Konten dari Pengguna

Petani Sudah Panen, Tapi 198 Kilogram Gabah Bisa Hilang di Perjalanan

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Prayuda Rizky Arfallah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah kita menghitung berapa banyak hasil panen yang hilang sebelum menjadi nasi di atas meja?

Selama ini, ketika berbicara tentang ketahanan pangan, perhatian kita sering tertuju pada satu angka: produksi.

Berapa hektare sawah yang ditanam? Berapa ton gabah yang dihasilkan? Berapa luas panen yang berhasil dicapai?

Pertanyaan-pertanyaan itu memang penting. Namun, ada satu pertanyaan lain yang tidak kalah penting: dari seluruh hasil yang dipanen, berapa banyak yang benar-benar berhasil diselamatkan sampai menjadi pangan?

Pertanyaan itu menjadi semakin nyata bagi saya ketika melakukan pengamatan terhadap proses panen dan pascapanen padi di Desa Rias, Kecamatan Toboali, Kabupaten Bangka Selatan.

Dari lahan seluas satu hektare, diperoleh hasil panen sebanyak 6.232 kilogram gabah. Prosesnya menggunakan combine harvester. Setelah dipanen, gabah diangkut menggunakan mobil pikap, kemudian dikeringkan dengan vertical dryer dan selanjutnya digiling menggunakan Rice Milling Unit (RMU).

Sekilas, semuanya terlihat baik-baik saja.

Petani sudah panen. Gabah sudah dikumpulkan. Teknologi sudah digunakan. Hasil akhirnya pun akan menjadi beras.

Tetapi ternyata, perjalanan gabah dari sawah menuju beras tidak sesederhana itu.

Panen bukan akhir dari produksi pangan

Sumber Foto : Dokumentasi Pribad Prayuda Rizky Arfallah (2024)

Pada setiap tahapan, selalu ada kemungkinan kehilangan hasil.

Gabah bisa tercecer ketika proses panen. Sebagian bisa tertinggal di lahan. Dalam pengangkutan, gabah juga dapat berkurang. Proses pengeringan yang tidak tepat dapat memengaruhi kualitas dan jumlah hasil. Begitu pula saat penyimpanan dan penggilingan.

Satu per satu kehilangan tersebut mungkin terlihat kecil.

Beberapa kilogram yang tercecer di sawah mungkin tidak membuat kita berhenti untuk menghitung. Gabah yang tertinggal di alat panen mungkin dianggap sebagai hal biasa. Selisih hasil sebelum dan sesudah penggilingan juga bisa terlihat seperti angka biasa dalam sebuah laporan.

Padahal, jika kehilangan terjadi di setiap tahapan, jumlah akhirnya dapat menjadi berarti.

Dalam pengamatan yang saya lakukan, kehilangan hasil pada proses panen dan pascapanen mencapai 3,18 persen atau sekitar 198 kilogram gabah. Dengan asumsi harga gabah Rp6.500 per kilogram, nilai yang hilang mencapai sekitar Rp1.287.000 dalam satu siklus panen.

Angka tersebut berasal dari satu hektare lahan dalam satu pengamatan. Karena itu, angka ini tidak bisa begitu saja dianggap mewakili seluruh petani atau seluruh wilayah.

Namun, angka tersebut cukup untuk mengingatkan kita bahwa kehilangan hasil bukan sekadar persoalan teknis.

Di balik 198 kilogram gabah itu ada biaya produksi, tenaga, waktu, dan harapan seorang petani.

Kita sering sibuk mengejar produksi, tetapi lupa menyelamatkannya

Ada ironi dalam pembangunan pertanian.

Kita berusaha meningkatkan produktivitas dengan benih yang lebih baik, pemupukan yang tepat, teknologi pertanian, alat dan mesin pertanian, hingga berbagai program peningkatan produksi.

Semua itu tentu penting.

Tetapi setelah hasil berhasil diproduksi, pekerjaan belum selesai.

Justru di sinilah perhatian terhadap panen dan pascapanen harus diperkuat.

Apa gunanya menghasilkan gabah lebih banyak jika sebagian hilang karena proses panen yang kurang tepat?

Apa gunanya meningkatkan produksi jika sebagian hasil rusak karena penanganan yang tidak sesuai?

Dan apa artinya sebuah angka produksi yang tinggi jika sebagian dari angka tersebut tidak pernah sampai menjadi pangan yang bernilai?

Bagi saya, persoalan ini mengubah cara pandang terhadap pekerjaan sebagai Pengawas Mutu Hasil Pertanian.

Tugas pengawasan tidak seharusnya berhenti pada memeriksa, mencatat, dan membuat laporan. Data yang dikumpulkan seharusnya menjadi dasar untuk menemukan di mana kehilangan terjadi dan apa yang dapat dilakukan untuk menguranginya.

Teknologi saja tidak cukup

Sumber Foto : Dokumentasi Pribad Prayuda Rizky Arfallah (2024)

Penggunaan combine harvester, vertical dryer, dan RMU memang dapat membantu mempercepat pekerjaan dan meningkatkan efisiensi.

Namun, teknologi bukanlah jawaban tunggal.

Mesin yang tidak diatur dengan tepat tetap dapat menyebabkan kehilangan. Pengangkutan yang tidak dilakukan dengan baik dapat menimbulkan susut. Pengeringan dengan kadar air yang tidak sesuai dapat memengaruhi hasil. Demikian pula proses penggilingan yang tidak ditangani dengan benar.

Artinya, teknologi harus berjalan bersama dengan pengetahuan dan keterampilan.

Petani dan pelaku usaha perlu memahami bagaimana mengoperasikan alat dengan benar. Proses panen perlu dilakukan dengan metode yang tepat. Penanganan gabah harus diperhatikan sejak keluar dari lahan hingga masuk ke tempat penggilingan.

Karena itu, pengukuran kehilangan hasil seharusnya tidak berhenti sebagai angka dalam sebuah laporan.

Angka tersebut harus menjadi petunjuk.

Di mana kehilangan terbesar terjadi? Mengapa terjadi? Dan apa yang bisa kita lakukan agar kehilangan berikutnya lebih kecil?

Pertanyaan-pertanyaan sederhana itu dapat menjadi awal dari perbaikan.

Setiap kilogram yang diselamatkan berarti

Saya semakin menyadari bahwa menjaga hasil pertanian bukan hanya tentang menjaga sebuah komoditas.

Ada kepentingan petani di dalamnya. Ada ketahanan pangan di dalamnya. Bahkan ada makanan yang nantinya sampai ke meja makan masyarakat.

Petani sudah menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk menghasilkan pangan. Maka, setelah panen berhasil dilakukan, pekerjaan kita seharusnya bukan sekadar mencatat berapa banyak yang dihasilkan.

Kita juga harus menghitung berapa banyak yang hilang.

Lebih penting lagi, kita harus mencari tahu berapa banyak yang masih bisa diselamatkan.

Mungkin kita tidak akan pernah mampu menghilangkan seluruh kehilangan hasil. Namun, setiap kilogram yang berhasil dicegah dari kehilangan tetap memiliki arti.

Sebab satu kilogram bukan sekadar angka.

Di dalamnya ada biaya produksi. Ada tenaga. Ada waktu. Ada keringat petani.

Dan pada akhirnya, ada pangan yang seharusnya bisa sampai ke meja makan.

Mungkin sudah waktunya kita mengubah pertanyaan.

Bukan hanya, “Berapa banyak hasil panen yang berhasil kita produksi?”

Tetapi juga:

“Berapa banyak hasil panen yang berhasil kita selamatkan?”