Ketika Rumah Hantu Mengundang Tawa: Pelajaran Genre dari "Agak Laen"

Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Atma Jaya Yogyakarta
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Philif Renanda Handali tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Beberapa tahun terakhir, genre film yang mendominasi layar bioskop Indonesia nyaris hanya satu: horor. KKN di Desa Penari (2022) tercatat sebagai film Indonesia terlaris saat itu dengan lebih dari 10 juta penonton (CNN Indonesia, 2024), dan setelahnya deretan film horor terus bermunculan. Namun pada 2024, perhatian publik justru tertuju pada Agak Laen, film yang menggabungkan horor dan komedi. Film garapan Muhadkly Acho ini meraih sekitar 9,1 juta penonton (Good News From Indonesia, 2024), hanya terpaut sekitar satu juta dari KKN di Desa Penari (CNN Indonesia, 2024). Pencapaian tersebut menarik untuk dibaca dari sudut pandang genre, yakni bagaimana sebuah film memanfaatkan sekaligus memainkan kebiasaan penonton.
Agak Laen mengisahkan empat sahabat, yaitu Bene, Boris, Jegel, dan Oki, yang menjaga wahana rumah hantu di pasar malam. Usaha mereka terancam bangkrut sehingga mereka mencari cara baru untuk menakut-nakuti pengunjung. Perpaduan horor dan komedi membuat film ini sulit dimasukkan ke satu genre saja, dan itu memperlihatkan bahwa genre memang tidak selalu mudah ditentukan.
Genre Film Menurut Buku Ajar Filmologi
Buku Ajar Filmologi (Astuti, 2022) menjelaskan bahwa genre pada dasarnya adalah kode dan kesepakatan yang ditandai oleh pengulangan, tetapi perbedaan justru penting untuk membedakan satu genre dari genre lain. Buku tersebut juga menyebut bahwa genre dibentuk dan terus dinegosiasikan, sehingga batasnya bisa berubah. Dalam buku yang sama, film horor dicirikan antara lain oleh situasi yang mengancam, latar yang dikenal, dan rasa takut. Sementara itu, komedi ditandai oleh unsur yang berlebihan dan salah satu bentuknya adalah parodi, yaitu penerminan genre serius yang diputarbalikkan sehingga menjadi lucu (Astuti, 2022). Rumah hantu dalam Agak Laen adalah contoh yang tepat. Ia memakai ikon horor yang sudah dikenal penonton, lalu mengolahnya menjadi sumber humor.
Buku ajar itu juga menegaskan bahwa genre berguna bagi banyak pihak. Bagi produser, genre adalah model atau format. Bagi distributor, genre membantu memprediksi siapa penontonnya dan bagaimana film dipasarkan. Bagi penonton, genre membantu menentukan pilihan dan membangun ekspektasi. Fungsi ini menjelaskan mengapa horor begitu kuat di industri kita. Ketika sebuah genre terbukti diminati, produser punya alasan kuat untuk terus memproduksinya karena risikonya terasa lebih terukur. Buku ajar yang sama mencatat bahwa horor dan drama memang kerap saling bergantian mendominasi produksi film nasional (Astuti, 2022).
Sisi Lain Genre Film: Klise dan Mudah Ditebak
Namun, buku ajar tersebut juga mengingatkan sisi lain dari genre, yaitu cerita yang mudah terjebak pada stereotip dan alur klise, serta akhir cerita yang bisa ditebak (Astuti, 2022). Menurut saya, di sinilah Agak Laen memberi pelajaran. Film ini tidak meninggalkan horor, tetapi tidak berhenti pada formula yang sama. Penonton datang dengan ekspektasi tertentu terhadap rumah hantu, lalu diajak tertawa dan mengikuti persoalan sehari-hari para tokohnya, termasuk soal ekonomi dan persahabatan. Pembaruan seperti ini membuat genre yang sudah akrab terasa segar tanpa kehilangan daya tarik pasarnya.
Tentu, menggabungkan dua genre bukan jaminan sukses. Data jumlah penonton tahun 2024 menunjukkan bahwa horor komedi lain seperti Kang Mak from Pee Mak mencapai sekitar 4,8 juta penonton, sedangkan Sekawan Limo sekitar 2,5 juta (Good News From Indonesia, 2024). Angka ini tetap baik, tetapi jauh di bawah Agak Laen. Menurut saya, perbedaannya tidak hanya terletak pada percampuran genre, melainkan pada kekhasan yang melekat pada film tersebut, seperti humor yang dekat dengan penontonnya dan cerita yang terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Genre membuka pintu, tetapi kekhasan yang membuat penonton bertahan.
Genre Film sebagai Titik Berangkat Industri
Karena itu, industri film Indonesia sebaiknya memandang genre sebagai titik berangkat, bukan kotak yang mengurung. Rumah produksi dapat memanfaatkan genre yang sudah dikenal untuk menjangkau penonton, sambil berani mencampur, memelesetkan, atau menggeser konvensinya. Distributor pun perlu berhati-hati agar promosi tidak hanya menempelkan satu label pada film. Agak Laen menunjukkan bahwa penonton bersedia menerima film yang tidak sepenuhnya masuk satu kategori, selama pengalaman menontonnya terasa utuh.
Pada akhirnya, genre adalah bahasa bersama antara pembuat film dan penonton. Bahasa itu perlu dipahami, tetapi juga perlu diberi ruang untuk berubah. Agak Laen mengingatkan kita bahwa film yang paling ramai ditonton belum tentu lahir dari mengulang resep lama. Kadang ia lahir dari keberanian menertawakan rasa takut yang selama ini kita anggap serius.
