Bisnis
·
23 Mei 2018 10:29

Gringgo, Teknologi untuk Mengelola Sampah

Konten ini diproduksi oleh Plug and Play Indonesia
Sukses meluluskan sembilan startup pada batch pertama tahun lalu, Plug and Play Indonesia kembali hadir dengan batch kedua. Program yang berlangsung selama tiga bulan ini memilih tiga belas startup yang dinilai paling baik dalam sisi kematangan bisnis dan komitmen founder. Salah satu dari tiga belas startup tersebut adalah Gringgo, platform teknologi digital yang memungkinkan penggunanya mendapat jasa penjemputan sampah ke rumah dengan tarif tertentu.
ADVERTISEMENT
Febriadi Pratama, Co-founder dan Chief Technology (CTO) Gringgo, menyebut program akselerator Plug and Play Indonesia memberinya kesempatan untuk bertemu banyak orang dan berkolaborasi dengan banyak pihak. Program yang memberikannya seed funding ini menurutnya sangat membantu pertumbuhan bisnisnya.
Gringgo mendigitalisasi sistem manajemen sampah
Febri menyebut Gringgo lahir dari inisiatif Olivier Pouillon, CEO Gringgo. Olivier sudah bergelut di bisnis pengelolaan sampah selama lebih dari dua puluh tahun. Pengalaman tersebut mendorongnya menciptakan sebuah teknologi mobile sebagai digitalisasi sistem manajemen sampah yang fokus menciptakan network kolektor sampah untuk mengelola sampah lebih baik.
Berawal dengan nama “Cash for Trash”, kini Gringgo telah menemukan model bisnisnya, yaitu aplikasi yang membuat penggunanya dapat memantau secara real time mengenai proses pengangkutan sampah hingga tempat pembuangan akhir dan pendauran ulang. Gringgo ingin menjadi solusi sebagai manajemen pengelola sampah yang menyediakan data valid terkait volume sampah per hari dan sistem pengelolaan sampah terintegrasi.
ADVERTISEMENT
Keyakinan dalam memberi solusi membuat Gringgo bertahan
Dalam prosesnya, bukanlah perkara mudah bagi Gringgo untuk bertahan dan terus berjalan. Berbagai tantangan mulai dari hidup dan bekerja tanpa income hingga meyakinkan berbagai pihak mengenai ide bisnis yang dijalankan harus dihadapi. Namun, berbagai tantangan tersebut tak membuang langkah Febri dan kawan-kawan surut. Menurutnya, keyakinan bahwa Gringgo mampu menjadi solusi bagi masyarakat membuatnya dapat melangkah sejauh ini.
“We always believe that we can come up with a good solution and create a better living for a lot of people. We also believe that the waste industry is a big business market and we have big opportunity to be sustainable,” jelasnya.
Pria yang menjadikan Steve Jobs sebagai sosok inspirasi terbesarnya ini juga membagikan harapannya untuk perkembangan Gringgo. Ia berharap dalam lima tahun mendatang, Gringgo mampu menjadi perusahaan terbesar dalam bidang pengelolaan sampah secara digital di Asia Tenggara. Menyusul dapat mengurangi 50% sampah plastik laut di dunia sepuluh tahun dari sekarang.
ADVERTISEMENT
Harapan itu berbanding lurus dengan definisinya mengenai kesuksesan. Febri menilai, kesuksesan adalah kemampuan menciptakan sesuatu yang bermanfaat bagi banyak orang. “It created better living and changed people’s live,” ungkapnya.
Kegagalan membuat Gringgo tumbuh makin besar
Tak berbeda dengan startup pada umumnya, Febri mengakui telah mengecap yang namanya kegagalan. Kurangnya fokus dan keinginan untuk hanya mendapatkan hasil tanpa memahami proses yang harus dijalani menjadi beberapa hal yang menuntunnya pada kegagalan tersebut.
“I’ve created several businesses without knowing how to proceed and without having focus on the business. Resulting on failure of the business. I learned that, to have a good business you don’t have to be able to do everything, but you have to know everything to be able to see chances and opportunities,” jelasnya.
ADVERTISEMENT
Sebagai hasil dari beberapa kegagalan dan sejumlah pengalaman selama terjun di dunia entrepreneur, Febri menyarankan agar setiap startup founder setidaknya memiliki tiga kemampuan mendasar, yaitu kemampuan melihat peluang, good networking skill, dan ketekunan.
Bergabungnya Gringgo dengan Plug and Play Indonesia
Gringgo, Teknologi untuk Mengelola Sampah (83544)
Febri menyebut pertemuan Gringgo dengan Plug and Play Indonesia berlangsung di Global Venture Summit event di Bali. Menurutnya, Plug and Play Indonesia menawarkan nilai yang lebih baik jika dibandingkan dengan sejumlah program akselerator lainnya. Berbagai informasi mengenai program akselerasi yang berbasis di Silicon Valley ini juga membuatnya makin yakin dengan keputusan untuk bergabung di batch kedua.
Proses applying dalam program Plug and Play Indonesia, disebut Febri, juga cukup mudah dan cepat. “It was pretty straight forward, not much hassle and the Plug and Play team was very helpful in making sure we can submit everything for the application,” ucapnya. Sementara itu, bagian terbaik dari bergabung dengan Plug and Play Indonesia bagi Febri adalah network dan kesempatan bertemu dengan sejumlah startup menarik lainnya.
ADVERTISEMENT
"Being exposed to the startup ecosystem in Jakarta has been the best part. Meeting other startup founders and their team members as well as meeting interesting and helpful mentors from so many different sectors and experience levels,” tutupnya.