Konten dari Pengguna

Belajar dari Akuntansi: Pentingnya Mencatat, Menilai dan Memperbaiki

Pingkan Pongoh

Pingkan Pongoh

Siswa SMK Katolik St. Familia Tomohon

·waktu baca 3 menit

comment
6
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Pingkan Pongoh tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam keseharian, tidak semua hal yang kita lakukan sempat untuk kita renungkan kembali. Waktu berjalan begitu cepat, aktivitas silih berganti, dan kesempatan untuk meninjau ulang apa yang telah dilakukan sering kali terlewatkan. Tanpa disadari, banyak hal dilakukan secara berulang, namun belum tentu membawa perkembangan yang berarti.

Berbeda dengan hal tersebut, akuntansi memandang setiap aktivitas sebagai sesuatu yang penting untuk didokumentasikan, dianalisis, dan dievaluasi. Proses ini bukan sekadar formalitas teknis, melainkan upaya untuk memastikan bahwa setiap langkah yang diambil memiliki arah dan tujuan yang jelas. Menariknya, prinsip dasar ini tidak hanya berlaku dalam dunia pencatatan keuangan, tetapi juga sangat relevan dan bisa diterapkan dalam mengelola kehidupan sehari-hari.

Mencatat sebagai Bentuk Kesadaran

Mencatat dalam konteks kehidupan tidak berarti harus selalu menuliskan setiap detail secara harfiah. Lebih dari itu, ini adalah tentang membangun kesadaran untuk mengingat dan memahami apa yang telah dilakukan. Tanpa adanya “pencatatan” atau kesadaran ini, seseorang cenderung mengulangi kesalahan yang sama, karena tidak pernah benar-benar memahami di mana letak kekeliruannya. Hal ini membuktikan bahwa pengalaman saja tidak cukup; yang jauh lebih penting adalah bagaimana kita menyadari dan memaknai pengalaman tersebut.

Menilai untuk Memahami Kondisi

Selain mencatat, akuntansi juga menekankan pentingnya tahap penilaian atau evaluasi. Setiap data yang telah dicatat tidak berhenti sebatas angka, melainkan diolah menjadi informasi yang bermakna.

Dalam kehidupan, proses ini dapat diartikan sebagai kemampuan untuk merefleksikan diri: apa yang sudah berjalan dengan baik, dan aspek mana yang masih perlu diperbaiki. Tanpa evaluasi yang jujur, seseorang mungkin merasa sudah berusaha keras, namun tidak menyadari apakah usaha yang dilakukan sudah berada pada jalur yang tepat atau justru membuang-buang energi.

Konsep ini sangat sejalan dengan gagasan dalam psikologi pendidikan yang dikemukakan oleh John Dewey dalam bukunya How We Think (1933). Ia menekankan bahwa pengalaman tidak akan memberikan makna yang mendalam tanpa adanya Reflective Thinking atau pemikiran reflektif. Artinya, pembelajaran sejati tidak hanya terjadi dari apa yang kita alami, tetapi dari bagaimana kita berpikir kritis terhadap pengalaman tersebut untuk kemudian diubah menjadi pengetahuan baru.

Memperbaiki sebagai Langkah Nyata

Tahap berikutnya yang tidak kalah krusial adalah memperbaiki. Dalam akuntansi, kesalahan atau ketidaksesuaian tidak dibiarkan begitu saja, melainkan diperbaiki melalui proses penyesuaian yang sistematis. Begitu pula dalam kehidupan, menyadari kesalahan saja belumlah cukup; kesadaran itu harus menjadi dasar untuk melakukan perubahan nyata.

Proses ini juga berkaitan erat dengan konsep Experiential Learning, di mana pengalaman dijadikan bahan evaluasi untuk menghasilkan strategi yang lebih baik di masa depan.

Namun demikian, pada kenyataannya banyak orang berhenti hanya pada tahap menyadari tanpa benar-benar bertindak memperbaiki. Di sinilah letak tantangan sebenarnya. Tidak mudah untuk mengakui kekurangan diri, apalagi mengubah kebiasaan yang sudah terbentuk lama. Dibutuhkan keberanian untuk jujur dan konsistensi untuk berubah, sekecil apa pun langkah yang diambil.

ilustrasi mengevaluasi diri

Siklus Perkembangan yang Berkelanjutan

Jika dilihat lebih jauh, proses mencatat, menilai, dan memperbaiki sebenarnya merupakan sebuah siklus yang berkelanjutan. Dalam akuntansi, siklus ini dilakukan terus-menerus untuk memastikan adanya perbaikan dari waktu ke waktu. Dalam kehidupan, pola yang sama bisa menjadi kunci untuk tumbuh dan berkembang secara bertahap, bukan secara instan.

Padahal, perubahan besar sering kali berawal dari hal-hal sederhana. Meluangkan waktu sejenak di akhir hari untuk berpikir, menyadari kesalahan kecil, dan bertekad untuk memperbaikinya di esok hari, sudah merupakan bentuk kemajuan yang signifikan. Dari kebiasaan kecil inilah transformasi besar dapat terbentuk.

Pada akhirnya, belajar dari akuntansi bukan hanya soal memahami angka dan laporan, tetapi tentang memahami proses pengelolaan diri. Hidup bukan sekadar untuk dijalani, tetapi juga perlu “dicatat”, “dinilai”, dan “diperbaiki” agar memiliki arah yang lebih jelas dan bermakna.

Maka, daripada terus bergerak tanpa tujuan yang pasti, mungkin sudah saatnya kita berhenti sejenak. Bukan untuk menyerah, melainkan untuk melihat kembali, memahami, dan memperbaiki arah langkah. Karena perkembangan sejati tidak ditentukan oleh seberapa banyak hal yang kita lakukan, melainkan oleh seberapa sadar kita dalam menjalani dan menyempurnakan setiap langkah tersebut.

ilustrasi dibuat oleh penulis