Konten dari Pengguna

Warung Lesehan Jadi Sepi Karena Guna-Guna, Ternyata Terkubur Kepala Manusia

Pesugihan

Pesugihan

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Pesugihan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ilustrasi guna-guna (foto: Pinterest)
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi guna-guna (foto: Pinterest)

"Coba kau periksa tanah di bagian depan warungmu. Jika teliti, di sana akan kau temukan bekas galian. Bongkar galian itu. Maka, kau akan temukan penyebab mengapa warungmu selalu sepi pengunjung."

"Apa itu, Mbah? Apakah ada jampi-jampi dari warung pesaing atau orang-orang yang tak menyukai kami?"

"Kurang lebih begitu. Aku tak mau banyak bercerita. Nanti kalian takut untuk pulang. Biar kalian bongkar saja sendiri apa yang tertanam di sana."

Atikah dan Dandi akhirnya pulang. Sepasang suami-istri yang baru kawin tiga bulan lalu itu harus menghadap Mbah Kiwi untuk mengetahui mengapa warung lesehan mereka selalu sepi pengunjung.

"Padahal sewaktu awal membuka warung ini, kami ramai pengunjung, Bleh. Bukannya kami pede dan merasa warung kami laris. Namun, ini ada yang salah. Mengapa orang-orang bisa kompak tak mau mendatangi warung kami?"

Begitulah Dandi bercerita kepada sepupunya, Ableh, yang biasa membantu kecil-kecilan di warung milik Dandi. Ia benar-benar dibuat bingung sebelum akhirnya menghadap Mbah Kiwi.

Biasanya, warung Dandi akan mulai ramai pada sore menjelang malam. Warung lesehan itu tak begitu besar. Hanya ada sekitar 5 lokal dan 7 meja. Namun, rasa yang enak dan harga yang murah membuat warung Dandi selalu ramai.

Para mahasiswa dan wisatawan biasanya mampir di warung tersebut untuk makan bersama kawan-kawannya, merayakan ulang tahun, atau janjian dengan kekasihnya masing-masing.

Belum lagi Dandi kerap memasang diskon bagi siapapun yang sudah 10 kali makan di warung miliknya. Promo itu jugalah salah satu hal yang membuat warung lesehan tersebut selalu ramai pengunjung.

Maka tak ayal, bila Dandi merasa ada yang aneh sejak warungnya diterpa paceklik pengunjung. Ia harus merugi beberapa juta karena makanan yang membusuk dan tagihan listrik yang tak terganti.

***

Sesampainya di rumah, Dandi segera mengambil cangkul di rumahnya. Ia ingin buru-buru memastikan apa yang dikatakan Mbah Kiwi tentang benda yang tertanam di depan warungnya.

"Siapa yang berani menjahili warung kita, Neng? Apa pengaruh benda tersebut sehingga warung kita akhirnya sepi?"

"Kau mau menggalinya sekarang, Kang? Apa tidak menunggu esok hari saja? Ini sudah malam, Kang. Lagipula sedang hujan deras. Aku khawatir terjadi apa-apa denganmu."

"Kau tak perlu khawatir, Neng. Mbah Kiwi sudah memberikan obat penawarnya agar aku selamat. Kau harus percaya padaku, Neng. Agar kita berdua dapat berjualan dengan lancar lagi."

Mbah Kiwi memberikan sebutir batu tasbih yang diambil dari tasbih Mbah Kiwi sendiri. Ia mengatakan kalau segala macam ilmu hitam pasti akan takut dengan Tuhan.

"Meski tasbih ini hanyalah sekadar batu. Namun, ia biasa dipakai untuk beribadah. Berbagai demit ilmu hitam pasti takut dengan segala hal yang berhubungan dengan Tuhan, Nak. Asal kau mau yakin dan percaya."

Membawa benda tersebut, Dandi percaya diri untuk segera membongkar benda yang ditanam di depan warung lesehannya. Ia penasaran, benda apakah itu sehingga membuat warungnya sepi? Ia juga penasaran, seberapa besarkah kekuatan benda tersebut?

Tak mau menunggu lama, Dandi segera berjalan ke warungnya yang jaraknya kira-kira 30 menit dari rumahnya jika berjalan kaki. Saking marahnya, ia sampai melupakan sepeda motor yang biasa digunakannya berdagang.

"Kau tak mau pakai motor, Kang?"

"Ah, Neng. Aku harus segera ke sana. Motor hanya akan menghambatku."

Ia berlari di tengah hujan deras pada malam itu. Di bahunya, sudah tertenteng sebuah cangkul yang penuh karat. Sepanjang jalan, Dandi membaca doa yang diberikan oleh Mbah Kiwi.

***

"Innalillahi wa inna ilaihi rajiun!"

Betapa kagetnya Dandi melihat apa yang tertanam di depan tokonya. Ternyata, itu bukan benda, melainkan kepala manusia. Entah itu kepala siapa. Namun, Dandi merasakan ada yang salah dengan dirinya setelah ia menyentuh kepala tersebut.

Dandi merasa seperti banyak yang berbisik di telinganya. Ia berteriak-teriak di tengah hujan yang deras. Tak ada siapapun yang mendengarnya. Bisikan-bisikan itu terus terasa di telinganya.

"Cangkul lah lehermu. Cangkul sekarang juga! Cangkul lah lehermu. Cangkul sekarang juga!"

"Diam kau, setan alas. Kau itu hantu, jin, dedemit yang seharusnya tak mencampuri urusan manusia."

Setelah beberapa lama ia berteriak, Dandi teringat butiran batu tasbih pemberian Mbah Kiwi yang ada di saku bajunya. Sembari kalap dan merasa takut, ia dengan segera mengambil bati tersebut.

Ia lemparkan batu tersebut tepat ke kepala mayat yang terkubur di depan warungnya. Seketika hujan reda dan bisikan-bisikan itu menghilang. Dandi ambruk pingsan setelah mengalami kejadian itu.

***

Pagi telah menjelang. Dandi terbangun dan kaget karena ia menemukan tubuhnya telah berbaring di rumahnya sendiri. Ia tak ingat apa yang terjadi semalam setelah ia pingsan.

"Ke mana kepala itu? Bagaimana nasibnya?"

"Kang? Kau sudah bangun?"

"Ke mana kepala itu, Neng? Aku melihat kepala manusia terkubur di depan warung!"

"Polisi sudah mengevakuasinya, Kang. Mereka mengatakan beberapa hari ke depan kau akan dipanggil untuk memberikan kesaksian. Apakah kau akan ditangkap, Kang?"

"Ah. Syukurlah. Jangan khawatir, Neng. Aku akan mengatakan apa adanya. Sekarang, semoga warung kita baik-baik saja."

***

"Kami melihat warungmu terkadang tutup, terkadang buka."

"Apa? Tutup kau bilang?"

"Iya, Kang Dandi. Jadi, kami harus berputar mencari warung yang lain."

Ternyata, kepala manusia misterius yang tertanam di depan warung Dandi itu adalah tumbal pesugihan kiriman seseorang. Guna-guna tersebut akan membuat warung Dandi tampak tak menarik bahkan beberapa orang akan melihatnya seperti sedang tutup.

Cerita ini hanya fiktif belaka. Kesamaan nama tokoh dan latar hanyalah kebetulan.

"Apa itu, Mbah? Apakah ada jampi-jampi dari warung pesaing atau orang-orang yang tak menyukai kami?"

"Kurang lebih begitu. Aku tak mau banyak bercerita. Nanti kalian takut untuk pulang. Biar kalian bongkar saja sendiri apa yang tertanam di sana."

Atikah dan Dandi akhirnya pulang. Sepasang suami-istri yang baru kawin tiga bulan lalu itu harus menghadap Mbah Kiwi untuk mengetahui mengapa warung lesehan mereka selalu sepi pengunjung.

"Padahal sewaktu awal membuka warung ini, kami ramai pengunjung, Bleh. Bukannya kami pede dan merasa warung kami laris. Namun, ini ada yang salah. Mengapa orang-orang bisa kompak tak mau mendatangi warung kami?"

Begitulah Dandi bercerita kepada sepupunya, Ableh, yang biasa membantu kecil-kecilan di warung milik Dandi. Ia benar-benar dibuat bingung sebelum akhirnya menghadap Mbah Kiwi.

Biasanya, warung Dandi akan mulai ramai pada sore menjelang malam. Warung lesehan itu tak begitu besar. Hanya ada sekitar 5 lokal dan 7 meja. Namun, rasa yang enak dan harga yang murah membuat warung Dandi selalu ramai.

Para mahasiswa dan wisatawan biasanya mampir di warung tersebut untuk makan bersama kawan-kawannya, merayakan ulang tahun, atau janjian dengan kekasihnya masing-masing.

Belum lagi Dandi kerap memasang diskon bagi siapapun yang sudah 10 kali makan di warung miliknya. Promo itu jugalah salah satu hal yang membuat warung lesehan tersebut selalu ramai pengunjung.

Maka tak ayal, bila Dandi merasa ada yang aneh sejak warungnya diterpa paceklik pengunjung. Ia harus merugi beberapa juta karena makanan yang membusuk dan tagihan listrik yang tak terganti.

***

Sesampainya di rumah, Dandi segera mengambil cangkul di rumahnya. Ia ingin buru-buru memastikan apa yang dikatakan Mbah Kiwi tentang benda yang tertanam di depan warungnya.

"Siapa yang berani menjahili warung kita, Neng? Apa pengaruh benda tersebut sehingga warung kita akhirnya sepi?"

"Kau mau menggalinya sekarang, Kang? Apa tidak menunggu esok hari saja? Ini sudah malam, Kang. Lagipula sedang hujan deras. Aku khawatir terjadi apa-apa denganmu."

"Kau tak perlu khawatir, Neng. Mbah Kiwi sudah memberikan obat penawarnya agar aku selamat. Kau harus percaya padaku, Neng. Agar kita berdua dapat berjualan dengan lancar lagi."

Mbah Kiwi memberikan sebutir batu tasbih yang diambil dari tasbih Mbah Kiwi sendiri. Ia mengatakan kalau segala macam ilmu hitam pasti akan takut dengan Tuhan.

"Meski tasbih ini hanyalah sekadar batu. Namun, ia biasa dipakai untuk beribadah. Berbagai demit ilmu hitam pasti takut dengan segala hal yang berhubungan dengan Tuhan, Nak. Asal kau mau yakin dan percaya."

Membawa benda tersebut, Dandi percaya diri untuk segera membongkar benda yang ditanam di depan warung lesehannya. Ia penasaran, benda apakah itu sehingga membuat warungnya sepi? Ia juga penasaran, seberapa besarkah kekuatan benda tersebut?

Tak mau menunggu lama, Dandi segera berjalan ke warungnya yang jaraknya kira-kira 30 menit dari rumahnya jika berjalan kaki. Saking marahnya, ia sampai melupakan sepeda motor yang biasa digunakannya berdagang.

"Kau tak mau pakai motor, Kang?"

"Ah, Neng. Aku harus segera ke sana. Motor hanya akan menghambatku."

Ia berlari di tengah hujan deras pada malam itu. Di bahunya, sudah tertenteng sebuah cangkul yang penuh karat. Sepanjang jalan, Dandi membaca doa yang diberikan oleh Mbah Kiwi.

***

"Innalillahi wa inna ilaihi rajiun!"

Betapa kagetnya Dandi melihat apa yang tertanam di depan tokonya. Ternyata, itu bukan benda, melainkan kepala manusia. Entah itu kepala siapa. Namun, Dandi merasakan ada yang salah dengan dirinya setelah ia menyentuh kepala tersebut.

Dandi merasa seperti banyak yang berbisik di telinganya. Ia berteriak-teriak di tengah hujan yang deras. Tak ada siapapun yang mendengarnya. Bisikan-bisikan itu terus terasa di telinganya.

"Cangkul lah lehermu. Cangkul sekarang juga! Cangkul lah lehermu. Cangkul sekarang juga!"

"Diam kau, setan alas. Kau itu hantu, jin, dedemit yang seharusnya tak mencampuri urusan manusia."

Setelah beberapa lama ia berteriak, Dandi teringat butiran batu tasbih pemberian Mbah Kiwi yang ada di saku bajunya. Sembari kalap dan merasa takut, ia dengan segera mengambil bati tersebut.

Ia lemparkan batu tersebut tepat ke kepala mayat yang terkubur di depan warungnya. Seketika hujan reda dan bisikan-bisikan itu menghilang. Dandi ambruk pingsan setelah mengalami kejadian itu.

***

Pagi telah menjelang. Dandi terbangun dan kaget karena ia menemukan tubuhnya telah berbaring di rumahnya sendiri. Ia tak ingat apa yang terjadi semalam setelah ia pingsan.

"Ke mana kepala itu? Bagaimana nasibnya?"

"Kang? Kau sudah bangun?"

"Ke mana kepala itu, Neng? Aku melihat kepala manusia terkubur di depan warung!"

"Polisi sudah mengevakuasinya, Kang. Mereka mengatakan beberapa hari ke depan kau akan dipanggil untuk memberikan kesaksian. Apakah kau akan ditangkap, Kang?"

"Ah. Syukurlah. Jangan khawatir, Neng. Aku akan mengatakan apa adanya. Sekarang, semoga warung kita baik-baik saja."

***

"Kami melihat warungmu terkadang tutup, terkadang buka."

"Apa? Tutup kau bilang?"

"Iya, Kang Dandi. Jadi, kami harus berputar mencari warung yang lain."

Ternyata, kepala manusia misterius yang tertanam di depan warung Dandi itu adalah tumbal pesugihan kiriman seseorang. Guna-guna tersebut akan membuat warung Dandi tampak tak menarik bahkan beberapa orang akan melihatnya seperti sedang tutup.

Cerita ini hanya fiktif belaka. Kesamaan nama tokoh dan latar hanyalah kebetulan.