Kisah Seorang Anak yang Selamat dari Pesugihan Genderuwo Pakdenya

Tulisan dari Pesugihan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sedari kecil, aku sudah terbiasa hidup pas-pasan. Bahkan, bisa dibilang aku hidup serba kekurangan. Memang, Ayahku yang hanya bekerja sebagai tukang kuli bangunan hanya bisa mendapatkan penghasilan musiman saja. Apalagi, Ayah termasuk orang yang tidak mau menyuruh istrinya bekerja sehingga ibuku hanya boleh mengurusi rumah.
Dikarenakan penghasilan yang tidak tetap itu, ayah jadi sering mengutang sana sini. Kebutuhan hidup yang terus meningkat membuat Ayah tidak punya pilihan. Apalagi, aku yang sebentar lagi masuk jenjang SMP akan membutuhkan biaya masuk yang tidak kecil.
Suatu hari, Ayah mendatangi aku yang sedang mengaji. Ia tiba-tiba memeluk aku erat dan menangis.
“Le, maafkan Ayah. Ayah sudah tidak sanggup lagi memenuhi kebutuhan kita bertiga. Tadi Ayah menelepon Pakdemu yang tinggal di seberang desa. Ayah terpaksa menitipkan kamu ke beliau agar bisa melanjutkan sekolah,” kata Ayah di sela-sela tangisnya.
“Ayah mohon, Le. Demi Ayah sama Ibumu. Kami tidak mau kamu terjerumus ke dalam jurang kemiskinan seperti orang tuamu sekarang,” kata Ayah. Dengan berat hati, aku mengiyakan permintaan itu. Aku yang tidak bisa membayangkan hidupku tanpa mereka berdua hanya bisa menangis memeluk Ayah.
---
Keesokan harinya, Pakdeku sudah berdiri di depan rumah. Ditemani istrinya, ia menjemputku pagi-pagi dengan mobil sedan. Kata Ayah, Pakde memang termasuk keluarga kaya. Makanya, Ayah percaya untuk menitipkan aku agar disekolahkannya dengan baik. Sebelum berpisah, Ayah mengatakan pesan terakhir kepadaku.
“Le, belajar yang giat dan jangan pernah lupa beribadah sama Allah. Jadi anak baik-baik dan jangan menyusahkan Pakdemu ya,” kata ayah. Ia kemudian memelukku erat. Setelah itu, aku bersalaman dengan Ayah dan Ibu. Dengan berat hati, aku melangkahkan kakiku menuju mobil sedan itu dan bergerak meninggalkan rumah.
---
Sesampainya di rumah Pakde, aku takjub melihat rumah sebesar itu yang tentunya sangat tak sebanding dengan rumahku. Aku melihat-lihat seisi rumah. Betapa senangnya aku melihat berbagai furnitur yang sangat mewah. Aku senang sekali berada di sini.
Saat menyusuri sebuah nakas di belakang sofa, aku tak sengaja menjatuhkan sebuah sebuah foto dalam pigura. Aku mengambil foto yang jatuh di bawah kakiku itu. Ternyata, itu adalah foto seorang anak perempuan seusiaku. Aku tidak kenal siapa dia.
Seingatku, Pakde tidak pernah mempunyai anak. Makanya Ayah mau menitipkan aku agar Pakde pernah merasakan menjadi orang tua. Aneh, pikirku. Foto itu ternyata tidak hanya satu. Ada sekitar enam foto anak kecil berjenis kelamin laki-laki dan perempuan di atas nakas itu.
“Pakde, ini semua siapa?” tanyaku penasaran.
“Itu anak-anak Pakde, Le. Pakde sedih karena mereka semua meninggal saat seusiamu. Sekarang Pakde tidak punya siapa-siapa selain Bude yang menemani di rumah ini,” kata Pakde sedih.
“Sudah, tidak apa-apa, Le. Sekarang ayo kita makan siang dulu,” kata Bude menyahut.
Akhirnya aku makan siang. Di meja itu, terdapat berbagai macam hidangan yang keliatan sedap. Aku langsung menyantap satu per satu makanan yang ada di meja. Tiba-tiba aku merasa mual. Perutku rasanya tidak enak. Aku berlari ke kamar mandi dan muntah.
Mungkin, itu terjadi karena aku terlalu bersemangat makan jadinya sampai tersedak dan muntah. Malamnya, aku istirahat untuk memulihkan keadaanku. Bude dan Pakde sangat perhatian dan merawatku dengan baik.
---
Semakin hari, aku sangat nyaman tinggal di sini. Hanya saja, terkadang aku masih sering muntah-muntah kalau makan. Mungkin aku punya alergi dengan makanan orang kaya. Yang pasti, tidak ada yang tahu alasan aku terus-terusan muntah.
Akan tetapi, ada sesuatu yang mengganjal di benakku. Beberapa hari aku tinggal di sini, tak sekalipun aku melihat Pakde atau Bude kelihatan sibuk bekerja. Mereka selalu terlihat santai. Entah Pakde yang suka menonton televisi atau Bude sibuk memasak kreasi masakan barunya. Aku menjadi penasaran.
Bagaimana caranya mereka punya harta sebanyak ini kalau tidak bekerja? Ah, aku tidak ingin berprasangka buruk. Tapi, prasangka burukku itu terbukti. Suatu hari, saat aku keluar malam, aku mendapati Pakde dan Bude berjalan menyelinap melalui pintu belakang. Karena penasaran, aku mengikuti mereka.
Pakde dan Bude berjalan jauh sekali dari rumah. Mereka melewati jalan setapak yang gelap, pematang sawah yang sempit, sampai masuk ke hutan yang lebat. Saat memasuki hutan, terdapat jalan yang sepertinya sudah sering dilewati. Tapi, semakin lama, jalan di hutan itu semakin sempit karena banyak tanaman merambat yang menghalangi jalan.
Tidak lama kemudian, mereka berdua berhenti di depan gerbang. Lamat-lamat aku membaca tulisan di gerbang itu, “Rumah Kubra”. Mereka lalu melanjutkan perjalanan sampai tiba di depan sebuah rumah yang berdiri di depan sebuah pohon beringin yang sangat besar. Di halaman depan rumah itu, terdapat benda-benda yang aku tidak tahu namanya. Aku hanya tahu ada dupa dan kembang tujuh rupa di situ.
Pakde dan Bude kemudian duduk bersila. Aku sangat terkejut karena tidak lama setelah itu, muncul enam orang anak yang mengelilingi mereka berdua. “Astaga, itu kan anak-anak yang ada di foto kemarin,” gumamku kesal. Lalu, tiba-tiba muncul sosok dari pohon beringin itu. Ia kelihatan seram sekali, seperti genderuwo. Kemudian, samar-samar aku mendengar Pakde berbicara dengan genderuwo itu.
“Mbah, kami minta pertolonganmu. Anak yang tinggal bersama kami kali ini terlalu kuat. Dia selalu taat ibadah. Saya juga mendengar dia selalu mendoakan orang tuanya. Makanan yang kami berikan juga selalu dimuntahkannya. Kami tidak bisa memberikannya kepadamu untuk saat ini. Bagaimana ini Mbah?” tanya Pakde.
Aku yang mendengar itu seketika terdiam. Aku sama sekali tidak menyangka kalau mereka akan menjadikan aku tumbal pesugihan. Aku kesal dan marah. Aku langsung berlari ke rumah dan melapor ke polisi.
Tidak lama kemudian, mereka ditangkap dengan tuduhan penculikan anak. Dari laporan mereka, ternyata Pakde dan Bude menyekap anak-anak itu di dalam rumah yang mereka datangi kemarin. Lalu, anak-anak itu dijadikan tumbal untuk genderuwo dan sukmanya dijadikan pesugihan oleh mereka. Sungguh sangat kejam apa yang diperbuat oleh Pakde dan Bude. Aku bersyukur bisa selamat dari ini semua.
Tulisan ini hanya rekayasa. Kesamaan nama dan tempat kejadian hanya kebetulan belaka.
