Konten dari Pengguna

Ketika Lima Detik Terasa Terlalu Lama: Generasi Baru dan Budaya Hiburan Cepat

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari PHOEBE NATASHA CHANDRA tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Wanita Memandang Smartphone dengan Wajah Serius. (Foto: shutterstock)
zoom-in-whitePerbesar
Wanita Memandang Smartphone dengan Wajah Serius. (Foto: shutterstock)

Satu video belum selesai, jari sudah cepat-cepat menggeser ke konten berikutnya. Scroll, swipe, lalu scroll lagi. Bagi kaum muda seperti generasi Z dan Alpha yang tumbuh bersama platform video pendek seperti TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts, berpindah dari satu konten ke konten lain sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Video berdurasi belasan detik bisa diganti dalam satu kali geser. Kalau tidak menarik, bisa langsung di skip. Kebiasaan ini berkembang, lalu berubah menjadi apa yang disebut doom scrolling.

Penelitian “Hubungan Intensitas Penggunaan Media Sosial terhadap Prokrastinasi Akademik pada Mahasiswa yang Menyelesaikan Skripsi” oleh Achmad dan Dewi (2022), menunjukkan bahwa terdapat hubungan intensitas penggunaan media sosial terhadap prokrastinasi mahasiswa dalam menyelesaikan tugas. Hal ini memberikan gambaran bahwa aktivitas bermedia sosial, dalam hal ini termasuk scrolling culture menimbulkan kecenderungan menunda tugas akademik. Dari lamanya durasi akses scrolling konten pendek ini membuat Generasi Z cenderung mudah terdistraksi untuk menjelajahi konten media sosial daripada mengerjakan tugas. Ketika pola konsumsi konten berlangsung dari waktu ke waktu terus berganti, maka perhatian pengguna pun terbiasa berpindah dari satu informasi ke informasi lainnya.

Keinginan untuk menikmati hiburan dalam cara cepat secara perlahan membentuk cara baru dalam mengonsumsi konten. Perhatian pun terbiasa berpindah dari satu informasi ke informasi lainnya. Kebiasaan ini bukan terjadi begitu saja. Awalnya, ada perkembangan teknologi seperti smartphone yang bisa diakses kapan saja. Lalu ada algoritma media sosial yang terus belajar apa yang menarik bagi pengguna, konten yang dianggap menarik akan muncul terus-menerus. Hasilnya, aliran hiburan hampir tak pernah berhenti. Platform pun punya kepentingan untuk mempertahankan perhatian pengguna selama mungkin. Mereka memanfaatkan visual cepat, potongan gambar, informasi singkat, dan hook yang menarik. Bagi generasi muda yang tumbuh di lingkungan digital seperti ini, pola konsumsi hiburan terasa sangat normal.

Namun, masalahnya bukan hanya seberapa lama seseorang menghabiskan waktu di media sosial. Tapi bagaimana kebiasaan itu mempengaruhi kemampuan fokus. Aktivitas yang butuh waktu lama seperti membaca buku, mengikuti kelas, atau mengerjakan tugas selama berjam-jam, seringkali terganggu oleh smartphone. Saat kita terbiasa dengan rangsangan baru setiap kali scroll, aktivitas yang lebih lambat terasa kurang menarik. Bukan berarti generasi muda tidak bisa fokus. Tapi mereka hidup di lingkungan yang membuat berpindah perhatian jadi sangat mudah.

Meskipun demikian, terbiasa dengan hiburan cepat bukan berarti kemampuan fokus tidak bisa dilatih kembali. Langkah awal bisa dimulai dengan mengurangi gangguan kecil. Misalnya, mematikan notifikasi, menyimpan smartphone saat belajar, atau menggunakan metode seperti pomodoro untuk membagi waktu belajar dan istirahat dengan lebih teratur. Membaca beberapa halaman buku tanpa membuka media sosial juga bisa menjadi latihan yang dapat membantu menjaga attention span.

Pada akhirnya, pertanyaannya bukan apakah generasi muda harus berhenti menikmati hiburan cepat. Tapi apakah mereka masih memiliki kendali atas perhatian mereka sendiri di tengah industri digital yang terus berlomba untuk menarik perhatian kita.