Capek Jadi Kuat Terus

Mahasiswi Universitas Pamulang Progam Studi Ilmu Komunikasi
·waktu baca 1 menit
Tulisan dari Piah Puspita tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kita diajarkan untuk tangguh. Untuk tidak mengeluh. Untuk tetap tersenyum walau hati remuk. Katanya, kuat itu keren. Tapi tak ada yang bilang kalau menjadi kuat terus-terusan itu melelahkan.
Di balik orang yang terlihat tenang, sering kali ada kepala yang penuh pikiran dan dada yang sesak oleh beban yang tak dibagi. Kita terlalu sering bilang “nggak apa-apa”, padahal sebenarnya tidak baik-baik saja.
Yang lebih menyedihkan, kadang kita justru takut terlihat rapuh. Karena dunia terbiasa mengagumi mereka yang tidak pernah jatuh, bukan mereka yang berani jujur soal lukanya.
Saya menulis ini karena saya juga lelah. Lelah menahan air mata, lelah menyimpan semua sendiri. Dan mungkin kamu juga sedang merasakannya. Maka izinkan diri kita untuk tidak kuat hari ini. Boleh istirahat. Boleh menangis. Boleh merasa bingung.
Karena menjadi kuat bukan berarti tidak pernah lelah. Tapi tahu kapan harus berhenti, dan kapan harus minta tolong.
