Konten dari Pengguna

Liburan Bareng Teman di Pulau Pari, Kepulauan Seribu

Pitri Nurjalilah

Pitri Nurjalilah

Mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan,Universitas Pamulang

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Pitri Nurjalilah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto: Dokumentasi pribadi saat liburan di Pulau Pari
zoom-in-whitePerbesar
Foto: Dokumentasi pribadi saat liburan di Pulau Pari

Di antara tenggat waktu yang tak kunjung usai dan notifikasi pekerjaan yang terus berbunyi, akhirnya kami sepakat: liburan ke Pulau Pari bersama teman-teman lama menjadi solusi untuk melepas penat. Hanya berjarak beberapa jam dari Jakarta, tetapi cukup membuat kepala terasa lebih tenang.

Kami berempat belas, teman lama sejak kuliah, akhirnya bisa berkumpul kembali untuk liburan bersama ke Pulau Pari, Kepulauan Seribu. Ada yang bekerja di kantor, ada yang pekerja lepas, bahkan ada yang baru saja mengundurkan diri (dan dia yang paling semangat mengajak berlibur). Setelah beberapa kali melakukan voting di grup WhatsApp yang lebih sering tidak direspons daripada dibalas, akhirnya kami sepakat untuk pergi ke Kepulauan Seribu, tepatnya Pulau Pari.

Tidak Mewah, Tapi Penuh Cerita

Kami menaiki kapal dari Muara Angke pukul delapan pagi. Barang bawaan? Lebih banyak camilan daripada pakaian ganti. Begitu sampai di pulau, semuanya langsung berubah: suara ombak, angin laut, dan suasana yang menenangkan seakan mampu melepaskan semua beban pikiran.

Kami menyewa homestay sederhana yang cukup nyaman. Siang harinya, kami melakukan snorkeling bersama, melihat ikan-ikan berwarna-warni dan terumbu karang yang membuat lupa akan cicilan. Sore hari, kami duduk di pantai sambil menikmati mi instan secara bersama-sama, sambil mengobrol santai. Momen sesederhana itu terasa sangat berharga.

Drama? Tentu Ada, Tapi Menghibur

Namanya juga liburan bersama teman, pasti ada saja dramanya. Ada yang lupa membawa pengisi daya, ada yang kesal karena hasil fotonya kurang bagus, hingga berebut tempat tidur seperti anak kos. Namun, malam hari justru menjadi saat yang paling seru: mengobrol di tepi pantai sambil menikmati suasana.

Yang membuat liburan bersama teman berbeda adalah: tidak ada yang perlu berpura-pura. Ingin bermalas-malasan di homestay? Boleh. Ingin berfoto ria? Silakan. Tidak ada ekspektasi, tidak ada tekanan. Hanya waktu berkualitas yang kini semakin sulit kita dapatkan.

Pulang dengan Hati yang Penuh

Keesokan harinya, kami pulang dengan kulit yang agak terbakar matahari, memori ponsel penuh foto-foto konyol, dan hati yang... entah mengapa terasa lebih ringan. Ternyata, liburan tidak harus jauh, tidak harus mahal, dan tidak perlu selalu terlihat estetik di Instagram. Yang penting: bersama orang-orang yang membuat kita nyaman menjadi diri sendiri.

Jika kamu merasa jenuh atau hampir burn out, mungkin ini saatnya membuka kalender, mengajak teman, mencari pulau, dan kabur sejenak. Terkadang, satu-dua hari saja cukup untuk mengingatkan kita bahwa hidup bukan hanya tentang pekerjaan, tetapi juga tcentang tertawa bersama orang-orang yang kita sayangi.

foto: Koleksi pribadi - diambil oleh (Dena Clara)