Entertainment
·
3 Maret 2021 14:19

Kualat Gunung Merapi: Pendakian III (BAB 6)

Konten ini diproduksi oleh Didit Galaraka
Kualat Gunung Merapi: Pendakian III (BAB 6) (46780)
searchPerbesar
Kualat Gunung Merapi: Pendakian III (BAB 6)
“Bangsat, mana anak itu?” Ibang berbalik. Dengan kepalan tangan hampir sebesar buah naga, langkahnya tergesa diiringi nafas yang memburu.
ADVERTISEMENT
“Bang, Bang, tahan emosi lu!” Tanganku hampir menahan kedua pundaknya, namun dengan gerakan seorang jawara, ia menepisnya dengan mudah.
“Tangan gue yang kiri, belum nyicip pipinya.” Ucap Ibang murka. Matanya mendelik.
Ibang tak mengindahkan perintahku. Wajahnya memerah, di kepalanya seperti muncul sebuah tanduk yang panjang, besar, dan runcing. Langkah kakinya pun terhentak keras. Ibang menghampiri kembali area Pos dua.
Ibang berdiri di tengah-tengah area itu. Berputar melihat kesekelilingnya, menelusuri setiap sudut. Tangannya masih dalam keadaan mengepal. Asap di kepalanya semakin membubung tinggi ke langit, bersatu padu dengan kabut tipis yang menyelimuti.
“Ega, mana lo? Gue tunggu disini.” Ucapnya kesal.
Tak ada jawaban yang menyahuti panggilan Ibang.
“Ega!!” Teriakan Ibang mengganggu istirahat pendaki lain.
ADVERTISEMENT
“Kenapa, Mas?” tanya salah seorang pendaki yang keluar dari tendanya.
Ibang dipandangi oleh semua pendaki yang ada di area itu. Semua mata menatapnya keheranan. Mungkin mereka berpikir, mengapa orang gila dibiarkan mendaki gunung?
Ibang semakin memicingkan matanya, melihat ke semua pendaki yang bermunculan dari tenda.
“Ada yang namanya Ega?” tanya Ibang dengan teriakan.
Semua pendaki menggelengkan kepala. Tapi Ibang sepertinya tidak mau tertipu begitu saja. Dengan lantang ia berkata, “Jangan ada yang bohongin gue, tadi gue denger suaranya. Kalian sembunyiin dimana dia?”
Kali ini Ibang tak main-main. Sepertinya ia memang mau menghabisi Ega, jika saja ia menemukannya. Tanpa ancang-ancang, Ibang melangkah cepat ke setiap tenda untuk memeriksa isinya.
Tak ingin sesuatu hal yang buruk terjadi, aku berlari menuju Ibang yang sedang mengobrak-abrik tenda pendaki lain. Sepertinya pendaki lain tak ada yang berani kepada Ibang. Karena memang, mereka mungkin terlebih dahulu takut dengan melihat perawakan Ibang.
ADVERTISEMENT
“Bang, Bang, udah ah, lu jangan malu-maluin gini!” aku memberanikan diri menarik bajunya.
Sebenarnya, aku segan kalau melihat Ibang sudah penuh amarah seperti itu. Melihat kepalan Ibang yang berukuran tak wajar itu, membuat nyaliku sedikit menciut. Bisa saja dia menghajarku. Akan tetapi, yang kupikirkan saat itu adalah harus menghentikan reaksi sahabatku itu, sebelum yang lain kena imbasnya.
Dia mendorong keras bahuku, lalu berkata,“Dip, lu belain si Ega?” tanya Ibang sembari mengerutkan dahinya.
“bukan belain, Bang. Lihat sekitar lu baik-baik! Lu gak malu apa ... Tahan emosi lu! Kalo emang si Ega gak ada, dan tadi itu cuma kebetulan halusinasi kita aja, gimana?” kutahan segenap rasa seganku kepadanya. Apapun yang terjadi, aku siap menjadi pelampiasannya yang pertama.
ADVERTISEMENT
Ibang menghela nafas panjang. Beberapa kali ia tarik dan hembuskan. Matanya sedikit terpejam. Kepalannya melemah. Ia tertunduk sebentar dan mendongakkan kepalanya ke langit.
“Ya udah, kita lanjut aja. Maafin gue, Bro.” tandasnya.
Syukurlah, emosi Ibang dapat diredakan. Meskipun sedikit banyak, aku menanggung malu pada pendaki lain atas tindakannya. Aku tidak bisa membayangkan jika Ibang menghabisi Ega. Mungkin pendakianku ini akan dimuat di surat kabar dengan berita berjudul “seorang pendaki dibunuh temannya sendiri”.
Yoyo dan yang lainnya menungguku di jalur pendakian. Mereka memang sudah menyerahkan situasi seperti ini kepadaku. Buatku, ini sebuah dilema besar. Aku harus berusaha mengendalikan egoku sendiri demi sahabat-sahabatku.
Matahari sudah sedikit jatuh ke ufuk barat, aku meminta semua untuk melanjutkan perjalanan. Dan berusaha meredakan keresahan teman-temanku dengan berkata bahwa mungkin saja, tadi itu kita kompak salah dengar.
ADVERTISEMENT
Mungkin itu suara orang yang kebetulan memiliki suara yang mirip dengan Ega? Atau mungkin itu suara angin yang bergesekkan dengan bebatuan?
Jalanan terjal kembali kami jejaki. Aku dan Ibang berjalan beriringan.
“Dip, si Yoyo kenapa sih?” Ibang mengerutkan dahinya melihat ke arah Yoyo.
“Akhir-akhir ini dia jadi lebih aneh.” Lanjutnya seraya menoleh ke arahku.
“gue juga gak ngerti, lu inget gak pas di pos satu, gue ngajak si Yoyo ngerokok bareng si Kucay?”
Ibang mengangguk. Masih dengan dahinya yang mengkerut.
“waktu ngerokok itu, gue sengaja tanya tentang Mbok Irah ke si Yoyo. Ehh, dia malah gak ngejawab. Terus, langsung nyuruh ngopi sambil pergi gitu aja.” Aku melanjutkan keluh kesahku.
“Udah lah, diemin aja! Nanti juga ga pake ditanya, dia ngobrol sendiri.” Tutupku.
ADVERTISEMENT
Semua misteri dari sikap Yoyo, biasanya akan terjawab dengan sendirinya. Dia akan menghampiriku untuk membuka satu persatu misteri yang ada. Atau, dia sengaja akan mengumpulkan sahabat-sahabatnya untuk menguak hal itu.
Namun, mungkin ini belum saatnya. Yoyo lebih memilih diam karena mungkin dia merasa, di jalur pendakian ini bukanlah tempat yang tepat untuk mengungkap apa yang ada di kepalanya. Tinggal bagaimana kita sebagai sahabatnya, bisa bersabar menunggu jawaban itu.
Aku dan Ibang terus berjalan, melanjutkan perjalanan tanpa ada curhatan saling sahut satu sama lain. Aku lebih baik fokus pada langkahku. Begitupun dengan Ibang.
***
Surya semakin jatuh, hampir menyentuh garis perbatasan antara siang dan malam. bayang-bayang mulai samar. Binatang malam pun mulai mempersiapkan dirinya. Dibanding dengan rombongan ini, sepertinya mereka sama sekali tidak mempunyai keresahan.
ADVERTISEMENT
Kulihat samar, Mulki dan Desti berjalan terhuyung-huyung. Beberapa kali kudapati Mulki memegang pundak dan tengkuknya sendiri. Langkahnya kadang terhenti. Kulihat Kucay menepuk pundaknya dan memberikan bahasa tubuh yang seolah menanyakan “Lu gak apa-apa?”
Mulki pun membalas dengan bahasa tubuh yang menandakan bahwa ia baik-baik saja. Meski dari kejauhan, aku melihat jelas ekspresi wajahnya meringis.
Sebetulnya aku berniat untuk menghentikan sementara perjalanan ini dengan berteriak kepada Yoyo. Namun, di mulutku ini seperti ada tangan dingin yang menyumpal. Dan langkahku seperti ada yang menuntunnya untuk berirama tetap—tidak melangkah cepat menghampiri Mulki.
Sejurus kemudian, mataku dibuat terperanjat dengan apa yang aku lihat tepat di atas cerrier milik Mulki dan Desti. Jelas sekali kulihat, dua asap berputar-putar mengiringi setiap langkah mereka. Putaran asap itu semakin lama semakin melemah.
ADVERTISEMENT
Mataku terus saja memperhatikan kedua asap itu. Hingga tak sempat bagiku memberi tahu Ibang atas fenomena aneh itu. Kedua kepulan asap itu perlahan turun. Melekat tepat di atas permukaan cerrier mereka.
Tak hanya sampai disitu, kedua asap itu belum berhenti berulah. Bentuk dan rupanya perlahan membesar, hingga seukuran cerrier yang mereka gendong itu.
Bentuknya terus berubah. Bermetamorfosa menjadi bentuk yang sangat mengerikan bagiku. Keduanya menjadi sosok tua renta yang dengan nyamannya hinggap di belakang cerrier Mulki dan Desti.
Keduanya berambut panjang penuh uban. Sosok-sosok itu membelakangiku. Namun dari perawakannya dapat kupastikan, Mulki menggendong seorang nenek-nenek. Sedangkan Desti menggendong seorang kakek-kakek.
Jujur, aku tak mengerti mengapa aku jadi bisa melihat perwujudan “mereka”. Ini adalah hal yang di luar kebiasaanku sebelumnya. Bahkan di rumahku yang terkenal angker itu pun, aku tidak pernah menjumpai satu pun sosok mengerikan seperti apa yang sedang aku lihat di depan mataku ini. Oh Tuhan, kenapa ini?
ADVERTISEMENT
Aku hanya bisa menelan ludah beberapa kali. Langkahku ini tetap saja tidak bisa kupercepat. Padahal, aku ingin sekali memberi tahu Mulki, bahwa sedang ada yang tidak beres dengannya.
Aku mencoba untuk meneriakinya saja. Tetap, semakin keras usahaku ingin berteriak, semakin kuat pula tangan dingin itu menyumpal mulutku. Aku sebenarnya tidak ingin kalah dengan apapun yang sedang menyumpalku itu. Demi apapun, aku tidak mau sahabatku kenapa-napa.
Belum aku sempat berteriak, kedua sosok itu malah menoleh ke arahku dengan memasang wajah penuh amarah dan mengancam. Seolah menyampaikan pesan gaib yang berbunyi, “Kalau kamu berani, kamu tidak akan selamat.”.
Pucat pasi kulit wajahnya nampak jelas. Matanya yang hitam semua membuatku terperangah.
Ada yang sedikit tidak asing dari wajah salah satu sosok itu. Yaitu sosok nenek yang sedang bercokol nyaman di cerrier Mulki. Aku seperti mengenalinya.
ADVERTISEMENT
“Mbok Irah?” Gumamku dengan mengerutkan dahi.
Kedua sosok itu kembali ke posisi awal. Langkah kedua sejoli itu terus terhuyung-huyung. Kucay kembali menghampiri Mulki dan menanyakan kondisinya. Kucay menghentikan langkah Mulki dan Desti.
“Yo, Dil. Break dulu! Si Mulki sama Desti kecapean kayanya.” Kucay meneriaki Yoyo dan Gundil yang sudah sedikit menjauh. Teriakan menggema itu memanggil bayangan Yoyo dan Gundil yang mulai tertutupi kabut.
Kucay lalu mendudukkan Mulki dan Desti tepat di atas area yang sedikit luas—masih ada celah bagi pendaki lain untuk lewat. Syukurlah, Kucay mewakili kepanikanku yang tertahan.
Bayangan Yoyo dan Gundil semakin jelas mendekat. Yoyo tergopoh-gopoh diikuti oleh Gundil. Begitupun Ibang. Dia tergesa menghampiri Mulki. Sedangkan aku, entah apa yang menahanku ini. Susah sekali disingkirkan.
ADVERTISEMENT
Aku berjalan pelan menghampiri teman-temanku yang sedang mengerumuni Mulki dan Desti. Aku tidak berani melihat dua sosok mengerikkan itu. Lebih baik kualihkan pandanganku ke arah yang lain.
“Kenapa, Mas?” sahut salah seorang pendaki yang menyusul kami.
“Eee ... gak apa-apa, Mas. Temen saya cuma kecapean aja.” Jawabku sedikit terbata.bata.
Pendaki itu sepertinya solo hiking. Dengan senyuman ramahnya, dia berpamitan hendak mendahului kami.
“Oh Iya, Mas. Silakan.” Kulontarkan senyumku padanya.
“Yo, Lu jangan bercanda di saat kayak gini, Ah.” Terdengar Mulki memprotes Yoyo.
Kualihkan pandanganku kepada Yoyo. Tak disangka tak dinyana, aku melihat Yoyo menundukkan badan sembari merapatkan kedua telapak tangannya yang ia taruh di depan kepalanya itu.
Mulki terus memprotes tindakan Yoyo. Kulihat, Ibang, Kucay, dan Gundil saling pandang satu sama lain.
ADVERTISEMENT
Aku tahu betul, Yoyo sama sekali tidak bercanda. Ia memberi salam kepada kedua sosok yang berada digendongan Mulki dan Desti.
Yo, kenapa lu jadi mistis gini sih? Selama aku bersahabat dengan Yoyo, aku tidak pernah melihat dia berperilaku seperti ini. Atau bahkan, ini sebenarnya sisi lain dari seorang Yoyo? Entahlah. Menjadi bisa melihat eksistensi “mereka” saja, aku sudah ogah. Apalagi harus berperilaku seperti Yoyo.
Yoyo menyudahi sikap salamnya. Lalu ia berkata, “buat lingkaran! Taro si Mulki dan Desti di tengah-tengah kita.” Pintanya dengan memasang wajah serius dan kepulan asap yang keluar tak beraturan dari hembusan nafasnya.
Tak pikir panjang lagi, aku dan yang lainnya menuruti perintah Yoyo. Karena memang, kami sudah sepakat dengan hal ini. Mengingat, Desti sedang haid.
ADVERTISEMENT
Tapi mengapa harus dengan Mulki? Aku tak tahu itu. Mungkin, Yoyo ingin Mulki yang lebih bertanggung jawab berada di samping Desti.
Aku, Yoyo, Ibang, Kucay, dan Gundil membentuk lingkaran melindungi Mulki dan Desti.
Sesekali, aku penasaran dengan kedua sosok orang tua itu. Aku memberanikan diri untuk sedikit menoleh ke belakang. Mereka tetap nyaman berada disana. Seperti tidak mau pergi karena sudah betah.
“Yo, kok gue pusing banget ya ini? pundak gue juga berat.” Tanya Mulki yang diamini Desti.
Yoyo hanya memberi mereka minyak angin yang ia rogoh dari sakunya, lalu berkata, “pake ini aja dulu. Bentar lagi juga hilang.”
“Kita tunggu sampe maghrib selesai.” Lanjutnya.
Memang, waktu maghrib sudah tiba. Terdengar dari suara adzan yang volumenya sangat kecil.
ADVERTISEMENT
Sudah tak terhitung, berapa pendaki yang melewati kami lalu bertanya, “Kenapa, Mas?” karena mungkin aneh melihat formasi kami yang dibuat seperti anak kecil yang sedang bermain.
Aku selalu gugup menjawabnya. Namun, Ibang selalu menyela dengan menjawab, “dua temen saya ini kedinginan, Mas.”
Iya, kedinginan. Sampul yang bagus untuk menyembunyikan kedua sosok orang tua itu.
Gelap mulai mendominasi. Aku meminta semuanya untuk memakai headlamp. Satu persatu headlamp itu dinyalakan, supaya menjadi isyarat bagi pendaki lain akan keberadaan kami. Dan nantinya, mempermudah langkah kaki kami menapaki jalur pendakian.
Waktu terasa sangat lama. Seperti sudah seharian aku duduk di tempat itu. Aku melihat arloji di tangan kiriku, ternyata masih lima belas menit lagi.
ADVERTISEMENT
Lelah mulai kurasakan. Kuputuskan untuk mematikan headlamp-ku untuk sementara waktu. Kupeluk lututku dan kubenamkan kepalaku.
Karena terlalu banyak diam, rasa kantuk mulai menyerang. Dalam keadaan sadar dan tidar sadar, aku mendengar suara gamelan dari kejauhan. kufokuskan telingaku, dan dapat kupastikan, itu memang suara gamelan khas jawa.
Aku terperanjat.
“Lho, Yo, lu denger gak?” Bisikku pelan.
Yoyo hanya mengedipkan matanya dan mengangguk cepat.
Tak habis pikir, darimana suara itu berasal. Mana mungkin pagelaran yang dilaksanakan warga, terdengar jauh hingga atas sini.
Seketika aku teringat dengan titipan koin aneh dan ranting jati yang kubawa.
“Yo, emang di Pasar Bubrah ada yang jualan?” tanyaku lagi.
“Iya.” Jawabnya singkat.
Syukurlah kalau begitu. Aku jadi mudah memberikan titipan ini kepada orang yang dituju. Aku kembali membenamkan kepalaku.
ADVERTISEMENT
Terus kupandangi arlojiku ini. berharap diam ini cepat berlalu. Gundil dan Ibang membuat posisi yang sama sepertiku. Membenamkan kepala mereka. Suasana perlindungan Mulki dan Desti itu dihiasi dengan suara ngorok yang begitu keras dari Ibang. Ia tertidur pulas.
**
“Monggo, Mbah.” Yoyo berbalik dan kembali membentuk sikap salam seperti semula.
“Bang Yoyo kenapa sih, jangan bercanda, ah.” Erang Desti.
Yoyo hanya membalas dengan senyuman. Dia seakan ingin mengiakan bahwa ia sedang bercanda. Tapi aku yang sebenarnya tahu apa yang terjadi. Namun berusaha keras untuk menyembunyikannya.
Aku sedikit menoleh ke arah belakang Mulki dan Desti. Kulihat, memang kedua sosok itu sudah berubah kembali menjadi asap yang berputar-putar lalu hilang begitu saja.
ADVERTISEMENT
“Udah enakan belum, Ki?” tanyaku berusaha mencairkan keadaan.
“Ehh, Iya udah nih.” Jawab Mulki sembari menggerakkan bahu dan kepalanya.
Begitupun dengan Desti. Ia terlihat sumringah ketika dirinya tidak lagi merasakan berat.
“Dari sini, Pasar Bubrah udah deket. Ayo kita lanjut!” Ucap Yoyo dengan nada datar.
Aku menyalakan kembali headlamp-ku lalu beranjak dari kesalnya rasa menunggu. Kutarik tangan Yoyo hingga ia terbangun. Dan kutepuk bahunya seraya kulontarkan senyuman seorang sahabat.
Yoyo membalasnya dengan senyuman. Tangannya membalas mencengkram bahuku dan berkata, “Kali ini, lu yang jadi leader!”
“tapi, gue baru pertama ke Merapi.”
“jalannya udah enak, kok. Gak usah khawatir.” Ujarnya menenangkan.
Dengan sedikit terpaksa, aku menyetujuinya. Beban berat bagiku yang pertama kali ke Merapi, mengemban tugas sebagai seorang leader. Tapi apa mau dikata, Yoyo sudah mempercayakannya kepadaku. Sehingga tidak boleh aku sia-siakan.
ADVERTISEMENT
**
Pendakian dilanjutkan. Dinginnya hawa Merapi semakin menusuk hidung, menembus tebalnya jaket. Nafas pun menjadi sedikit tidak beraturan.
Beberapa ratus meter berjalan, di sebuah tanjakan, kuputuskan untuk sejenak menghentikan langkah, membalikkan badan hanya untuk menyapa dan menyemangati teman-temanku.
“Sema ... Lho, Bang, Yoyo mana?” aku berteriak lantang kepada Ibang. Janjinya, Yoyo akan bertindak sebagai sweeper.
“Gak tahu, Dip. Kayaknya ketinggalan jauh.” Jawabnya dengan teriakan.
Aku memutuskan untuk menunggu Yoyo. Lima menit berselang, aku melihat kepala Yoyo yang menyembul keluar diikuti dengan badannya secara utuh, melangkah pasti menaiki tanjakan.
“Ini ada, Dip.” Teriak Ibang.
Kupimpin kembali rombonganku ini. Menyusuri jalur pendakian dengan langkah pasti. Sebentar lagi, kita sampai di area peristirahatan untuk mendirikan tenda.
ADVERTISEMENT
Cahaya senter di kepalaku terus kufokuskan ke depan sebagai penanda langkah ini. Hingga akhirnya cahaya senterku menyorot sebuah batu yang begitu besar. Kusisir setiap sudut batu itu dengan cahaya senterku—saking terpananya.
Aku dibuat terperanjat ketika cahaya senterku ini dengan tepat mengenai puncak batu itu. Disana terdapat dua sosok orang tua yang kulihat tadi, ditemani satu sosok hitam besar, menatap tajam ke arah kami.
Sontak kupalingkan pandanganku ini kembali meniti jalur pendakian.
“Kenapa, Dip?” Gundil sepertinya menyadari tingkah anehku.
“Enggak ... tumben lu masih kuat, Dil?” tanyaku mengalihkan pembicaraan.
“Ahh elu,” ketusnya kesal.
Dengan penuh kewaspadaan, aku menundukkan pandangan. Aku tidak ingin melihat makhluk-makhluk mengerikkan itu.
Sampailah dimana aku menemukan sebuah jalur yang sangat menanjak, kemiringannya hampir membuatku menyerah. Namun, aku tidak lupa dengan tujuanku. Dengan yakin kunaiki jalur itu sebelum akhirnya aku melihat area yang sangat luas. Beralaskan pasir sama seperti jalur pendakian tadi.
ADVERTISEMENT
“Yo, ini Pasar Bubrah?” teriakku kepada Yoyo yang masih berada di belakang.
“Iya.” Jawabnya singkat.
Aku menunggu yang lain di area yang luas itu. Namun, sejauh cahaya senter ini kusorotkan, aku tidak melihat satu pedagang pun disana. Lalu, apa alasan tempat ini dinamakan Pasar? Dan mengapa Yoyo mengiakan, kalau disini terdapat orang yang berjualan?
**
“Ikutin gue!” Yoyo mengambil alih komando setelah semuanya berkumpul.
Dia menuntun kami ke sebuah titik yang lengang. Tenda-tenda pendaki lain sudah lebih dulu berada disana.
Kami terus melangkah meski sedikit susah payah karena kontur pasir yang kami pijak, menelan kaki. Aktifitas dari pendaki lain, sedikit membuat hangat suasana. Bayang-bayang hitam besar puncak Merapi meluruhkan semua lelah.
ADVERTISEMENT
Luar biasa sekali tempat ini. tidak terbayang olehku betapa dahsyatnya letusan Merapi yang menelan jiwa kuncennya sendiri beberapa tahun lalu. Sejenak kutundukkan hati untuk mendoakan korban-korban yang meninggal dunia akibat kejadian nahas itu.
Al-Fatihah!...
“Aamiin.” Bisikku sembari mengusapkan kedua tanganku yang sudah terasa seperti es batu.
Kudongakkan kembali kepalaku. Mengikuti Yoyo yang hampir menemukan area untuk berkemah. Tak sengaja, aku melihat sebuah papan yang terbuat dari kayu, yang ditempelkan pada tiga buah batang kayu berdiri tegak.
“Pasar Bubrah.” Terang dari tulisan di salah satu papan. Akhirnya, aku sampai di tempat ini.
Papan itu membuatku terpaku. Kutelusuri setiap sisinya, membiarkan yang lain lebih dulu melangkah. Terdapat sebuah tulisan yang membuatku merenung.
ADVERTISEMENT
Tulisan berbau peringatan itu berbunyi, “Disini lebih baik aman, Satu orang terasa banyak, Jangan tambahkan lagi. Jiwa-jiwa yang mati sia-sia.”
Tulisan itu diguratkan oleh tinta berwarna merah. Dipasang di empat papan berbeda, sesuai penggalannya.
Semoga saja, rombongan ini dapat bekerja sama dengan peringatan itu.
Kulanjutkan kembali langkahku mendekati teman-temanku yang sudah lebih dulu beristirahat tak jauh dari papan tulisan tadi.
Yoyo, Ibang, Kucay, dan Gundil mendirikan tenda. Sementara Mulki dan Desti terduduk lesu menunggu yang lain selesai bekerja. Tenda-tenda itu dibuat sedikit merenggang dengan posisi saling berhadapan.
“Dip, gue satu tenda bareng si Mulki sama Desti aja. Kalian berempat, pake tenda yang ini.” Ujar Yoyo seraya menunjuk tenda kuning yang sudah ia dirikan.
ADVERTISEMENT
Aku mengangguk. Kemudian membantu mereka memasukkan semua cerrier ke dalam tenda.
***
“Ayo, makan dulu!” Yoyo membukakan pintu tendaku.
Ibang segera mempersiapkan semua peralatan memasak. Kupluk kembali kupasang untuk menangkal kedinginan. Aku, Ibang, Kucay, dan Gundil mengikuti Yoyo keluar tenda. Di luar, sudah ada Mulki dan Desti menunggu kami.
Dari menanak nasi hingga memasak semua bahan makanan, kami laksanakan dengan penuh kehati-hatian dan rasa lapar.
Aku dengan lahap memakan semua hasil masakan Desti dan Ibang. Walaupun sederhana, bagiku itu sebuah kenikmatan yang luar biasa. Keras sedikit, tak apalah. Karena Desti menanak nasi bukan menggunakan rice cooker. Meskipun begitu, itu cukup mengganjal rasa laparku yang tertahan.
***
Setelah menjejali perut, kami berjalan menuju tenda masing-masing. Aku dan Ibang merapihkan peralatan memasak, lalu menyimpannya di samping tenda.
ADVERTISEMENT
Seperti biasa, seperti sebuah pepatah tongkrongan bilang, “Wis mangan ora udud, enek.” Sebelum memasuki tenda, aku memutuskan untuk menghisap sebatang atau dua batang rokok. Toh, santai ini.
Aku menatap tenda Yoyo. Tumben sekali, Yoyo dan Mulki langsung membenamkan diri di dalam tenda. Kelelahan mungkin, pikirku.
Aku, Ibang, Kucay, dan Gundil malah asyik berbincang. Hingga akhirnya, Kucay meminta izin untuk ke belakang tenda.
Beberapa saat kemudian, sayup kudengar suara percakapan dari dua orang di belakang tenda. Aku beranjak dan memeriksanya. Aku melihat ke belakang tenda. Terdapat dua orang yang sedang berdiri. Dari perawakannya, aku bisa mengenalinya salah satunya. Itu Kucay.
Tepat sekitar satu setengah meter di belakang tenda, kulihat Kucay sedang berbincang dengan seorang lelaki yang berpenampilan tidak umum. Bahkan, cenderung aneh bagiku.
ADVERTISEMENT
Aku menghampiri tempat Kucay berbincang dengan lelaki itu. Semakin jelas, kulihat lelaki itu sekitar berumur empat puluh tahunan. Tanpa jaket, tanpa cerrier, dan tanpa sepatu gunung. Lelaki itu hanya berpakaian layaknya orang yang hendak pergi ke sawah. Tanpa mengenakan sepatu gunung, lelaki itu hanya memakai sendal jepit sebagai alas kaki.
Kenapa bisa, lelaki ini mendaki gunung dengan penampilan yang ala kadarnya? Siapa dia?
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020