya yang ke 22 Slamet merantau ke Jakarta. Ia berangkat menggunakan bis malam bersama para penumpang senasib lainnya. Ia pejamkan matanya dengan mimpi besar.
Setibanya di Jakarta, Slamet lantas menuju alamat yang diberikan Joko. Dengan menggunakan ojek, ia tiba di pintu rumah itu. Rumahnya besar dan berada di kompleks ternama. Heran Slamet bagaimana Joko bisa berkawan dengan seorang yang kaya raya seperti itu.
**
Slamet menjelaskan kepada Damar mengenai maksudnya. Dirinya juga menuturkan bahwa tak akan merepotkan Damar.
“Aelah santai aja Met, kamu bisa tinggal selama yang kamu mau. Kamu bisa tinggal di kamar ini. Di situ buat cuci baju, di situ ruang makan. Kalau ke belakang hati-hati ya karena sedang aku renovasi” tuturnya.
Selama tinggal di sana, Slamet memikirkan cara untuk memulai bisnisnya. Sembari memulai bisnis, dirinya mencoba untuk mencari pekerjaan. Tetapi Slamet terus tak diterima.
“Sudah daftar berapa perusahaan?” tanya Damar
“20an sudah ada. Tapi hasilnya nihil” tuturnya
Damar yang merasa iba kepada Slamet kemudian menawarkan bantuannya. Damar menjelaskan bahwa renovasi di belakang rumahnya mengandung makna. Dia menceritakan secara terbuka bahwa dirinya melakukan pesugihan kandang bubrah yang mengharuskan dirinya untuk terus menerus merenovasi rumah.
Slamet mendengarkan seksama. Dirinya terkejut ternyata pria muda dihadapannya adalah pemilik sebuah Mal ternama di Jakarta Utara. Dan ternyata Damar tidak hanya memiliki satu petak rumah renovasi, tetapi ada lima titik rumah yang terus direnovasi untuk memenuhi syarat pesugihan itu. Makin banyak rumah yang direnovasi, makin banyak pula duit yang datang mengalir.
Lantaran menginginkan sukses yang instan, Slamet kemudian mengikuti jejak kawan barunya itu. Berbekal modal yang diberikan orang tua dan tambahan dari Damar, Slamet membeli rumah barunya. Rumah itu terbilang baru. Ada di pinggiran Jakarta.
Semenjak melakukan pesugihan itu, Slamet berani memulai usahanya. Lantaran menyukai otomotif, dirinya membuka bengkel modifikasi mobil. Bengkelnya itu ternyata laris manis. Hanya dengan hitungan bulan, Slamet dapat memperlebar showroomnya. Di tahun ke tiga, bengkel modifikasinya menjadi yang paling top se Jakarta.
Tak puas. Laku pesugihannya masih terus ia lakukan. Ia membeli rumah kedua agar dapat direnovasi. Sudah lebih dari 10 tahun Slamet melakoni laku pesugihan itu. Sampai akhirnya hal nahas terjadi.
Ketika menengok ke proyek renovasinya, Slamet tak sengaja kejatuhan rangka besi. Dirinya dilarikan ke rumah sakit tapi terlambat. Ia pun meninggal di jalan.
Tulisan ini merupakan reka ulang dari kisah yang berkembang di masyarakat. Kesamaan nama dan tempat kejadian hanya kebetulan belaka.
