Konten dari Pengguna

Pesugihan Guling Pesing untuk Genderuwo yang Suka Bau Ompol

Pesugihan

Pesugihan

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Pesugihan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi genderuwo. Foto: kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi genderuwo. Foto: kumparan

Usaha otomotif Hasan masih belum berkembang. Ratusan juta telah ia gelontorkan untuk modal usahanya itu. Lahan yang ia tempati juga hasil menyewa milik kawannya. Tetapi ia kurang beruntung. Bisnisnya kerap kali sepi dan tak laku.

Meskipun demikian Hasan tak patah semangat. Ia punya tiga mulut kecil untuk diberi makan. Sarah sang istri juga terus menyemangati. Mereka berdua percaya bahwa rejeki akan mengalir.

Siang itu seperti biasa, Hasan makan siang di angkringan sebelah tokonya. Walau tak pernah mengeluh, tetapi kawan-kawan seangkringannya mengetahui betul bahwa dirinya sedang lesu.Hasan memang bukan pribadi yang terus mengeluh. Ia hanya menyimpan segala gundah gulananya sendiri.

“Ada apa san? Kamu tau kan kamu bisa cerita apa saja ke kita?” tanya Yoga hati-hati.

Awalnya dia menolak. Hasan tidak biasa membuka dirinya kepada orang lain, meski kepada sahabatnya sendiri. Namun toh akhirnya ia membuka mulut juga lantaran bujuk rayu kawan-kawannya itu. Mereka juga tak menginginkan apapun selain kebahagiaan dan keselamatan sang kawan.

“Ya jadi gitu, bisnis otomotifku tidak ada perkembangan. Padahal sudah dua tahun bisnis ini berjalan. Anak-anakku juga masih butuh susu formula. Aku malu bila harus pinjam ke mertuaku lagi. Utang kemarin saja belum bisa ku lunasi” tuturnya sayu.

Mereka berempat memahami. Sedari awal mereka juga sudah melihat bahwa bisnisnya lesu. Tak banyak orang yang mampir ke tokonya. Tak heran bila kini Hasan mengeluhkan hal yang sama.

Sembari menyeruput teh panas, Eko membuka bibirnya.

“Yah kalo masalah uang mah gampang San” katanya “Aku bisa bantu kalau kamu mau” lanjutnya.

Hasan yang sangat butuh uang pun tertarik dengan perkataan kawannya itu. Eko memang dikenal yang paling tajir meski tak terlihat bekerja. Kehidupan Eko juga terlihat lebih misterius dibanding dengan kawan-kawannya yang lain. Tak seorang pun yang mengetahui pekerjaan pasti Eko. Ada yang bilang joki Ujian Nasional, ada yang bilang joki TNI dan PNS, sampai ada yang bilang dia adalah mata-mata BIN.

Semua teori itu tak masuk di akal Hasan. Pribadi Eko yang berwibawa menurutnya tak cocok bila ia memiliki pekerjaan sebagai joki. Menjadi mata-mata BIN pun rasanya tak pantas, karena tingkahnya yang rada nyeleneh dan tak tegas.

Keduanya lantas melakukan pembicaraan empat mata. Di bawah pohon beringin samping angkringan, Eko menjelaskan sesuatu. Eko membuat Hasan mengucapkan sumpah untuk tak memberitahu siapapun perihal masalah ini. Menurut saja, Hasan pun melakukannya.

“Rumor apapun yang kamu dengar tentang aku itu salah” buka Eko sembari menyeruput teh panasnya.

Hasan terkejut mendengarnya. Ia tak menyangka bahwa Eko akan memberitahu privasinya.

“Aku bukan seorang joki ujian apapun, bukan seorang bandar narkoba, apalagi mata-mata BIN. Meski begitu aku punya banyak harta seperti yang bisa kamu lihat sendiri. Aku juga tak perlu mengeluarkan satu tetes keringat pun untuk menyekolahkan anak pertamaku ke Prancis” tuturnya.

Kekayaanku aku dapatkan setelah berguru di kaki gunung itu” tutunya sembari menunjuk gunung yang ada di utara mereka.

“Aku bisa mengajarimu untuk mendapatkan banyak uang tanpa perlu susah payah, namun bila kamu mengizinkan” jelas lelaki berkumis tebal itu.

Himpitan ekonomi dan pertaruhan kehormataannya di mata sang mertua membawa Hasan pada jawabannya. Ia mau berguru pada temannya itu untuk mendapatkan banyak uang dan keluar dari keterpurukan ekonominya. Eko pun tersenyum. Ia mengarahkan Hasan untuk memakai baju serba hitam dan menemuinya di angkringan itu pukul 11 malam.

Ia mengangguk dan hanya menuruti perkataan kawannya itu. Ketika malam tiba, Hasan bersiap sesuai dengan arahan sang kawan. Eko membawa Hasan untuk berjalan cukup jauh ke arah kuburan kramat di kampungnya. Terdapat salah satu nisan yang tak memiliki nama. Di nisan itu, Eko meletakkan satu tangkai mawar putih, mawar merah dan kembang kantil.

Mereka berdua duduk bersila di samping kuburan yang dibalut dengan kain hitam itu. Tak lama kemudian, muncullah sesosok hitam besar. Sosok tinggi berbulu itu menyentuh kepala si Eko. Ia kemudian beralih dan melihat Hasan dengan tegas.

“Ini kawan baruku, dia juga ingin mendapatkan kekayaan seperti aku” tutur Eko.

Sosok raksasa itu kemudian tertawa terbahak-bahak sembari berkata “Apa yang bisa kamu berikan kepadaku?” tanya sosok itu.

Hasan gemetar. Ia tak tahu jawaban apa yang bisa ia berikan. Si Eko juga tidak memberinya informasi seputar ini.

“Dia akan memberimu apa yang kau inginkan. Katakan saja apa yang kau inginkan” tutur Eko tak membantu.

HAHAHA… Hasan malang. Aku tahu kamu punya tiga anak yang masih kecil.. HAHAHA.. Aku suka anak kecil.. HAHA… Mereka sering kali mengompol.. HAHAHA.. Aku suka bau ompol.. HAHA” tuturnya.

Hasan kebingungan, aneh betul si mahluk raksasa itu. Hasan memang pernah mendengar bahwa sosok genderuwo menyukai tempat yang kotor. Tetapi tak pernah sekalipun mendengar genderuwo menyukai aroma pesing. Apa yang sebenarnya ia inginkan?

“Dia ingin barang-barang anakmu yang ada aroma ompolnya” tutur Eko menerjemahkan.

Seketika Hasan ingat. Ketiga anaknya suka tidur menggunakan guling. Guling itu juga bagian yang paling sering terkena ompol. Tidak hanya punya satu, Hasan memiliki tiga guling dengan aroma ompol yang kuat.

“A..aku punya guling anakku yang berbau ompol” tuturnya ketakutan.

“HAHAHA.. baiklah aku suka itu. Tiap selasa wage aku akan datang ke rumahmu untuk mencium aroma air kencing itu…HAHA.. kamu akan mendapatkan uang yang kamu mau di guling itu juga.. HAHAHA” tuturnya sembari menghilang.

**

Ilustrasi kamar lengkap beserta gulingnya. Foto: kumparan

Semenjak malam itu, kekayaan terus datang kepada Hasan. Meski bisnis otomotifnya tak laku, ia dapat membuka toko ditempat lain. Ia juga dapat melunasi segala utang-utangnya kepada sang mertua. Kini kehormatannya sebagai lelaki dan bapak yang bertanggung jawab telah kembali utuh.

Setahun kemudian, ketiga anaknya mengalami hal buruk. Mereka bertiga secara tiba-tiba mengalami infeksi saluran kencing. Lantaran penyakit itu, mereka tak dapat berhenti kencing. Penyebabnya masih belum diketahui meski telah berobat sampai ke Singapura.

Berbulan-bulan penyakit itu masih belum kunjung sembuh hingga hasan menyerah. Pesugihan guling ompol miliknya membawa petaka bagi ketiga anaknya. Mereka tak berhenti mengompol meski sudah meminum obat.