Festival Rana Muda: Kaum Muda Pimpin Aksi & Inovasi untuk Krisis Iklim & Bencana

Plan International telah bekerja di Indonesia sejak 1969 dan resmi menjadi Yayasan Plan International Indonesia (Plan Indonesia) pada tahun 2017. Kami bekerja untuk memperjuangkan pemenuhan hak anak dan kesetaraan bagi anak perempuan.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Plan Indonesia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Jakarta, 24 Mei 2025 – Kaum muda memainkan peran penting dengan menunjukkan kepedulian dan memimpin aksi menghadapi krisis iklim. Sebagai rangkaian penutup program Urban Nexus Fase 2, Festival Rana Muda digelar Sabtu (24/5) secara daring untuk mendiseminasikan dan menyerahkan hasil pembelajaran program yang berfokus pada pendekatan berbasis komunitas, inovasi teknologi, serta kolaborasi lintas sektor kepada para pemangku kebijakan.
Herbet Barimbing, Program Management Manager, Yayasan Plan International Indonesia (Plan Indonesia), mengungkapkan bahwa Urban Nexus Fase 2 yang merupakan hasil kolaborasi dengan MDMC Indonesia, Teens Go Green, dan didukung oleh DFAT-ANCP (The Department of Foreign Affairs and Trade Australian NGO Cooperation Program) dan Plan Australia, telah menunjukkan bahwa kaum muda bukan hanya pemimpin masa depan namun pemimpin hari ini.
“Selama tiga tahun terakhir, kaum muda membuktikan bahwa mereka bisa menunjukan perubahan nyata, terlihat dari langkah kecil dengan semangat besar. Berbagai kreativitas dan dedikasi ini berhasil berkontribusi terhadap masalah sampah, penciptaan komunitas tangguh bencana dan perubahan iklim, dan penciptaan ruang aman bagi semua” ungkap Herbet.
Aksi Iklim Kaum Muda dari Komunitas ke Kebijakan
Urban Nexus Fase 2 menghasilkan 163 pemimpin muda dari 27 provinsi yang telah melaksanakan 451 aksi iklim dan bencana dengan melibatkan lebih dari 24.000 peserta (61% di antaranya adalah perempuan muda), termasuk teman-teman dengan disabilitas. Beberapa inovasi yang dihasilkan kaum muda adalah alat pendeteksi dini banjir, alat tampung minyak jelantah (ATMijel), inisiasi pembentukan lima bank sampah dan inovasi filter air ramah lingkungan untuk situasi darurat. Tak hanya di tingkat komunitas, mereka juga aktif di ranah advokasi, termasuk berkolaborasi dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.
Aghny, salah satu Pemimpin Muda untuk Iklim dari Urban Nexus Fase 2, mengungkapkan bahwa dari program ini, ia banyak belajar dalam mengembangkan inovasi eco-filter sebagai solusi untuk mengatasi banjir di tempat tinggalnya di Kota Surabaya.
“Kami tergerak untuk membuat inovasi yang cocok untuk dibawa ke mana-mana untuk mengatasi banjir. Melalui hydrosafe kami bertujuan untuk membunuh mikroba yang banyak ditemukan di dalam air banjir, yang dapat menyebabkan penyakit. Kami dibekali pengetahuan untuk mengembangkan teknologi ini serta penanganan situasi banjir,” ungkap Aghny.
Festival daring hari ini dikemas dalam sebuah dongeng dimana para kaum muda menjadi ksatria yang menyampaikan cerita perjalanannya dengan metode pecha kucha. Masing-masing ksatria akan menampilkan 20 gambar dengan waktu 20 detik dengan efektif menceritakan perjalanannya selama mengikuti program urban nexus.
Beberapa perwakilan pemerintah yang turut hadir dalam festival ini meliputi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), serta Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Astrid Puspitasari, Penelaah Teknis Kebijakan Pusat Pengembangan Generasi Lingkungan Hidup menyatakan “Kita sudah menghadapi krisis iklim yang nyata, namun saya melihat semangat generasi muda yang ingin terlibat dalam isu ini. Urban Nexus memberikan ruang bagi kaum muda untuk membawa perubahan luar biasa. Karena itu, kolaborasi lintas sektor sangat dibutuhkan. Saya ingin mengajak generasi muda terus berkarya dan menjadi penggerak di komunitas masing-masing.”
