Konten dari Pengguna

Hari Ibu: Mengingat Peran yang Sering Terlupa

Pinkan Deby Peace Sitorus

Pinkan Deby Peace Sitorus

Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Katolik Santo Thomas Medan

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Pinkan Deby Peace Sitorus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

www.istockphoto.com
zoom-in-whitePerbesar
www.istockphoto.com

Setiap 22 Desember, bangsa ini memperingati Hari Ibu. Ucapan selamat mengalir di media sosial, bunga dan hadiah dibagikan, serta kata “terima kasih” menggema di berbagai ruang. Namun, di balik perayaan simbolik itu, ada pertanyaan penting yang patut kita renungkan: sejauh mana kita sungguh-sungguh memahami dan menghargai peran ibu dalam kehidupan sosial kita? Hari Ibu kerap direduksi menjadi perayaan domestik semata, seolah peran ibu berhenti di dapur, ruang tamu, dan pengasuhan anak. Padahal, sejarah dan realitas menunjukkan bahwa peran ibu jauh melampaui batas-batas tersebut. Hari Ibu semestinya menjadi momen refleksi kritis untuk mengingat peran yang sering terlupa peran ibu sebagai subjek sosial, penggerak perubahan, dan penjaga nilai kemanusiaan.

Ibu dalam Sejarah dan Realitas Sosial

Hari Ibu di Indonesia berakar dari Kongres Perempuan Indonesia pertama pada 1928, sebuah tonggak sejarah yang menegaskan perjuangan perempuan termasuk para ibu dalam pendidikan, kesehatan, dan keadilan sosial. Fakta ini penting diingat karena menempatkan Hari Ibu bukan sekadar perayaan kasih sayang keluarga, melainkan juga peringatan atas perjuangan kolektif perempuan dalam ruang publik. Sayangnya, makna historis ini sering tertutup oleh narasi yang menempatkan ibu hanya sebagai figur domestik yang penuh pengorbanan, tanpa suara dan tanpa pilihan.

Dalam kehidupan sehari-hari, ibu memainkan peran ganda bahkan rangkap: pengasuh, pendidik pertama, pekerja, sekaligus pengelola emosi keluarga. Banyak ibu bekerja di sektor formal dan informal, menopang ekonomi rumah tangga, sambil tetap memikul beban pengasuhan yang tidak proporsional. Kerja-kerja ini sering tidak terlihat dan tidak diakui sebagai kontribusi ekonomi maupun sosial yang bernilai. Ketika peran ibu dianggap “kodrati” semata, maka penghargaan terhadap kerja dan hak-haknya menjadi kabur.

Beban Tak Terlihat dan Ketimpangan

Peran ibu yang sering terlupa juga tercermin dalam beban mental (mental load) yang mereka tanggung. Dari mengatur jadwal keluarga, memastikan kebutuhan anak terpenuhi, hingga menjaga keharmonisan relasi, banyak tugas ibu berlangsung tanpa jeda dan tanpa pengakuan. Beban ini diperberat oleh ketimpangan struktural: akses layanan kesehatan yang belum merata, perlindungan kerja yang minim bagi ibu bekerja, serta norma sosial yang masih menyalahkan ibu atas berbagai persoalan keluarga.

Dalam konteks kebijakan publik, suara ibu kerap tidak menjadi pusat pertimbangan. Cuti melahirkan yang terbatas, fasilitas ramah ibu dan anak yang belum memadai, serta kurangnya dukungan pengasuhan berbasis komunitas menunjukkan bahwa negara belum sepenuhnya hadir. Mengingat peran ibu berarti juga menuntut sistem yang adil yang tidak hanya memuji pengorbanan, tetapi menyediakan dukungan nyata.

Ibu sebagai Agen Nilai dan Perubahan

www.istockphoto.com

Di tengah tantangan zaman mulai dari disrupsi teknologi hingga krisis sosial ibu memegang peran penting sebagai agen nilai. Di rumah, ibu menanamkan empati, kejujuran, dan daya kritis. Di masyarakat, banyak ibu terlibat dalam kerja-kerja sosial, pendidikan komunitas, hingga advokasi lingkungan. Peran ini sering berlangsung sunyi, namun dampaknya berjangka panjang. Mengingat peran ibu berarti mengakui kapasitas mereka sebagai pengambil keputusan dan pemimpin, bukan sekadar pelaksana peran tradisional.

Narasi Hari Ibu perlu bergeser dari romantisasi pengorbanan menuju penguatan hak dan pilihan. Ibu berhak memilih jalan hidupnya bekerja di ruang publik, mengurus keluarga, atau mengombinasikan keduanya tanpa stigma dan tekanan. Penghormatan sejati lahir ketika pilihan itu dihargai dan difasilitasi.

Merayakan dengan Tindakan Nyata

Jika Hari Ibu hanya berhenti pada ucapan, maka maknanya akan cepat pudar. Perayaan yang bermakna menuntut tindakan nyata: pembagian kerja rumah tangga yang adil, dukungan emosional yang konsisten, serta kebijakan yang berpihak pada kesejahteraan ibu. Media juga memiliki peran strategis untuk menampilkan representasi ibu yang beragam ibu tunggal, ibu bekerja, ibu difabel agar pengalaman mereka tidak terpinggirkan.

Pendidikan menjadi kunci penting. Anak-anak perlu diajarkan sejak dini bahwa peran pengasuhan adalah tanggung jawab bersama. Dengan demikian, generasi mendatang tidak mewarisi ketimpangan yang sama, melainkan membangun relasi yang setara dan saling menghargai.

Hari Ibu adalah undangan untuk berhenti sejenak dan menatap lebih dalam. Mengingat peran yang sering terlupa berarti menggeser fokus dari simbol ke substansi, dari pujian ke perlindungan, dari romantisasi ke keadilan. Ibu bukan hanya sosok yang merawat kehidupan, tetapi juga penjaga nilai dan penggerak perubahan. Menghormati ibu berarti memastikan mereka didengar, dilindungi, dan diberdayakan setiap hari, bukan hanya pada satu tanggal. Dengan begitu, Hari Ibu menjadi momen kolektif untuk merawat kemanusiaan kita bersama.