Kisah Pelaku Pesugihan yang Berakhir menjadi Tumbal Nyi Roro Kidul

Tulisan dari Pesugihan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sudah beberapa hari ini Laras sepi pelanggan. Padahal, bisa dibilang dia adalah wanita paling favorit di motel ini. Namun, titel itu sepertinya sudah direbut oleh anak baru ingusan yang baru saja bergabung dengan motel ini, Siska.
Laras sendiri mengaku kalau Siska punya paras yang terlampau cantik sebagai seorang PSK. Mulut licin Siska yang pandai merayu itu semakin melengkapi kelebihannya. Laras sebal. Bukan hanya anak baru itu terlihat songong, tapi ia hampir mengambil semua pelanggan Laras karena kehadirannya.
Laras tidak terima. Ia harus melakukan sesuatu untuk mengembalikan pelanggan miliknya. Jika tidak, Laras akan selamanya tidak laku. Terlebih jika hal itu berdampak pada biaya sekolah putri semata wayangnya. Laras tidak mau hidup sengsara lagi setelah dicampakkan suaminya tiga tahun yang lalu.
Ia kemudian berniat melakukan pesugihan. Laras paham ini bukanlah cara yang halal mendapatkan kekayaan. Tapi, ia tidak punya pilihan lain. Pada saat itu juga, Laras bergegas menuju pantai selatan yang letaknya tak jauh dari motel tempatnya bekerja untuk bertemu Nyi Roro Kidul.
Benar sekali, Laras akan menemuinya untuk meminta pertolongan. Laras paham kalau susuk kembang kantil dari Nyi Roro Kidul akan memberikannya kecantikan luar biasa, bahkan mengalahkan kecantikan Siska sekalipun.
Dengan begini, semua pelanggan yang datang ke motel itu akan langsung tertuju pada Laras. Tidak diragukan lagi, Laras akan kembali banjir pelanggan. Ia akan menagih tarif mahal saat ia sudah pakai susuk nanti. Wihh, Laras sudah ngiler membayangkan dirinya bergelimang harta.
Tapi itu nanti. Kini, Laras sudah sampai di pantai selatan. Ia harus fokus untuk memanggil Nyi Roro Kidul. Kemudian, Laras duduk bersila di sebuah bongkahan karang yang lumayan besar. Tak lama, ia memejamkan matanya.
Laras lalu merapal mantra-mantra untuk memanggil Nyi Roro Kidul. Suaranya terdengar sangat merdu bak nyanyian sinden kondang. Tiba-tiba, muncul suara hembusan ombak yang kencang. Laras menjadi deg-degan. Mungkin itu adalah Nyi Roro Kidul yang sudah datang.
Namun, ia tidak mau gegabah. Laras tetap menyanyikan mantra itu sampai selesai. Setelah itu, bersamaan dengan selesainya mantra, hembusan ombak itu menjadi tenang dan berganti dengan hembusan angin yang lembut.
Perlahan, Laras membuka matanya. Dan benar dugaannya, di depannya telah muncul sosok ayu Nyi Roro Kidul. Laras benar-benar terpukau atas kecantikannya. Ia memakai baju khas jawa lengkap dengan selendang hijaunya. Nyi Roro Kidul juga terlihat anggun dengan kereta kencana yang dinaikinya.
“Ada perlu apa kau memanggilku?” tanya Nyi Roro Kidul dengan suara bergema.
Laras buru-buru bersujud. Ia merasa telah berbuat salah.
“Maafkan saya telah lancang memanggil Nyai. Tapi, saya ke sini untuk meminta pertolongan,” Laras terbata-bata menjawab Nyi Roro Kidul sambil bersujud di depannya.
“Katakan apa yang kau inginkan,” katanya.
Laras kemudian mendongakkan kepalanya. Sambil menelungkupkan kedua tangannya, ia memohon kepada Nyi Roro Kidul.
“Saya mohon untuk diberikan susuk kantil Nyai. Saya sedang sepi pelanggan sekarang. Sedangkan saya harus menghidupi saya dan anak saya satu-satunya,” kata Laras memelas.
“Baiklah, aku akan menuruti permintaanmu. Ambil kembang kantil yang ada di balik karang itu dan makanlah kembang itu sebelum berangkat ke motel,” kata Nyi Roro Kidul.
“Baik Nyai, terima kasih banyak,” Laras bersujud kembali di hadapan Nyi Roro Kidul.
“Tapi, kau harus siap aku panggil kapan saja sebagai tanda terima kasih kepadaku,” imbuhnya.
Laras yang tidak sepenuhnya mengerti perkataan tersebut segera mengangguk. Kemudian, Nyi Roro Kidul mengangkat tangan dan menunjuk di balik karang itu. Laras langsung turun dari posisinya dan mendatangi tempat yang ditunjuk Nyai tadi.
Benar saja, di situ sudah ada kembang kantil yang dikatakan Nyi Roro Kidul. Namun, saat ingin mengatakan terima kasih, Laras sudah tidak melihat lagi sosok cantik itu.
---
Setelah pertemuannya dengan Nyi Roro Kidul, hidup Laras jadi semakin sejahtera. Hampir semua pelanggan mengantri untuk menikmati pelayanannya. Bahkan, berkat susuk kantil yang dipakai Laras, motel tempatnya bekerja menjadi sangat ramai, terlebih saat akhir pekan.
Namun, kejayaan Laras ternyata tidak bertahan lama. Pada suatu sore, ia bertemu pelanggan aneh yang mengubah total kehidupan Laras. Pelanggan itu bernama Soni. Pada mulanya, ia terlihat biasa saja.
Tapi, lama-kelamaan, Soni terlihat aneh. Apalagi ketika ia menemui Laras di kamar yang jadi tempat biasa Laras menunggu pelanggannya. Begini-begini, Laras juga pernah nonton film. Tatapan mata Soni saat itu terlihat menakutkan, hampir mirip seperti psikopat yang digambarkan di film-film.
Namun, Laras harus tetap profesional. Sebenarnya bisa saja dia mendepak pria itu keluar kamar karena sekarang dia sudah menjadi ratu motel ini. Tapi sayangnya ia tak mau kehilangan pemasukan sepeserpun. Akhirnya, meski ragu, Laras tetap melayani pria itu.
Tiba-tiba, Soni mengatakan sesuatu yang mengejutkan setelah mereka selesai melakukan sesi.
“Laras, aku cinta mati kepadamu. Ayo kita menikah,” kata Soni memegang tangan Laras dengan tatapan aneh.
Laras langsung menampik tangan Soni. Memangnya siapa dia? Laras kemudian berpikir kalau ini mungkin efek samping dari susuk yang dipakai itu.
“Kalau kau tidak mau menikah denganku, aku akan membunuhmu!” teriak Soni.
Perasaan Laras benar. Ada yang tidak beres dengan pria ini. Perkataan itu cukup membuat Laras takut. Tapi tidak, pria itu tidak mungkin membunuhnya di sini. Akan ada banyak saksi yang bisa menjebloskannya ke penjara.
“Coba saja bunuh aku, banyak orang di motel ini yang bisa menjadi saksi pem-”
Belum selesai Laras dengan kalimatnya, tiba-tiba perutnya ditusuk dengan pisau belati. Pria itu benar-benar membunuhnya. Seketika, darah segar keluar dari perut Laras. Ia belum pernah merasa kesakitan yang luar biasa seperti ini.
Laras perlahan kehilangan kesadarannya. Kemudian, pria itu menaruh tubuh Laras di pundak dan membawanya keluar kamar. Laras yang lemah dan tak bisa menggerakkan badannya itu tak bisa melawan.
Namun, ia samar-samar masih dapat melihat keadaan sekitar. Ternyata, di motel itu tidak ada siapa-siapa. Ke mana pemilik motel dan teman-temannya? Belum selesai terjawab pertanyaan itu, Laras tiba-tiba mencium bau khas air laut.
Pria itu ternyata membawanya ke pantai selatan. Kemudian, pria itu berjalan menuju laut dan menaruh jasad Laras di atas ombak.
“Kamu sudah dipanggil oleh Nyi Roro Kidul,” kata pria itu.
Dari kejauhan, Nyi Roro Kidul tersenyum pulas melihat tumbalnya sudah datang.
Tulisan ini hanya rekayasa. Kesamaan nama dan tempat kejadian hanyalah kebetulan belaka.
