Konten dari Pengguna

Kisah Pesugihan yang Gagal Tumbalkan Orang Dekat Berujung Gila

Pesugihan

Pesugihan

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Pesugihan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi tumbal (Foto: Pixabay)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi tumbal (Foto: Pixabay)

Masduki sudah kehabisan akal karena utang yang terlampau menumpuk. Pinjamannya di mana-mana. Mulai dari rentenir, tetangganya, saudara, bahkan kakeknya sendiri.

Kalau mau dikira-kira, utang Masduki sudah setara dengan harga dua rumah mewah pejabat. Dan konyolnya, utang terbesar Masduki adalah kepada kakeknya sendiri.

Kira-kira, hampir 70 persen atau mungkin 80 persen harta kakeknya ia peras dengan dalih utang. Semua paman-pamannya sudah memperingati Masduki agar tak terus memeras kakeknya sendiri.

Namun, gayung tak bersambut. Masduki tak mendengarkan peringatan paman-pamannya sama sekali. Ia justru semakin menggila. Tak hanya uang, benda pun turut diperasnya.

Kendaraan, emas perkawinan kakeknya, benda-benda kuno koleksi kakeknya, dan hampir saja akta tanah lepas karena digadaikan. Untuk urusan akta tanah, untung saja ada keluarganya yang menahan.

Kalau sampai tak ditahan, bisa-bisa kakeknya menggelandang karena rumahnya diambil pihak pegadaian. Jika itu sampai terjadi, bukan tidak mungkin jika ia dilaporkan ke polisi karena itu.

"Bocah sialan itu sudah menguras habis harta Abah. Habis semua ia gunakan untuk judi online. Haduh, betapa kesalnya aku."

"Sudah ku bilang, beri dia pekerjaan. Anak si Karwi itu hanya butuh pekerjaan. Kau itu anak tertua Abah yang paling sukses, harusnya kau bisa beri lapangan untuk si Masduki."

"Apanya yang pekerjaan? Dia sudah ku berikan banyak peluang. Namun apa? Hasilnya malah bosnya ia tipu habis."

"Memang bocah kentir. Apa sih yang ia inginkan? Sudah kita beri segalanya, tapi ia tak pernah mau bersyukur. Dasar sial!"

***

"Aku mau utang-utangku lunas, Ki. Bagaimana bisa aku kaya dengan cara cepat. Ku dengar Aki adalah pakar dalam hal itu."

"Gampang saja. Aku akan memberikanmu semua caranya asal kau mau mengikuti dan memberikan maharnya."

"Itu urusan gampang, Ki. Aku sudah ada maharnya. Lalu, apakah itu saja syarat-syaratnya?"

"Ada syarat terakhir yang harus kau ikuti. Ini agak berat, tetapi penting. Jika syarat ini tak kau penuhi, maka kau akan gagal. Pesugihan mu tak akan membuahkan hasil apapun."

"Apa itu, Ki? Akan aku sanggupi."

"Kau harus tumbalkan orang yang sangat dekat denganmu."

***

Instruksi terakhir Ki Dawuh menjadi alasan mengapa Masduki berniat menumbalkan kakeknya sendiri. Ia merasa, selain nantinya akan dapat harta banyak, utang terhadap kakeknya pun akan lunas.

Ilustrasi utang (Foto: Pixabay)

"Ini kesempatan bagus. Kakek tua itu akan mati dan menghilangkan seluruh utangku. Di lain sisi, aku akan kaya karena berhasil mengamalkan pesugihan."

Malam ritual pertama tiba. Masduki telah menyiapkan semua persyaratan yang disyaratkan Ki Dawuh. Mulai dari sesajian, bacaan wajib, hingga sebilah pedang guna menghabisi tumbal yang tidak lain adalah kakeknya sendiri.

Singkat cerita, Masduki telah menyelesaikan semua syarat yang diberikan. Hanya tinggal satu syarat yang belum dilakukannya, yakni membunuh kakeknya sendiri sebagai tumbal.

Ia usap-usap mata pedang yang telah disiapkannya dengan kain yang sudah direndam kembang tujuh rupa. Sembari mengusap-usap pedang tersebut, Masduki juga merapalkan mantra yang telah diberikan.

Setelah selesai mengelap pedangnya, Masduki berjalan cepat menuju kamar kakeknya. Tak sulit untuknya memenggal kepala sang kakek, karena saat itu sang kakek sedang tidur terlelap.

Perbedaan kekuatan fisik juga seharusnya memudahkan jalan Masduki untuk menumbalkan kakeknya. Tubuh Masduki kekar, sedangkan kakeknya sudah reyot dan tak berdaging.

Namun, entah mengapa, saat ia mulai mengacungkan pedangnya, tiba-tiba tubuhnya kaku seakan mematung dan tak bisa berbuat apa-apa. Bahkan, untuk berteriak pun sangat sulit.

Saat mengalami itu, mata Masduki melotot bukan main. Matanya memerah dan mengeluarkan air mata saking ketakutannya. Ia bertanya-tanya, apa yang telah terjadi?

Karena terlalu lama berdiri mematung si sebelah sang kakek, kakeknya pun terbangun karena merasa ada yang aneh. Saat sang kakek terbangun, betapa kagetnya ia melihat Masduki sudah berdiri di hadapannya sembari mengacungkan pedang.

"Mengapa kau di sini, Duki? Apa yang kau lakukan?"

Tak ada jawaban, sang kakek kemudian menyentuh dada Masduki. Betapa kagetnya ia ketika tiba-tiba Masduki terhempas sesaat setelah disentuh sang kakek.

Tubuhnya melompat jauh dan membentur dinding. Masduki akhirnya pingsan dan tak sadarkan diri. Sang kakek buru-buru berlari memanggil bantuan kepada para tetangga. Masduki kemudian dievakuasi.

***

"Bocah kentir itu malah hendak menumbalkan Abah. Sialan! Aku harus memberinya pelajaran. Ini tak bisa dibiarkan!"

"Sudahlah. Tuhan sudah menghukum bocah itu dengan merenggut kewarasannya. Lebih baik kita pasung bocah itu agar tak lagi menyakiti orang lain."

Masduki kehilangan kesadaran setelah malam petaka itu. Ia gila dan akhirnya dipasung oleh para pamannya yang telah lama kesal terhadap tingkah lakunya.

Kisah ini hanya fiktif belaka. Kesamaan nama tokoh dan latar hanyalah kebetulan.