Kecanduan Roblox

Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Katolik Santo Thomas Medan
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Pinkan Deby Peace Sitorus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam beberapa tahun terakhir, Roblox telah menjelma menjadi salah satu platform game online terpopuler di dunia, terutama di kalangan anak-anak dan remaja. Dengan slogan "Powering Imagination", Roblox mengklaim sebagai ruang kreatif yang memberi kebebasan bagi penggunanya untuk membangun dunia, membuat game sendiri, dan bahkan menghasilkan uang. Namun di balik citra positif itu, ada sisi gelap yang kerap diabaikan: Roblox adalah racun digital yang tersembunyi di balik kemasan kreativitas.
Sebagai orang tua, pendidik, atau sekadar anggota masyarakat yang peduli pada masa depan generasi muda, kita perlu membuka mata. Roblox bukan sekadar game. Ini adalah ekosistem kompleks yang menyatukan permainan, jejaring sosial, dan sistem monetisasi campuran yang bisa sangat berbahaya jika tidak diawasi dengan ketat.
Ekonomi Virtual yang Mengeksploitasi Anak
Salah satu daya tarik Roblox adalah sistem ekonomi virtualnya. Pengguna dapat membuat game dan menjual item menggunakan mata uang digital bernama Robux. Sekilas, ini terdengar hebat: anak-anak belajar wirausaha dan pemrograman. Namun, kenyataannya tak seindah itu.
Mayoritas pengembang konten di Roblox adalah anak-anak atau remaja yang tidak dibayar secara adil. Dalam banyak kasus, mereka menghabiskan ratusan jam menciptakan game dan aset tanpa memahami sistem royalti atau hak kekayaan intelektual. Roblox mengambil potongan besar dari setiap transaksi dalam beberapa kasus lebih dari 70%. Anak-anak ini bekerja layaknya pekerja digital, namun tanpa perlindungan hukum atau etika yang seharusnya mereka terima.
Platform ini memang menyediakan peluang, tetapi peluang itu lebih menguntungkan perusahaan ketimbang penggunanya. Inilah bentuk eksploitasi modern yang terjadi secara terselubung dan dilegalkan.
Ketergantungan dan Kecanduan
Selain eksploitasi, Roblox juga menjadi ladang subur bagi kecanduan digital. Game-game dalam platform ini dirancang dengan pola "reward loop" sistem imbalan berulang yang memicu pelepasan dopamin. Anak-anak mudah terjebak dalam siklus bermain tanpa akhir, mengejar mata uang virtual atau status sosial di dunia maya.
Banyak orang tua melaporkan anak-anaknya mengalami perubahan perilaku: sulit tidur, malas belajar, bahkan tantrum saat waktu bermain dibatasi. Roblox bukan sekadar “game santai”, melainkan ekosistem adiktif yang sulit dilepaskan, terutama bagi otak yang belum matang secara emosional.
Dalam jangka panjang, ini dapat mengganggu perkembangan sosial dan akademik anak-anak. Ketika dunia virtual menjadi lebih menarik daripada dunia nyata, kita sedang mencetak generasi yang kehilangan koneksi dengan realitas.
Bahaya Sosial dan Keamanan yang Diabaikan
Salah satu aspek paling meresahkan dari Roblox adalah fitur sosialnya. Anak-anak dapat berinteraksi dengan pemain lain melalui obrolan dalam game. Meski ada sistem moderasi, laporan tentang pelecehan, perundungan, bahkan eksploitasi seksual terus bermunculan.
Sudah banyak kasus di mana anak-anak terekspos pada konten dewasa atau dimanipulasi oleh orang asing yang menyamar sebagai teman sebaya. Beberapa predator seksual diketahui menggunakan Roblox sebagai “pintu masuk” untuk mendekati korban.
Pertanyaannya: seberapa serius Roblox menangani masalah ini? Tindakan mereka cenderung reaktif, bukan preventif. Moderasi tidak cukup cepat dan tidak selalu efektif. Keamanan seharusnya menjadi prioritas utama, terutama di platform yang sebagian besar penggunanya adalah anak-anak.
Kreativitas atau Ilusi?
Pendukung Roblox sering memuji platform ini sebagai alat belajar yang mendorong kreativitas, pemrograman, dan kolaborasi. Namun kita perlu membedakan antara kreativitas sejati dan ilusi kreativitas yang dikendalikan oleh sistem kapitalisme digital.
Anak-anak memang bisa membuat game, tapi kebebasan mereka dibatasi oleh kerangka Roblox sendiri. Konten yang viral cenderung mengikuti pola tertentu: cepat, menarik, dan mampu menghasilkan uang. Akibatnya, banyak pengguna hanya meniru tren daripada benar-benar berinovasi. Dalam jangka panjang, ini tidak memupuk kreativitas, melainkan membentuk anak-anak menjadi “produsen konten” yang bekerja untuk algoritma dan pasar.
Siapa yang Bertanggung Jawab?
Dalam menghadapi fenomena ini, kita tidak bisa hanya menyalahkan Roblox semata. Orang tua, pendidik, dan pemerintah harus mengambil peran aktif. Orang tua perlu lebih melek digital bukan hanya tahu cara menginstal aplikasi, tapi memahami ekosistem digital tempat anak-anak mereka tumbuh. Pembatasan waktu, pengawasan aktivitas online, dan komunikasi terbuka sangat penting.
Pemerintah juga harus turun tangan dengan regulasi yang lebih ketat terhadap platform digital yang menargetkan anak-anak. Mulai dari perlindungan data pribadi, sistem monetisasi, hingga mekanisme pengawasan konten dan interaksi sosial. Dunia digital bukan lagi dunia tanpa hukum apalagi jika anak-anak adalah penghuninya.
Roblox mungkin terlihat seperti taman bermain digital yang penuh warna dan imajinasi. Tapi di balik gemerlap itu, tersembunyi sistem yang bisa meracuni pikiran, waktu, dan masa depan anak-anak kita. Kreativitas yang dijanjikan seringkali hanyalah kedok untuk menciptakan ketergantungan dan eksploitasi.
Sudah saatnya kita melihat Roblox dengan kacamata yang lebih kritis bukan sebagai musuh, tetapi sebagai tantangan besar dalam mendidik dan melindungi generasi masa depan di era digital.
pinkan deby peace sitorus, mahasiswi universitas Katolik medan
