Kisah Pesugihan: Matikan Usaha Soto Tetangga dengan Kepala Kambing

Tulisan dari Pesugihan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Seperti biasa, Bi Asih sudah bangun sejak dini hari. Ia mempersiapkan semua bahan untuk berdagang soto pada pagi hari. Biasanya, para karyawan pabrik atau anak sekolah akan membeli soto Bi Asih.
Dibantu ponakannya yang biasa dipanggil Si Nona, Bi Asih melakukan semua persiapan. Mulai dari memotong-motong bawang, menggoreng kerupuk tempe, menyiapkan kuah, hingga mengelap-elap piring.
Semua persiapan itu rutin dilakukan sejak pukul 04.00 WIB. Hal itu agar pada pukul 06.00 WIB, dagangan soto Bi Asih telah siap untuk dijajakan kepada para pembeli.
Menariknya, Bi Asih tak hanya menjual soto. Ia juga menjual rokok dan aneka minuman. Dua jenis dagangan itulah yang lumayan menarik perhatian pembeli.
Warung soto Bi Asih tak terlalu besar. Ukurannya tiga meter persegi saja. Dindingnya campuran antara semen dan triplek. Atapnya dibuat dari asbes yang jika sudah masuk tengah hari, suhu di dalam warung akan menjadi panas tak ubahnya sauna di Korea.
Meski demikian sederhana, warungnya selalu laris sebelum jam menunjukkan pukul 10.00 WIB. Jika sudah habis, Bi Asih akan menutup warungnya dan membereskan semuanya bersama Si Nona.
Karena dagangannya itulah, Bi Asih berhasil menyekolahkan kedua anak lelakinya yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Kedua anaknya hanya terpaut satu tahun. Si Doni kelas 4 SD dan adiknya si Deden kelas 3 SD.
Sejak suaminya meninggal tahun lalu, Bi Asih harus berjuang sendirian. Untung saja ada Si Nona yang baru lulus SMA. Lumayan, bisa bantu-bantu hingga ia menemukan pekerjaan atau mungkin saja melanjutkan kuliah kalau ada rezeki.
Biasanya, Bi Asih bekerja bersama suaminya berdagang soto. Kalau malam tiba, warungnya akan berubah menjadi warung nasi goreng. Keduanya sama-sama laris dan jadi primadona tersendiri.
Sang suami, Kardi, memang pandai memasak. Maka, tak ayal jika masakannya berhasil masuk dan dicintai lidah para pembeli. Sayang, sebelum meninggal, sang suami belum sempat mengajarkan cara memasak nasi goreng dengan cita rasa miliknya kepada Bi Asih.
Satu-satunya warisan yang diberikan Kardi kepada Bi Asih hanyalah resep soto. Sempat sebulan Bi Asih mencoba melanjutkan warung malamnya. Namun, rasa tetaplah rasa. Bi Asih belum menguasai betul teknik memasak suaminya.
Alhasil, kini ia hanya mengandalkan warung paginya untuk berjualan soto saja. Jika malam, karena tak ada lagi nasi goreng, Bi Asih memanfaatkannya untuk beristirahat atau sekadar me time dengan kedua putranya.
*
Selama setahun berjalan sepeninggalan Kardi, warung soto Bi Asih tetap laris tak ada perubahan. Namun, pada suatu pagi, tak ada satupun orang yang mampir ke warung soto Bi Asih. Warungnya sepi bahkan hingga zuhur tiba.
Hari itu Bi Asih terpaksa menutup warungnya meski dagangannya masih banyak. Ia tetap ingin menjaga kualitas dagangannya. Bi Asih tak mau menjual makanan anyep dan dingin kepada pembeli. Akhirnya ia tetap tutup.
Awalnya Bi Asih tak merasa aneh. Namanya juga bisnis, kadang naik dan turun. Begitu pikir Bi Asih. Esok harinya ia dan Si Nona kembali melakukan persiapan seperti biasa.
Usai salat subuh, semua bahan dijajakan. Warung dibuka, dan mereka siap menunggu pembeli datang. Kejadian kemarin pun terulang. Tak ada satupun orang yang datang ke warungnya.
Kali ini Bi Asih tetap membuka warungnya hingga maghrib menjelang. Benar-benar tak ada satupun orang yang mampir ke warung soto Bi Asih. Lagi-lagi Bi Asih menutup warungnya tanpa satupun pembeli datang.
Kejadian itu terus berulang hingga seminggu lamanya. Bi Asih yang sudah mulai tercekik karena keuangannya mulai menipis akhirnya gelisah. Ia bertanya kepada Si Nona apa yang sebenarnya terjadi. Si Nona jelas tak tahu apapun.
Namun, Si Nona punya firasat, kalau-kalau ada orang yang mengguna-guna warung Bi Asih. Karena kepepet, Bi Asih mempercayai Si Nona. Buru-buru ia menemui orang pintar untuk menanyakan kebenarannya.
Esok pagi, Bi Asih tak dagang. Ia dan Si Nona sengaja meliburkan diri karena hendak pergi ke salah satu orang pintar terkenal. Jarak yang harus ditempuh untuk pergi ke rumah sang orang pintar sekitar 12 kilometer. Lumayan jauh.
Singkat cerita, mereka bertemu dengan sang orang pintar. Bi Asih kemudian menceritakan apa yang belakangan terjadi kepada warung sotonya. Sekejap sang dukun memejamkan mata sambil merapal.
Setelah selesai melakukan ritual, sang dukun mengatakan kepada Bi Asih bahwa warungnya telah diguna-guna. Atau, lebih tepatnya ada pesaingnya yang menggunakan pesugihan agar warung lain tidak laku.
Sontak Bi Asih pun kaget. Ternyata selama ini warungnya telah diguna-guna. Ia kemudian bertanya kepada sang dukun, apa yang harus dilakukannya agar guna-guna tersebut lepas.
Sang dukun memberi jawaban yang cukup mencengangkan. Katanya, Bi Asih harus menyiram warungnya dengan air kencing dari seorang anak perjaka. Hal itu agar dedemit yang mendiami warungnya pergi.
Bi Asih pun menyanggupinya. Setelah membayar mahar, Bi Asih pulang dengan semangat. Sesampainya di rumah, Bi Asih menyuruh Doni untuk kencing dan meminta air kencingnya.
Maghrib belum tiba, Bi Asih pergi ke warungnya ditemani Si Nona dan menyiramkan air kencing Doni ke seluruh sudut warungnya. Tak ada satupun yang terlewat. Jika kehabisan, Bi Asih akan meminta lagi air kencing kepada putranya.
Setelah semua tersiram, tiba-tiba bau busuk tercium di salah satu sudut warung. Jantung Bi Asih dan Si Nona seketika berdegup kencang. Dengan terpaksa berani, mereka menghampiri sudut tersebut.
Betapa kagetnya mereka melihat ada kepala kambing yang dibalut kain hitam di warung mereka. Darah kering tampak di setiap sudut warung. Kepala kambing itu jelas telah disimpan di sana sejak lama.
Meski takut, Bi Asih dan Si Nona tetap membersihkan darah kering yang berceceran di lantai warung. Kepala kambing yang dibalut kain itu pun mereka buang ke sungai.
Hari itu cukup mencekam. Mereka istirahat dengan sisa rasa takut usai melihat kejadian di warung beberapa waktu lalu.
*
Pagi menjelang. Bi Asih dan Si Nona sudah ada di warungnya siap menjajakan dagangan. Satu per satu pembeli datang dan membeli soto seperti hari-hari biasanya.
Bi Asih sangat senang karena warungnya telah kembali seperti semula. Para karyawan pabrik dan anak-anak sekolah pun berdatangan menghabiskan soto Bi Asih.
Di tengah-tengah sukacita yang sedang dirasakan Bi Asih, tiba-tiba salah seorang pelanggan bertanya.
"Ke mana saja, Bi? Kok warungnya tutup terus sebulan ini?"
"Iya betul. Saya mampir terus ke sini, tapi selalu tutup. Memang Bibi pergi ke mana?" kata yang lain menimpali.
Dan begitu seterusnya pertanyaan dari para pelanggan membombardir Bi Asih. Mereka sama-sama menanyakan kenapa warung Bi Asih tutup selama satu bulan ke belakang.
Tulisan ini hanya rekayasa. Kesamaan tempat dan kejadian hanyalah kebetulan belaka.
