Konten dari Pengguna

Kisah Pesugihan Genderuwo: Kakakku Nyaris Jadi Tumbal Suaminya

Pesugihan

Pesugihan

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Pesugihan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi genderuwo (Foto: Historia)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi genderuwo (Foto: Historia)

“Selamat ya Kak! Akhirnya keinginan kamu menikah sudah terwujud. Semoga bisa langgeng sampai kakek nenek ya!” ujarku bahagia sambil memeluk kakak perempuanku. Di kamar itu, aku menemani dirinya yang baru saja selesai didandani.

Hari ini adalah pernikahan kakakku. Ia terlihat cantik memakai gaun pengantin serba putih. Aku yakin, hatinya saat ini sangat berbunga-bunga tatkala duduk di pelaminan bersama suaminya.

Bang Soni juga orang yang baik setahuku. Terlebih, dia adalah pengusaha sukses yang memiliki pabrik elektronik. Selain itu, kekhawatiranku menjadi nihil ketika dia melamar kakak dengan langsung mendatangi ayah dan ibu di rumah.

Pernikahan itu berjalan meriah. Semua tamu undangan tak henti-hentinya memberi selamat kepada kakakku dan suaminya. Lagu-lagu cinta terus dikumandangkan. Aku melihat wajah bahagia kakak dan orang tuaku di pelaminan dari kejauhan.

Namun, kebahagiaan itu seakan runtuh begitu saja. Kemegahan pesta pernikahan hingga doa-doa yang menyertai kebahagiaannya hilang ditelan bumi. Kakakku tiba-tiba saja bertingkah aneh.

Beberapa bulan setelah pernikahan berlangsung, kakakku kena demam. Tapi, demam itu tak kunjung sembuh. Ia bahkan sampai mengigau yang tidak-tidak. Pernah suatu hari, ia seperti kesurupan setan dan mengobrak-abrik kamarnya.

Keluargaku sudah membawanya ke rumah sakit manapun. Tapi, sampai sekarang pun, tidak ada dokter yang bisa mendeteksi penyakit yang dideritanya. Karena putus asa, kami pun memanggil tokoh agama untuk menghilangkan apapun yang sedang mengganggu kakakku itu.

Tapi, mereka juga tak mampu melawan kekuatan yang ada di tubuh kakakku. Bahkan, banyak dari mereka yang justru diganggu dengan kekuatan itu. Ada yang diikuti setiap berjalan di malam hari. Ada pula yang jatuh sakit gara-gara mencoba memberikan kakak pertolongan.

Kami kelimpungan, sudah tidak tahu bagaimana cara menyembuhkan kakakku. Terlebih, kakak kini sedang hamil tua. Kami khawatir, keadaan kakak yang kambuh-kambuhan itu mempengaruhi janinnya nanti.

Sampai suatu hari, ada seorang nenek tua renta yang berkunjung ke rumah kami. Katanya, ia mendengar kabar seorang perempuan yang punya penyakit aneh. Nenek itu kemudian kami tuntun ke kamar kakak.

Setelah melihat kondisi kakakku, nenek itu perlahan merapal mantra. Suaranya merdu sekali. Mantra yang terdengar seperti lantunan ayat suci itu menyejukkan hati siapapun yang mendengarnya.

Kemudian, nenek menyuruh aku dan orang tuaku untuk memegangi kakakku.

“Apa yang kamu mau?” tanya nenek itu.

“Hhhhrrrrrrrauu!” kakakku tiba-tiba meraung. Kemudian, ia menunjuk ke arah perutnya sendiri sambil melototi nenek itu.

“Siapa yang mengutusmu ke tubuh ini?” tanya nenek itu lagi.

“Tuan Budiman hahahah,” jawab kakakku disertai tawanya yang keras.

Kemudian, nenek itu menyuruh kami melepaskan kakak. Seakan terlepas dari mantra itu, kakak kemudian kembali tenang. Kami menuntunnya untuk rebahan di kasurnya. Setelah selesai mengurus kakak, kami keluar kamar untuk menanyakan beberapa hal kepada nenek itu.

“Jadi, apa yang terjadi sama anak saya nek?” tanya ibuku.

“Ternyata, dia sedang dirasuki oleh genderuwo yang sengaja dikirim oleh seseorang. Dengan begitu, ia akan diganggu sampai meninggal. Selanjutnya, ia akan dijadikan tumbal pesugihan,” jelas nenek.

Seketika kami lemas mendengar hal tersebut. “Maksud nenek, kakak saya dijadikan tumbal untuk pesugihan yang dilakukan seseorang begitu? Siapa orang itu nek?” tanyaku panik.

“Orang dekat,” jawab nenek singkat.

Kami bertukar pandangan. Setahuku, tidak ada dari keluarga kami yang menyimpan rahasia hitam seperti itu. Hampir semua keluarga kami mencari penghasilan dari pekerjaan halal.

“Suaminya,” nenek melanjutkan.

Mendengar itu, sontak kami tidak percaya. Kami mengira dia adalah orang baik selama ini. Betapa terkejutnya kami saat mengetahui ia rela mengorbankan istrinya sendiri demi pesugihan yang dijalaninya. Kami juga baru sadar kalau Budiman adalah nama terakhir Bang Soni.

“Dia tidak hanya ingin mengambil nyawa istrinya, tetapi juga janin yang ada dalam kandungan anakmu. Makanya, dia menunjuk perutnya saat aku tanyai.

Ilustrasi gentong air (Foto: ideaonline.com)

Satu-satunya cara adalah mengambil segelas air yang digunakan suami anakmu untuk pesugihan. Berikan itu kepada anakmu. Niscaya, ia akan kembali seperti semula,” nenek melanjutkan, memberi nasihat.

---

Tugas mencari air pesugihan itu jatuh kepadaku. Kata nenek, aku harus datang ke pabrik tempat Bang Soni bekerja dan mencari gentong di ruangan yang “dilarang”. Kami juga tidak memberi Bang Soni atas kehadiran nenek sore itu.

Kami sengaja, karena setelah kami menyembuhkan kakak, kami akan langsung menendang keluar dia dari keluarga kami. Tapi sebelum itu, aku harus mengambil air pesugihan dan berpura-pura ingin bermain ke pabrik Bang Soni.

“Tadaa, ini ruangan Abang. Bagus bukan? Kamu besok juga harus jadi orang sukses kayak Abang gini ya, biar bisa bikin bangga orang tua kamu,” kata Bang Soni memperlihatkan isi ruangannya.

Mendengar perkataannya itu, aku hanya mengutuk dalam hati. “Halah, uang hasil pesugihan saja bangga,” kataku dalam hati.

“Oh ya, jangan masuk ke ruangan yang pintunya merah ya. Itu gudang kantor yang belum dibersihkan berminggu-minggu. Abang lagi susah cari cleaning service,” katanya.

Tidak salah lagi, itu adalah ruangan “dilarang” seperti kata nenek. Setelah Bang Soni meninggalkanku sendirian di ruangan itu, aku langsung menuju tempat itu. Aku membuka pintu itu dan tepat di tengahnya, ada sebuah gentong air yang besar berisi banyak kembang.

Aku mengeluarkan botol dari tas yang kubawa untuk mengambil air itu. Setelah itu, aku bergegas pulang untuk memberikannya kepada kakak. Singkatnya, kami berhasil menyembuhkan kakak. Ia jadi normal kembali. Janinnya pun selamat.

Bang Soni sudah tidak kami berikan kesempatan. Ia kami depak keluar dari rumah. Kami juga mendengar usahanya tiba-tiba bangkrut tak lama setelah kakakku sembuh. Itu karena ia gagal menjadikan kakakku sebagai tumbal pesugihannya.

Tulisan ini hanya rekayasa. Kesamaan nama dan tempat hanyalah kebetulan belaka.