Konten dari Pengguna

Kisah Pesugihan: Kelilingi Patung Semar Agar Datangkan Rejeki

Pesugihan

Pesugihan

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Pesugihan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi patung Semar (Foto: Pixabay)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi patung Semar (Foto: Pixabay)

Suatu ketika, Nasrulloh melamunkan dirinya berangkat haji ke kota Mekah. Nasrulloh memang sangat memimpikan dirinya dapat naik haji meskipun bukan dari kalangan ekonomi kelas atas.

Nasrulloh sudah yatim piatu sejak usia tujuh tahun. Ia ditinggal ayahnya pada usia 11 bulan karena komplikasi, dan ditinggal ibunya karena serangan jantung.

Ia dijaga bibinya hingga dewasa dan dapat menuntaskan gelar S1 nya dengan susah payah. Kini ia jadi guru di sebuah madrasah aliyah di kotanya. Daripada menikah, Nasrulloh lebih memimpikan kota suci.

Meski kerap mengangankan kabah, Nasrulloh masih cukup waras untuk melaksanakan kegiatannya yang biasa. Ia berangkat mengajar pada pagi hari, pulang pukul 15.00, dan lanjut mengajari anak-anak di kampungnya mengaji setelah maghrib.

Ia belum punya calon istri. Meski banyak wali muridnya yang mencalonkan dirinya dengan kakak dari sang murid, Nasrulloh tak bergeming. Ia ingin naik haji dulu, baru memikirkan soal pernikahan.

Padahal, pamannya yang juga seorang kyai kampung itu kerap menasihati Nasrulloh untuk tidak terlalu tergila-gila mencintai kota suci. Utamakan ibadah yang bisa dilakukan dahulu sebelum yang lainnya. Begitu kata sang paman.

Namun, Nasrulloh seperti tak mau dengar. Ia tetap memimpikan kota suci. Baginya, naik haji yang wajib jelas lebih utama daripada menikah yang sunnah. Pemikiran yang keliru, kalau kata pamannya.

Ia menabung sedikit demi sedikit untuk mewujudkan mimpinya. Nasrulloh menyisihkan honornya dari menjadi guru honorer yang tak seberapa itu. Untuk tambah-tambah, ia juga terkadang menjual makanan di sekolah.

Semua usaha ia lakukan asalkan mimpinya dapat terwujud. Nasrulloh memang tidak main-main. Jumlah uang dalam rekeningnya sudah menyentuh angka dua digit, tepatnya Rp18 juta sekian.

Maklum, ia sudah mulai menabung sejak tujuh tahun yang lalu ia mulai mengajar. Nasrulloh memang bertekad besar untuk berangkat ke Tanah Suci.

Suatu hari, ia bermimpi aneh. Dalam mimpinya, ia berjalan di sebuah tanah lapang yang tak tampak ujungnya. Tanah lapang itu begitu luas sehingga tak bisa dilihat di mana ujungnya.

Di atasnya hanya ada rerumputan dan tanah merah. Tak ada hewan apapun, dan tak ada air. Nasrulloh berjalan mencari ke mana akhir dari tanah kosong nan luas itu.

Ia mencari seseorang yang dapat ditemui dan dimintai bantuan. Atau, setidaknya ia menemukan sumber air yang dapat dijadikannya tempat minum. Tiba-tiba, ada seseorang yang menepuk pundaknya entah dari mana ia datang.

Orang misterius itu adalah seorang pria. Tubuhnya kekar, memakai jubah putih yang menutupi seluruh badannya. Ia bertanya kepada Nasrulloh.

"Apa yang sedang kau cari?" kata seseorang tersebut.

Pertanyaan yang jelas-jelas membuat Nasrulloh kebingungan. Apa yang ia cari? Nasrulloh sendiri saja tak tahu mengapa ia ada di sana. Ia menggelengkan kepala.

"Apa yang kamu mau?" kata pria misterius itu.

Nasrulloh terdiam sebentar, memikirkan apa yang inginkan. Tak lama, ia mengingat, bahwa ia sangat merindukan kota suci. Ia ingin berangkat ke sana melaksanakan ibadah haji.

"Aku ingin menjadi haji," kata Nasrulloh.

Mendengar jawaban Nasrulloh, pria misterius itu mengatakan sesuatu yang tidak masuk akal. Katanya, Nasrulloh tak perlu pergi ke Mekkah untuk menjadi haji. Nasrulloh hanya perlu mengelilingi patung Semar sebanyak tujuh kali.

"Siapapun yang melakukan amalan itu, maka ia akan mendapat ganjaran setara haji, dan akan mendapatkan rejeki yang melimpah," kata pria misterius itu.

Nasrulloh bukan tertarik dengan gelar haji semata, ia benar-benar ingin bertatap muka dengan titik kiblatnya selama ini. Ia juga ingin berziarah ke tempat kelahiran Nabi.

Namun, sang pria misterius menjawab, bahwa lakukan saja amalan untuk mengelilingi patung Semar agar dapat rejeki. Ketika uangnya sudah terkumpul, maka pakailah untuk berangkat haji.

Nasrulloh tertarik. Ia lalu bangun dari mimpinya yang aneh itu. Ia memikirkan dari mana ia harus mendapatkan patung Semar seperti yang dikatakan dalam mimpinya.

Tak butuh waktu lama, keesokan harinya ia sudah membawa patung Semar setinggi lutut orang dewasa ke rumah bibinya. Ia menyembunyikan patung tersebut di dalam kamarnya.

Setiap hari ia lakukan amalan mengelilingi patung Semar. Benar saja, keuangan Nasrulloh menanjak. Ia tiba-tiba punya banyak uang entah kenapa.

Uang tersebut asalnya dari mana saja. Tiba-tiba ia mendapatkan kenaikan gaji di sekolahnya, atau dagangannya yang selalu laku meskipun ia menaikkan kapasitasnya. Ia juga selalu mendapatkan panggilan ceramah di mana-mana.

Nasrulloh berpikir, semua ini karena si patung Semar. Semakin banyak uang, semakin membaiklah penampilan Nasrulloh. Ia mengontrak rumah sendiri, berpisah dari bibinya. Bahkan, ia kini sedang mengambil kredit mobil.

Pakaiannya pun menjadi bagus. Semuanya selalu bermerek. Segalanya mahal. Nasrulloh benar-benar telah berubah. Ia kini jadi sosok orang yang kaya.

Ada satu hal yang ia lupakan, yakni cita-cita awalnya untuk berangkat ke Tanah Suci. Ia malah terbuai dengan keuangannya yang menanjak. Ia membeli kreditan dua mobil.

Ia juga malah kerap menghambur-hamburkan uangnya dengan membeli jam tangan mewah, sepatu mewah, dan gadget-gadget yang sangat mahal.

Kata pamannya, uang bisa memberikan kita apapun yang kita mau, sekaligus merenggut apapun yang kita mau.