Konten dari Pengguna

Kunjungan Arwah Tumbal Pesugihan: Tolong Hentikan Perbuatan Jahat Adikmu

Pesugihan

Pesugihan

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Pesugihan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi gadis desa (Foto: Medan Headlines)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi gadis desa (Foto: Medan Headlines)

Aku beristirahat sejenak setelah melayani beberapa pasien. Hari ini, tempatku lumayan ramai pengunjung. Beberapa menanyakan masalah sepele hingga minta bantuan untuk melancarkan rezekinya.

Klinik penyembuhan milikku memang sudah punya beberapa pelanggan tetap. Mulanya, aku yang memiliki kekuatan indra keenam justru tidak menyukai kekuatanku itu. Namun, orang tuaku meyakinkan aku bahwa itu pemberian luar biasa.

Lalu, orang tuaku mengarahkanku menjadi hal yang baik, tidak sekadar bisa melihat hantu saja. Aku dipertemukan beberapa guru spiritual untuk mempelajari ilmu-ilmu ghaib.

Setelahnya, aku merasa lebih mumpuni. Pada akhirnya, aku membuka klinik penyembuhan ini agar ilmuku tidak sia-sia.

Hingga suatu hari, aku bertemu dengan sosok misterius. Aku memang sering bertemu makhluk halus karena aku bisa melihat mereka. Yang mengherankan, perempuan itu tidak memiliki bekas luka yang menyeramkan. Kenampakannya layaknya manusia biasa.

Selain itu, sosok kali ini sangatlah aneh. Ia terus memunculkan dirinya di depanku tapi tak pernah sekalipun ia mengatakan perihal kemunculannya. Biasanya, makhluk halus akan memberi isyarat untuk meminta pertolongan atau keadaan lainnya.

Tiba-tiba, saat aku rehat sebentar dari melayani pelanggan hari ini, sosok itu muncul tepat di depan mataku. Aku sontak kaget. Namun, aku berusaha bertanya dengan tenang kepadanya.

“Apa maumu?” tanyaku.

“Tolong bantu aku dan desaku,” kata sosok itu.

“Apa yang terjadi?” tanyaku lagi.

“Bono menyebabkan kerusakan di kampungku. Aku jadi salah satu korbannya,” jawab sosok itu.

Bono adalah adikku. Dia memang sudah lama kabur dari rumah. Tabiatnya yang nakal dan tidak bisa diatur membuat orang tuaku lelah mengurusnya sehingga saat ia pergi, orang tuaku membiarkan saja.

“Apa yang dia lakukan? Apa dia membunuhmu?” tanyaku penasaran.

“Benar. Dia melakukan pesugihan yang syaratnya harus menumbalkan seseorang. Nahasnya, dia memilihku.

Setelahnya aku tahu kalau ia mengincar gadis-gadis desa sepertiku untuk dijadikan tumbal. Tolong hentikan perbuatannya. Tolong selamatkan desaku,” kata sosok itu.

---

Keesokan harinya, aku langsung menuju desa yang dikatakan perempuan itu. Aku berpamitan dengan orang tuaku untuk menjemput Bono. Sedangkan, klinik ditutup sementara sampai aku bisa menyelesaikan kasus ini.

Sesampainya di sana, aku bertemu Pak RT. Aku sengaja tidak memberitahukan niatku yang sebenarnya datang ke desa ini karena aku takut nama keluargaku tercoreng karena perbuatan jahat Bono.

“Bapak, saya rekan kerjanya Pak Bono. Tapi, saya tidak tahu rumahnya. Boleh saya diberitahu alamatnya Pak?” tanyaku kepada Pak RT.

“Oh, Pak Bono yang kaya raya itu ya. Rumahnya ada di ujung jalan ini Mas. Pasti masnya langsung tau soalnya rumah itu paling besar di desa ini,” jelasnya.

Apa? Kaya? Bukannya Bono tidak membawa uang sepeserpun ya saat kabur dulu? Apa dia sudah mau berusaha dan bekerja keras?

Ataukah itu adalah hasil dari pesugihan yang dikatakan perempuan itu? Aku tidak bisa menjawab satu per satu pertanyaan di kepalaku itu. Aku langsung bergegas menuju rumah di ujung jalan untuk memastikan semuanya.

---

Ilustrasi rumah mewah (Foto: Rumah.com)

Benar saja, rumah itu besar sekali. Sesampainya di sana, aku langsung mengetuk pintu. Dan, Bono lah yang membukakan pintu itu.

“Bang Dika?” kata Bono kaget. Raut wajahnya terlihat ketakutan. Tangannya keringat dingin. Ia nampak seperti tertangkap basah.

“Apa kabar Bon?” jawabku.

Bono mempersilahkan aku masuk. Interior rumah itu benar-benar mewah. Entah berapa miliar ia habiskan untuk membangun rumah ini. Sementara itu, aku tidak ingin mengulur waktu lagi.

Saat Bono mengambilkan minuman untukku, aku bergegas mencari ruangan yang ia gunakan untuk pesugihan.

Dari kejauhan, samar-samar aku mendengar suara seseorang. Tapi, suara itu seperti tertutupi oleh sesuatu sehingga ia tak terdengar jelas. Tak berpikir panjang, aku langsung menuju ke arah suara tersebut.

Ketika aku mendobrak pintu yang dikunci itu, aku menemukan pemandangan yang sangat mengejutkan. Di dalam ruangan itu, banyak dupa menyala dan kembang bertaburan di mana-mana yang sepertinya digunakan Bono untuk pesugihannya.

Yang lebih mengejutkan lagi, seorang perempuan yang mulutnya disumpal kain diikat tangan dan kakinya di tembok.

Bono sepertinya akan melakukan ritualnya hari ini dan akan menumbalkan perempuan itu. Aku langsung menuju perempuan itu untuk melepaskan ikatannya.

“Apa yang Abang lakukan di sini?” bentak Bono yang sudah berdiri di ambang pintu.

Aku menoleh dan melihat Bono menuju ke arahku. Aku berbalik arah dan menggunakan kekuatan dalamku untuk menahan Bono. Dia jatuh terhempas ke tembok dan pingsan.

Bersamaan dengan itu, perempuan itu sudah melepaskan ikatannya. Dia aku suruh pulang cepat-cepat sebelum Bono bangun. Aku langsung menggotong tubuh Bono untuk dibawa pulang ke rumah agar tidak melakukan keresahan di desa ini lagi.

Tulisan ini hanya rekayasa. Kesamaan nama dan tempat kejadian hanyalah kebetulan belaka.