Pinisi sebagai Identitas Budaya Laut Masyarakat Sulawesi Selatan

Malik Abdul Aziz
Mahasiswa Pendidikan Sejarah Universitas Jember
Konten dari Pengguna
10 Oktober 2022 11:01 WIB
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Malik Abdul Aziz tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi Kapal Pinisi. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Kapal Pinisi. Foto: Shutterstock
ADVERTISEMENT
Pada zaman dahulu Sulawesi Selatan merupakan daerah pusat kegiatan perdagangan laut di Indonesia. Di Sulawesi Selatan ini sendiri terdapat perahu yang mana memiliki suatu simbol dan makna terhadap kebudayaan masyarakat bahari di sana yang mana perahu itu tidak lain dan tidak bukan adalah perahu Pinisi.
ADVERTISEMENT
Di Sulawesi Selatan sendiri terkenal dengan banyaknya kisah Pelaut Makassar Bugis yang mengarungi seluruh Nusantara. Adanya keberadaan kapal modern saat ini dikhawatirkan akan menggeser perahu dan kapal tradisional yang mana tidak hanya digunakan sebagai alat transportasi saja namun juga sebagai identitas simbol budaya kehidupan manusia Indonesia.
A. Sejarah Pinisi
Awal mula keberadaan Pinisi sendiri berkaitan dengan perkembangan sejarah kebudayaan Sulawesi Selatan dan perjalanan bahari masyarakat Indonesia pada umumnya. Perahu Pinisi sendiri berasal dari Perahu Pa’dewakang yang telah dimodifikasi yang mana dalam Bahasa Bulukumba atau Konjo berarti laju atau cepat. Seiring dengan perkembangan teknologi, kemudian lahir beberapa jenis Pinisi yang memiliki karakteristik dan ciri masing-masing.
Pada tahun 1950 terjadi perubahan fungsi dari Pinisi yang semula hanya dipakai sebagai alat angkut barang dagang pribadi saja beralih menjadi pemberi jasa angkutan laut. Selanjutna pada 1972 terjadi modernisasi pada Kapal Pinisi dengan pemberian motor mesin pada perahu sebanyak enam buah.
ADVERTISEMENT
Proses pembuatan dari Perahu Pinisi ini sangatlah unik yang mana dalam pembuatannya dilakukan dengan beberapa proses ritual seperti hari yang baik dalam pencarian kayu, penebangan pohon, peletakan lunas, pemasangan pengapit papan lunas dan peluncurannya. Adanya penggabungan dari beberapa konsep dasar diatas itulah kemudian muncul suatu simbol-simbol dan perlambangan.
Pesatnya perkembangan teknologi, menggeser peranan dari Kapal Pinisi yang sebelumnya sebagai transportasi angkutan barang antar pulau kemudian menjadi obyek pariwisata penunjang di Sulawesi Selatan.
B. Usaha Pemerintah dalam Melestarikan Perahu Pinisi
Pemerintah Republik Indonesia menggandeng pihak Pemerintah Daerah Makassar berusaha untuk mengangkat Perahu Pinisi sebagai suatu identitas kebanggaan bangsa Indonesia dengan berbagai upaya antara lain:
1. Melakukan lawatan Pelayaran ke Vancouver oleh Pinisi Nusantara
ADVERTISEMENT
2. Dipergunakannya Kapal Pinisi sebagai sarana kepariwisataan laut di Sulawesi Selatan
3. Diusulkannya materi “Perahu Pinisi Tradisional Sulawesi Selatan” untuk dimasukkan ke dalam materi pelajaran kurikulum lokal SD dan SMP di Sulawesi Selatan.
C. Sejarah Perahu dan Kapal Tradisional Sulawesi Selatan
Menurut Emmnuel dalam (2022) berpendapat bahwa Pelayaran di Sulawesi Selatan telah berkembang pesat sejak abad 9 dan 10 setelah masehi dengan ditandai bangkingnya Kerajaan Gowa sebagai negara maritim Indonesia Timur.
Salah satu perahu tertua di Sulawesi Selatan adalah Perahu Pinisi. Diketahui Pinisi tertua adalah berjenis Salompong yang mana terdapat undakan pada haluan perahunya. Dikarenakan kapasitasnya yang kecil dan berkecepatan lambat maka dibuatlah jenis baru yaitu “Pinisi Jonggolang” yang berkapasitas besar dan memiliki kecepatan layar cepat. Lalu jenis yang terakhir yaitu Perahu Pinisi Lambo yang mana terbentuk akibat dari berkembangnya teknologi modern dengan ditambahkannya mesin. Pinisi kemudian mengalami motorisasi pada 1972 dengan mulai digunakannya mesin pada perahu Pinisi.
ADVERTISEMENT