Konten dari Pengguna

Kisah Pesugihan: Bertapa di Air Terjun Demi Harta, Berakhir Mengenaskan

Pesugihan

Pesugihan

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Pesugihan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi air terjun (Foto: Kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi air terjun (Foto: Kumparan)

Jika ada pepatah mengatakan "Lebih besar pasak daripada tiang," maka begitulah keadaan Sumarno. Gara-gara kawin-cerai dengan banyak wanita, dirinya kini menjadi "buronan" bank dan rentenir.

Utangnya Marno kalau ditotal bisa-bisa beli 3-5 mobil Fortuner baru. Sawah, lahan, hingga rumah, telah ludes dijual demi menutupi utang. Marno sudah kehabisan segalanya kecuali tubuh dan pakaian yang menempel.

Mantan-mantan istrinya pergi jauh-jauh sekaligus memboyong anak-anak mereka. Semuanya menaruh dendam kepada sosok Sumarno yang suka menipu dan menjanjikan kekayaan tiap kali ia menikah.

Mantan istrinya ada 12 orang. Sumarno bergiliran menikahi mereka dengan niat main-main. Ia tak pernah serius menjalani satupun pernikahan. Anak-anaknya, jika tak benar-benar dilindungi oleh ibunya, bisa jadi akan terlantar.

Kali ini ialah yang harus menanggung karma. Gara-gara nafsunya menikahi banyak wanita, ia kehabisan harta. Semua harta kekayaannya raib demi pesta perkawinan dan membelikan rumah bagi setiap istri barunya.

Sumarno sudah hampir berkali-kali mencoba bunuh diri. Ia sudah kehabisan akal sehat. Ke mana lagi ia harus pergi. Kedua orang tua pun sudah tiada. Berlindung ke rumah saudara, terlalu gengsi bagi Sumarno.

Biarpun kini ia sudah bangkrut, gengsinya yang besar masih ia rawat baik-baik. Maka dari itu, ia pergi menjauh dari kampungnya agar tak ada satupun yang ia kenal melihatnya menggelandang di jalanan.

"Kalau si lurah lihat, bisa habis aku ia cemooh."

"Duh, ada Mas Rudi tetanggaku tidak, ya? Aku akan sangat malu bertemu dengannya."

"Lebih baik aku lapar daripada harus meminta bantuan kepada mereka."

Kurang lebih begitu isi pikiran Marno kalau ia sedang bicara sendiri. Marno tidak gila, ia hanya kesepian. Ia menggelandang pun memang karena bangkrut. Otaknya masih sehat.

Hanya saja, akibat pakaian yang lusuh, tubuh yang dekil, dan kerap kedapatan berbicara sendiri, masyarakat sekitar selalu menganggap Marno adalah orang gila.

***

"Datanglah Marno ke tempatku. Berkunjunglah ke Curug Cinay. Aku ada di sana. Akan ku berikan harta karunku padamu."

Sumarno bangun tersentak pada suatu malam. Ia mendengar orang berbicara keras di dalam mimpinya. Suasana saat itu amat gelap. Ia tidur di lapangan alun-alun kota. Marno yakin, suara itu tak cuma berasal dari alam mimpi.

"Aku yakin itu nyata. Akan ku datangi si pemilik suara itu ke Curug Cinay."

***

Awan mendung begitu gelap siang ini. Jelas, hujan akan turun begitu lebat sekitar sore hari nanti. Sedikit-sedikit, hanya ada gerimis yang datang dan pergi. Tak ada yang tahu hari itu akan datang hujan atau tidak.

Warga sekitar buru-buru kembali ke rumah antisipasi hujan tiba. Namun, hal itu tak berlaku dengan Sumarno. Meski gerimis sesekali datang, ia tetap berjalan mendatangi Curug Cinay.

Ilustrasi awan mendung (Foto: Kumparan)

"Ini tandanya suara dalam mimpi itu adalah nyata," kata Sumarno menebak-nebak penyebab turunnya hujan.

Dengan hanya menaiki angkutan kota dan membayar dua ribu perak, lalu dilanjutkan dengan sewa ojek pangkalan yang tarifnya hanya 10.000, Marno pasti akan tiba di air terjun yang dimaksud pria misterius di dalam mimpinya.

Namun, Marno tak punya uang sama sekali. Boro-boro angkot dan ojek, untuk membeli permen saja ia tak ada. Akhirnya, Marno berjalan kaki sebegitu jauhnya demi harta karun orang yang hadir dalam mimpinya semalam.

***

Sumarno duduk bertelanjang dada di bawah kucuran air terjun Curug Cinay. Kala para pengunjung lainnya buru-buru pulang karena takut hujan, Marno justru membuka bajunya dan berendam di air terjun tersebut.

"Pak ini sudah mau hujan. Bahaya. Ayo pulang saja," teriak salah satu pedagang di sana.

Namun, karena begitu derasnya suara air terjun, ditambah betapa khidmatnya Sumarno bertapa, ia tak mendengar suara si pedagang. Ia lanjutkan pertapaannya kala hujan sudah mulai turun.

Beberapa menit berselang, hujan benar-benar turun begitu lebat. Volume air terjun seketika meningkat. Namun, Marno tetap tak bergeming. Demi harta karun di alam mimpinya, ia tetap duduk bersila dengan khidmat.

Hingga akhirnya,

"Awas ca'ah (arus deras mendadak)! Awas ca'ah!"

Orang-orang berteriak meneriaki Marno yang masih diam saja di bawah air terjun. Tiba-tiba, arus deras yang begitu besar yang membawa ribuan batu sungai berukuran lemari, menimpa Marno yang bertapa di bawahnya.

"Astaghfirullah. Astaghfirullah," seketika para pedagang di pusat wisata Curug Cinay itu berteriak dan membaca istighfar. Marno tewas tertimpa bumi.

Cerita ini hanya fiktif belaka. Kesamaan nama tokoh dan latar hanyalah kebetulan.