Konten dari Pengguna

Review Laundry Show: Kisah Wirausaha yang Lagi-lagi Terganggu Cinta

Play Stop Rewatch

Play Stop Rewatchverified-green

Media yang fokus membahas pop culture dan aktif di channel YouTube serta instagram.

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Play Stop Rewatch tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

video youtube embed

Play Stop Rewatch, Jakarta – Upi Avianto, atau biasa disapa Upi, akhirnya kembali ke bioskop setelah My Generation yang kontroversial akibat interpretasinya soal generasi milenial. Masih dengan genre komedi, kali ini ia kembali dengan film yang berjudul Laundry Show di mana ia menjadi penulis naskah dan berduet dengan sutradara Rizki Balki.

Laundry Show sendiri berkisah tentang upaya Uki (Boy William) untuk merintis usaha laundry usai mengundurkan diri dari pekerjaan lamanya. Seperti kebanyakan alasan karyawan resign dari pekerjaannya, Uki merasa jenuh dan tidak dihargai oleh bosnya.

Sayangnya, mengurus bisnis ternyata tidak semudah bayangan Uki. Walau sudah mendapatkan motivasi dari Ario Keukeuh dan dukungan ibunya, Uki menemukan berbagai tentangan mulai dari karyawan yang absurd hingga kompetitor yang hadir di saat bersamaan, Agustina (Gisella Anastasia). Padahal, ia sudah merogoh kocek dalam-dalam untuk bisnisnya, bahkan hingga menjual mobil untuk merenovasi ruko dan membeli peralatan laundry.

Patut diakui bahwa premis Laundry Show tergolong sederhana, tentang seorang pria yang jatuh bangun memulai bisnis cuci baju. Meski begitu, Upi dan Rizki Balki mengeksekusinya dengan lumayan. Cerita Laundry Show nyaman diikuti dan kebanyakan karakternya digarap dengan baik agar memiliki peran integral di dalam kisah besar Laundry Show.

Sayangnya, tokoh utama kedua yaitu Agustina malah tidak dieksekusi dengan baik. Awalnya, ia dipersiapkan sebagai sosok antagonis dan ancaman terhadap bisnis Uki. Namun, perlahan-lahan, karakterisasinya mulai bergeser dari ancaman menjadi calon love interest Uki. Walhasil, unsur ancaman yang awalnya dibangun dengan baik berakhir sia-sia. Jujur saja, akan lebih bagus kalau karakter Agustina tetap dipertahankan menjadi anak orang kaya yang hanya main-main dalam membuka bisnis seperti dugaan Uki.

Pengembangan karakter Agustina yang mengecewakan tersebut pada akhirnya berdampak ke resolusi ceritanya. Laundry Show berakhir dengan mudah di mana kisah cinta Uki dan Agustina berperan besar dalam memecahkan segala konflik yang dibangun. Padahal, ada potensi mengeksplor kemampuan Uki menggunakan akal dan kecerdasannya untuk mengalahkan Agustina secara fair and Square. Misalnya, lewat pengetahuan Uki soal bagaimana ia menghilangkan noda pakaian dengan cepat.

Rizki Balki, sang sutradara, tampaknya salah menafsirkan skenario yang ditulis Upi. Sebab, jika melihat pengembangan di awal film, tampak jelas bahwa film ini sesungguhnya dipersiapkan Upi sebagai studi tentang keberagaman, persaingan bisnis, dan perjuangan kelas bawah. Namun, potensi itu tertutupi oleh plot romantis yang malah membuat film ini berakhir klise.

Kekurangan lainnya yang patut disinggung adalah komedinya. Walaupun menimbulkan gelak tawa, komedi yang disajikan tidak sampai menimbulkan tawa lepas. Laundry Show lebih sukses memberikan rasa kasmaran ‘malu-malu mau’ Agustina kepada Uki dibandingkan memberikan punchline komedi pada setiap premis yang ada.

Terlepas dari segala kekurangannya, Laundry Show tetaplah film yang menghibur. Kekurangan yang ada tidak menyebabkan kerusakan yang menyeluruh. Sederhananya, film ini dibangun dengan baik tapi tidak diselesaikan dengan baik.

Untuk review lebih lengkap, kalian bisa tonton pada video di bawah ini:

Penulis: Andri Guna Santoso