Konten dari Pengguna

Tersesat Bukan Berarti Gagal

Piah Puspita

Piah Puspita

Mahasiswi Universitas Pamulang Progam Studi Ilmu Komunikasi

·waktu baca 1 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Piah Puspita tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto Illustrasi Tersesat sumber: unsplash.com/John Kinnander
zoom-in-whitePerbesar
Foto Illustrasi Tersesat sumber: unsplash.com/John Kinnander

Di dunia yang serba terstruktur, kita sering merasa harus tahu arah sejak awal. Harus punya rencana lima tahun ke depan. Harus tahu tujuan sejak usia belasan. Harus sukses sebelum usia tiga puluhan.

Tapi kenyataannya, banyak dari kita tersesat. Jurusan kuliah yang dipilih tidak sesuai hati. Pekerjaan yang dijalani terasa hambar. Hidup terasa seperti berjalan dalam kabut—bergerak, tapi tidak tahu ke mana.

Dan saat itu terjadi, kita mulai menyalahkan diri sendiri. “Kenapa aku tidak sehebat orang lain?” “Kenapa aku tidak punya arah?” Padahal, tersesat adalah bagian alami dari perjalanan.

Saya pernah—dan mungkin masih—ada di fase itu. Fase bertanya-tanya: ini semua buat apa? Tapi pelan-pelan saya sadar, tidak semua hal harus langsung jelas. Kadang, kita menemukan arah justru setelah mencoba, gagal, lalu coba lagi.

Tersesat bukan kegagalan. Ia adalah kesempatan untuk berhenti sejenak, meninjau ulang hidup, dan mengenal diri sendiri lebih dalam. Karena dalam kesesatan, kadang kita menemukan yang paling penting: alasan untuk melangkah lagi.