Pesugihan Genderuwo: Keluarnya Rambut dari Mulut Sang Pemuja

Tulisan dari Pesugihan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pantulan cahaya senter mengagetkan Ratmi saat sedang menjalani ritualnya di depan pohon Gayam. Lantas ia buru-buru memasukkan barang-barang yang ia bawa ke dalam tas besar miliknya. Tak ingin orang lain tahu keberadaannya sekarang, Ratmi pun berlari cepat dan memilih jalan memutar agar tidak diketahui oleh warga sekitar.
Pagi itu seperti biasanya, Ratmi mulai menjajakan makanan lauk pauk dan soto di depan rumahnya. Setiap hari pelanggan membludak hingga ia harus menyediakan beberapa bangku plastik dan meja di depan rumah. Padahal, Jika dilihat warung Ratmi ini tidak strategis yang dekat jalan raya atau banyak dilalui orang. Namun, kenyataannya pelanggan akan tetap datang ke warung ini karena sudah terkenal dengan kelezatannya.
Mira, anak Ratmi yang masih duduk di bangku SMA setiap hari libur atau sehabis pulang sekolah selalu membantu ibunya dalam berjualan. Biasanya ia ditugaskan untuk mengambil uang atau mebereskan sisa-sisa piring di meja. Entah mengapa ibunya tidak pernah mengizinkan jika Mira yang menyuguhkan makanan, karena sering dibilang rasa jadi tidak sama.
Hari itu menunjukkan pukul 09.00 malam, pertanda jika warung harus segera ditutup. Mira pun keluar rumah berusaha memasukkan satu demi satu bangku plastik menjadi satu tumpukkan. Namun, entah mengapa dirinya merasa jika ada seseorang yang mengawasi di belakang pohon jambu depan rumah. Tetapi setelah ditengok tidak ada apa-apa di sana.
“Mir masuk cepat sudah malam!”
Suara teriakan ibunya menyadarkan Mira dari lamunan sesaatnya. Buru-buru saja ia membawa taplak meja dan bangku yang tersisa ke dalam rumah.
***
Saat anaknya sudah tertidur lelap, dan jam menunjukkan pukul 01.00 pagi Ratmi mulai menjalankan ritual rutinnya di Selasa Wage, karena kalau hal ini tidak dia lakukan usaha yang ia capai sekarang akan sia-sia.
Di depan pohon gayam tersebut, Ratmi mulai membuka seluruh bajunya hingga tidak ada sehelai benang pun yang tersisa. Dari dalam tas ia keluarkan ayam cemani yang telah dimasaknya dirumah, lanjut ia mengucapkan mantra yang sudah ia hafal di luar kepala. Tak berapa lama, buah gayam jatuh di depan Ratmi, ini menandakan jika sang empunya pohon menerima kehadiran Ratmi disana.
“Saya sudah membawa kesukaanmu”
Setelah ucapan Ratmi tadi, di depannya kini sudah ada makhluk dengan ukuran yang sama dengan pohon gayam, berbulu tebal, mata merah menyala hingga dua taring di mulut yang panjangnya sampai mata kaki. Hembusan napas makhluk yang disebut genderuwo ini bahkan bisa mengibarkan rambut Ratmi yang terurai. Setelah makhluk itu mendekat dan memakan ayam cemani yang dibawa Ratmi, pelan-pelan ia mencabut sehelai bulu dari kulit genderuwo dan memasukkannya ke dalam kain mori warna putih
Anehnya setalah melakukan ritual tersebut, keesokan hari warung Ratmi malah sepi tidak ada pengunjung sama sekali. Bahkan, ia tidak melihat satu atau dua orang yang biasa melintas di warungnya. Kali itu Ratmi dibuat bingung padahal ia telah melakukan ritual yang sama namun mengapa hasilnya seperti ini.
Ternyata bukan hanya sehari, sepinya warung Ratmi terjadi berhari-hari hingga membuat dirinya frustasi, Ratmi masuk kamar mengambil kain putih di meja riasnya dan membakar kain tersebut beserta bulu genderuwo yang ada di dalam. Ia dibuat kecewa karena pesugihan yang ia lakukan tidak mempan.
Namun, beberapa hari setelahnya nasib naas malah menimpa Ratmi. Pasalnya ia ditemukan tidak bernyawa di dalam kamar dengan mata yang melotot dan mulut yang menganga. Parahnya lagi di dalam mulut Ratmi terdapat kumpulan rambut yang tidak tahu berasal dari mana. Hal itu jadi pertanyaan banyak orang hingga sang anak, hal tersebut membuat Mira memutuskan untuk menemui orang pintar karena kematian janggal ibunda.
Sesampainya di rumah orang yang dianggap sakti tersebut, Mira menceritakan apa yang terjadi dengan ibunya hingga terakhir kali ia ditemui dalam keadaan yang tak bernyawa. Seperti sudah paham dengan apa yang dimaksud Mira, lantas orang sakti itu memberi petunjuk kepada Mira.
“Coba kamu lihat di bawah kasur ibumu ada kumpulan rambut kasar atau tidak, jika ada segera bakar dan buang kasur tersebut dari rumah”
Mira tak mengerti apa yang terjadi sebenarnya, mengapa orang sakti itu menyarankan Mira untuk melakukan itu, hingga ia membuka sendiri kasur yang ditempati ibunya dan melihat kumpulan rambut keras seperti sapu ijuk di sana. Ia kaget dan langsung melakukan apa yang disarankan oleh orang sakti tadi.
Membakar dan membuang barang itu. Namun, saat masuk ke dalam rumah ia dibuat kaget setengah mati karena di depan kamar ibunya ada sosok makhluk tinggi besar dengan mata merah menyala melihat ke arah Mira dengan tatapan yang tajam. Besoknya ia ditemukan dalam kedaan persis seperti ibunya waktu itu.
Tulisan ini merupakan rekayasa dari kisah yang berkembang di masyarakat. Kesamaan nama dan tempat kejadian hanya kebetulan belaka.
