Pinjol Bikin Utangmu Berlipat Ganda

Graduate Student of Sharia Economic IPB University
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Azuma Furqani Ramadanta tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Bukan cuma soal bunga yang mencekik. Ada alasan sistemik mengapa pinjaman online berbunga tinggi bisa menghancurkan keuangan kamu dalam hitungan bulan.
Kamu pinjam Rp2.000.000 dari aplikasi pinjaman online. Sebulan kemudian, tagihan yang muncul bukan Rp2.100.000, akan tetapi mendekati Rp2.600.000. Bulan berikutnya, jika belum lunas bisa tembus hingga Rp3.000.000 lebih. Padahal kamu belum pinjam sepeser pun lagi.
Fenomena ini bukan kebetulan. Ini adalah acara kerja sistem bunga berbunga yang dalam literatur keuangan disebut dengan compound interest yang jika diterapkan pada pinjaman konsumtif berbunga tinggi, bisa menjadi jebakan finansial yang sangat sulit keluar darinya.
Bagaimana Bunga Pinjol Bekerja?
Sebagian besar platform pinjaman online di Indonesia menerapkan bunga harian. OJK menetapkan batas minimum bunga pinjol di angka 0,3% per hari untuk pinjaman konsumtif. Angka itu terdengar kecil bukan? Tapi jika dikonversikan ke tahunan, nilainya mencapai sekitar 109% per tahun. Sangat jauh di atas bunga KPR atau kartu kredit sekalipun.
Yang memparah situasi adalah mekanisme denda keterlambatan. Saat kamu gagal membayar tepat waktu, denda langsung menupuk di atas pokok dan bunga yang belum terbayar. Dalam beberapa minggu saja, total tagihan bisa melampaui kemampuan bayar kebanyakan orang.
Mengapa Ini Bukan Sekedar Masalah Finansial?
Ada persoalan yang lebih mendasar di balik sistem ini: ketidakseimbangan risiko. Dalam pinjaman berbunga, pihak pemberi pinjaman selalu untung. Mereka tidak peduli apakah uang yang dipinjam berhasil digunakan untuk hal produktif atau tidak. Sementara, peminjam menanggung seluruh risiko kegagalan.
Inilah yang biasa disebut oleh para ekonom yaitu moral hazard. Ketika satu pihak terlindungi dari konsekuensi keputusannya, sementara pihak lain menanggung semuanya. Sistem seperti ini cenderung mendorong pertumbuhan kredit yang tidak sehat dan memperlebar kesenjangan ekonomi.
Menurut jurnal Ekonomi Syariah Mulawarman (JESM, 2023), sistem berbasis bunga secara struktural menciptakan ketidakadilan karena pihak yang sudah lemah secara ekonomi justru semakin ditekan, sementara pemilik modal selalu berada di posisi aman.
Krisis 2008: Bukti Nyata Bahaya Sistem Bunga Tidak Terkendali
Skala dampaknya bisa jauh lebih besar dari sekedar individu. Krisis keuangan global tahun 2008 yang bermula dari Amerika Serikat dan merambat ke seluruh dunia. Berikut adalah contoh paling gamblang dari apa yang terjadi ketika sistem berbasis bunga dibiarkan berjalan tanpa pengawasan yang memadai.
Produk-produk pinjaman hipotek berbunga yang dijual ke peminjam dengan kemampuan bayar rendah menggelembungkan pasar properti hingga akhirnya runtuh secara perlahan. Jutaan orang kehilangan rumah, pekerjaan, dan tabungan hidup mereka. Bukan karena mereka tidak mau bayar, tapi karena sistem yang mereka masuki sejak awal sudah tidak mungkin mereka menangkan.
Lalu, Apa Alternatifnya?
Dalam beberapa tahun terakhir, ekosistem keuangan berbasis bagi hasil mulai berkembang pesat di Indonesia. Prinsip dasarnya sederhana: keuntungan dan risiko dibagi bersama antara pemilik modal dan pengguna dana. Jika usaha yang didanai untung, keduanya menikmati hasil. Jika rugi, keduanya menanggung konsekuensinya secara proposional.
Model ini diwujudkan dalam berbagai produk: pembiayaan mudharabah dan musyarakah di bank syariah, sukuk sebagai alternatif obligasi, reksa dana syariah, hingga platform fintech syariah yang mulai menjamur. Keunggulannya bukan hanya pada aspek kepatuhan nilai akan tetapi juga pada transparansi dan keadilan mekanismenya.
Apa Yang Perlu Dilakukan Sekarang?
Jika kamu sedang mempertimbangkan pinjaman online, ada beberapa hal yang wajib diperiksa sebelum memutuskan. Pertama, pastikan platform terdaftar dan diawaji OJK. Kedua, hitung total biaya pinjaman, bukan hanya bunganya tapi juga biaya administrasi, asuransi, dan dendanya. Ketiga, tanyakan pada diri sendiri: apakah pinjaman ini untuk kebutuhan produktif atau hanya konsumtif?
Jika kamu punya waktu sedikit lebih banyak untuk mencari alternatif, produk keuangan berbasis bagi hasil bisa jadi pilihan yang lebih sehat baik untuk kantong maupun untuk ketenangan pikiran jangka panjang.
