Konten dari Pengguna

Masa Depan Lingkungan Butuh Kaum Muda di Garis Depan

Plan Indonesia

Plan Indonesiaverified-green

Plan International telah bekerja di Indonesia sejak 1969 dan resmi menjadi Yayasan Plan International Indonesia (Plan Indonesia) pada tahun 2017. Kami bekerja untuk memperjuangkan pemenuhan hak anak dan kesetaraan bagi anak perempuan.

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Plan Indonesia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di tengah dua transisi besar dunia, krisis iklim dan transformasi digital, satu hal menjadi jelas: masa depan planet ini tidak akan aman tanpa kepemimpinan kaum muda. Meski memiliki semangat, inovasi, dan kedekatan langsung dengan isu-isu yang ada, kaum muda masih sering disingkirkan dari ruang-ruang pengambilan keputusan. Bukan karena mereka tidak mampu atau tidak mau, namun karena pengambilan kebijakan belum dibangun untuk benar-benar inklusif dan mudah diakses.

Hak kaum muda untuk berpartisipasi secara bermakna dalam pembangunan dan tata kelola lingkungan adalah hak sipil dan politik yang mendasar. Namun yang sering terjadi hanyalah bentuk partisipasi simbolis, undangan formal ke meja diskusi, konsultasi tanpa tindak lanjut, dan kampanye yang hanya menampilkan kaum muda tanpa benar-benar mendengarkan suara mereka.

Padahal kaum muda memiliki semangat dan komitmen besar untuk perubahan. Pembangunan harus hadir di tempat mereka berada, melalui alat yang relevan, bahasa yang mudah dipahami, dan tindakan yang sesuai dengan realitas mereka.

Berdasarkan laporan Girls’ Activism and Leadership for Climate Justice in Asia and the Pacific, oleh Plan International, responden dari Indonesia merasa bahwa kebijakan yang ada belum melibatkan kaum muda dan kelompok rentan lainnya. Kesenjangan antara niat dan aksi ini harus segera diatasi.

Gerakan Kaum Muda yang Tak Bisa Diabaikan

Di berbagai wilayah Asia Pasifik, kaum muda sudah bergerak: membangun solusi komunitas, memimpin kampanye edukasi iklim, berinovasi lewat teknologi hijau, dan mendorong reformasi kebijakan. Mereka memahami konteks lokal lebih dalam dibandingkan pendekatan top-down.

Contoh kepemimpinan kaum muda sudah terlihat jelas. Melalui inisiatif seperti pertanian regeneratif, literasi digital tentang iklim, dan advokasi hijau dari akar rumput, aksi-aksi kaum muda mendorong perubahan nyata.

Plan International Asia Pacific, melalui program Youth Leadership Academy (YLA) for Gender and Climate Action, program regional yang dilaksanakan di lima negara: Indonesia, India, Vietnam, Thailand, dan Filipina. Program ini melibatkan 40 pemimpin muda, di mana 65% di antaranya berasal dari kelompok termarjinalkan, dan sedang menjalankan inisiatif-inisiatif lokal di negara masing-masing. Dua kelompok kaum muda YLA di Indonesia bernama Ecovibes dan SAFE (Student Action For Environment) berhasil turun ke berbagai komunitas di wilayah rentan bencana dan dampak krisis iklim untuk mengadakan workshop dalam mendaur ulang sampah, menciptakan pameran seni dari bahan-bahan daur ulang, serta mengadakan dialog dengan pemimpin daerah.

Sejak tahun 2024, para kaum muda ini tidak hanya menciptakan perubahan di level lokal, namun juga telah berpartisipasi dalam forum-forum penting global dan regional, seperti Asia-Pacific Ministerial Conference on Disaster Risk Reduction (APMCDRR) di Filipina, Conference of the Parties ke-29 (COP29) di Baku, Azerbaijan, dan kini tengah bersiap menuju COP30 di Brasil serta Youth Leadership Summit 2025 di Jakarta pada bulan Oktober mendatang. Program ini telah mendukung puluhan inisiatif kaum muda yang membuktikan bahwa ketika kaum muda diberikan kepercayaan, mereka mampu menunjukkan hasil nyata.

Ketika hadir dan berbicara di Pertemuan Tahunan ke-58 Asian Development Bank (ADB) di Milan, Italia, bulan Mei lalu dengan lebih dari 5.000 peserta termasuk menteri keuangan, gubernur bank sentral, dan organisasi masyarakat sipil, saya melihat bahwa seluruh pemimpin dunia mengakui pentingnya kaum muda dan berkomitmen untuk mendorong keterlibatan ini lebih jauh.

Sesi bertajuk “Dual Pathways to Economic Inclusion: Equipping Underrepresented Youth for Digital and Green Futures” yang diselenggarakan bersama Asia Pacific Youth Exchange Philippines dan Plan International Australia, menekankan bahwa 70 persen peserta YLA adalah perempuan muda dan kelompok yang termarjinalkan, cerminan komitmen program terhadap pembangunan yang inklusif.

Dari pengalaman ini, ada tiga rekomendasi utama:

1. Lembagakan partisipasi bermakna: Pemerintah dan institusi iklim harus melampaui keterlibatan simbolik dan menempatkan suara kaum muda secara nyata dalam struktur pengambilan kebijakan, terutama di tingkat lokal yang paling terdampak iklim.

2. Dukung inovasi yang dipimpin kaum muda: Program yang memperkuat dan mereplikasi solusi iklim berbasis komunitas yang dikembangkan oleh kaum muda perlu diberikan pendanaan, pendampingan, dan dukungan teknis.

3. Investasi jangka panjang untuk kepemimpinan kaum muda: Pelatihan satu kali tidak cukup. Membentuk pemimpin muda membutuhkan investasi berkelanjutan dalam pengembangan kapasitas, mentoring, dan kesempatan untuk terlibat di forum nasional hingga global.

Rekomendasi ini bukan teori, tetapi lahir dari praktik nyata. Pengalaman YLA menunjukkan bahwa ketika kaum muda diberdayakan, dampaknya menjangkau dari kelas, ladang, hingga ke ruang sidang dan konferensi internasional.

Saatnya Suara Kaum Muda Menentukan Agenda Lingkungan

Hari Lingkungan Hidup Sedunia, yang diperingati setiap tanggal 5 Juni, seharusnya tidak hanya menjadi seruan untuk menjaga bumi, tetapi juga menjadi momen refleksi: kelompok mana saja yang suaranya benar-benar membentuk agenda lingkungan? Kaum muda, khususnya perempuan dan kelompok yang terpinggirkan, bukan hanya pemimpin masa depan, mereka adalah pemimpin hari ini. Mereka punya solusi, dan motivasi kuat untuk menghadapi ketidakadilan iklim.

Mengabaikan peran nyata kaum muda membawa dampak serius. Baik dalam transisi energi, adaptasi iklim, maupun transformasi digital. Seluruh upaya akan kurang efektif jika tidak inklusif. Kaum muda, terutama perempuan muda, kaum muda adat, dan penyandang disabilitas, harus menjadi pusat dari semua inisiatif ini. Pertanyaannya bukan lagi apakah kaum muda mampu berkontribusi, tapi apakah kita siap membangun sistem yang benar-benar memberi ruang bagi mereka.

Pemerintah perlu membangun mekanisme yang mengintegrasikan partisipasi kaum muda bukan hanya secara simbolik, tapi juga secara struktural dan fungsional. Kebijakan iklim, strategi pengurangan risiko bencana, dan rencana pembangunan lokal harus menjadikan kaum muda sebagai co-designer, bukan hanya penerima manfaat. Sektor swasta juga punya peran, memberikan mentoring, menginkubasi inovasi komunitas, dan menciptakan lapangan kerja hijau yang menempatkan kaum muda di posisi kepemimpinan.

Kini saatnya kita berhenti melihat kaum muda sebagai penerima perubahan, dan mulai melihat mereka sebagai pelaku utama transformasi. Mereka tidak menunggu mewarisi dunia yang rusak, mereka sudah bergerak untuk memperbaikinya. Di Hari Lingkungan Hidup Sedunia ini, mari kita berkomitmen membangun sistem yang layak bagi keberanian, visi, dan kepemimpinan mereka. #YLALeadingTheCharge

________________________________________

Royke Antou adalah Project Manager, bekerja di Plan International Indonesia dan mengelola program Youth Leadership Academy for Gender and Climate Action, sebuah inisiatif regional yang didukung oleh The Rockefeller Foundation.