Mengenal Katak terbang Wallace yang Dijumpai di Gunung Palung

Bekerja di Yayasan Palung
Tulisan dari Petrus Kanisius tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Katak-terbang wallace dalam Bahasa lnggris disebut Abah River Flying Frog / Wallace's flying frog dan dalam Bahasa latin disebut Rhacophorus nigropalmatus.
Katak ini memiliki warna hijau dan emas cerah yang dapat melompat dari dahan ke dahan dengan menggunakan selaput ekstralebar di sela-sela jari kaki dan “sayap” dari kulit di bagian sisi. Ketika katak itu melompat, kaki dan telapaknya meregang keluar dari tubuh sehingga memberi kesan seperti parasut. Mereka kadang dapat melayang sejauh hampir 50 kaki (15 meter) dalam satu kali lompatan.
Katak ini sering kali dijumpai oleh para peneliti di Taman Nasional Gunung Palung (TANAGUPA). Bahkan mereka berhasil mengabadikan beberapa foto yang menarik dan menakjubkan.
Katak terbang wallace adalah spesies katak yang berasal dari hutan hujan Asia. Umumnya dapat ditemukan di Semenanjung Malaya dan Indonesia bagian barat, yaitu di Kalimantan dan Sumatera. Katak terbang wallace rata-rata memiliki panjang sekitar 6 hingga 10 cm. Uniknya ukuran katak betina lebih besar dibandingkan katak jantan. Katak betina memiliki panjang 9 hingga 10 cm, sedangkan katak jantan memiliki panjang sekitar 6 hingga 7 cm.
Katak terbang wallace memiliki karakter yang cenderung pasif dan pendiam. Namun, ketika adanya ancaman, katak ini akan mengeluarkan air seninya dan juga melayang dengan cepat ke dahan atau daun lain di sekitarnya guna mempertahankan diri. Makanan utama dari katak ini adalah serangga yang berukuran lebih kecil dibandingkan badan katak tersebut, seperti jangkrik, ulat hongkong dan ulat kendang.
Daftar IUCN Red List menyebutkan, Katak-terbang Wallace masuk dalam daftar risiko rendah (Least Concern/LC) di alam liar.
Sumber : dari berbagai sumber
Lokasi : Taman Nasional Gunung Palung (TANAGUPA)
Foto : Wahyu Susanto-Yayasan Palung
-------------------------------------
Pengelolaan Stasiun Riset Cabang Panti dilakukan oleh Balai Taman Nasional Gunung Palung (TANAGUPA) dan bekerjasama dengan Yayasan Palung (YP) / Gunung Palung Orangutan Conservation Program (GPOCP). Penelitian ilmiah dilakukan oleh Universitas Nasional dan Boston University.
(Penulis : Petrus Kanisius-Yayasan Palung)
