81 Tahun Merdeka: Dari Perangkat ke Pembelajaran

Analis Kebijakan Ahli Madya, PSKP BKPDM Kemendikdasmen Doktor dari Maastricht University, the Netherlands
·waktu baca 8 menit
Tulisan dari Ferdi Widiputera tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Menjelang 17 Agustus, suasana sekolah selalu berubah. Merah Putih mulai terpasang di halaman dan ruang kelas. Latihan upacara terdengar sejak pagi. Berbagai kegiatan disiapkan untuk merayakan hari kemerdekaan.
Tahun ini Indonesia genap berusia 81 tahun. Tema resminya, “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur,” terasa menarik jika dibawa ke ruang kelas. Kemerdekaan tidak hanya bicara tentang apa yang telah kita capai sebagai bangsa, tetapi juga tentang bagaimana kita menyiapkan generasi berikutnya.
Di banyak sekolah, salah satu perubahan yang paling mudah terlihat saat ini adalah hadirnya Papan Interaktif Digital (PID) atau Interactive Flat Panel (IFP). Guru kini dapat menghadirkan video, simulasi, kuis, gambar, bahan ajar, dan berbagai sumber belajar digital langsung di depan kelas.
Skala programnya besar. Pada Februari 2026, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menyampaikan bahwa PID untuk sekitar 288 ribu satuan pendidikan telah terdistribusi 100 persen dan hampir seluruhnya sudah mulai digunakan. Program digitalisasi pembelajaran ini merupakan bagian dari pelaksanaan Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 2025, yang antara lain mengamanatkan percepatan digitalisasi pembelajaran.
Capaian tersebut patut diapresiasi. Membawa perangkat pembelajaran ke ratusan ribu sekolah di negara dengan bentang geografis seperti Indonesia tentu bukan pekerjaan sederhana.
Setelah perangkat tiba dan mulai digunakan, perhatian kita wajar bergeser. Pertanyaannya sekarang adalah apa yang terjadi di kelas setelah layar itu dinyalakan.
Apakah guru mempunyai lebih banyak pilihan untuk menjelaskan materi? Apakah murid mendapatkan pengalaman belajar yang lebih kaya? Apakah konsep yang sebelumnya sulit dijelaskan menjadi lebih mudah dipahami?
Di ruang kelas, makna kemerdekaan itu kemudian terasa lebih konkret.
Guru Tetap Memegang Kendali
Dalam ruang kelas yang semakin digital, kedaulatan justru terlihat dari kemampuan guru menentukan bagaimana teknologi digunakan.
PID menyediakan banyak kemungkinan. Sebuah konsep dapat divisualisasikan, teks dapat dianotasi bersama, kuis formatif bisa dilakukan saat itu juga, dan hasil kerja murid dapat ditampilkan untuk dibahas bersama.
Namun perangkat tidak mengetahui kondisi sebuah kelas. Ia tidak tahu murid mana yang belum memahami materi, kapan diskusi perlu diperpanjang, atau kapan guru justru perlu menutup layar dan mengajak anak-anak berbicara langsung.
Keputusan seperti itu tetap menjadi wilayah profesional guru.
Pengalaman internasional memberi pelajaran yang relevan. Yinghui Shi dan koleganya melakukan meta-analisis mengenai penggunaan interactive whiteboard yang diterbitkan dalam Interactive Learning Environments. Kajian tersebut mengidentifikasi 23 artikel jurnal yang telah melalui proses peer review dan memenuhi kriteria penelitian. Secara keseluruhan, pembelajaran berbasis papan interaktif menunjukkan pengaruh positif terhadap hasil belajar kognitif dibandingkan pembelajaran berbasis ceramah tradisional. Kajian itu juga menunjukkan bahwa pendekatan pedagogis merupakan salah satu faktor yang memengaruhi efektivitas penggunaannya.
Ini tentu bukan berarti setiap pelajaran harus menggunakan layar. Teknologi akan berguna ketika memang membantu guru mencapai tujuan pembelajaran.
Penelitian Şule Betül Tosuntaş, Engin Karadağ, dan Sevil Orhan memberikan gambaran dari sisi guru. Studi terhadap 158 guru dalam proyek FATIH di Turki, yang diterbitkan di Computers & Education, menunjukkan bahwa persepsi mengenai manfaat, kemudahan penggunaan, dan pengaruh sosial berkaitan dengan niat menggunakan papan interaktif. Penggunaan aktual juga berkaitan dengan niat menggunakan serta tersedianya kondisi pendukung.
Tentu kita tidak bisa memindahkan temuan dari Turki begitu saja ke Indonesia. Perangkat dan konteks pendidikannya berbeda. Tetapi ada satu pelajaran yang masuk akal untuk dibawa pulang: menyediakan perangkat dan membangun kemampuan untuk memanfaatkannya secara bermakna adalah dua pekerjaan yang berbeda.
Kemendikdasmen sendiri sudah bergerak ke arah tersebut. Pada Maret 2026, kementerian menjalankan Program Alumni Pejuang Digital dengan melibatkan 150 alumni penerima beasiswa LPDP untuk mendampingi 150 sekolah dasar di wilayah 3T dan daerah khusus. Sebelum bertugas, peserta mendapat pembekalan yang mencakup aspek teknis, pedagogi, literasi digital, komunikasi lintas budaya, hingga coaching bagi guru. Penugasan dilakukan selama tiga bulan dan menyentuh pembelajaran di kelas, aspek manajerial sekolah, serta pengimbasan ke sekolah lain di sekitarnya.
Pendekatan seperti ini penting karena persoalan guru di kelas biasanya jauh lebih konkret daripada sekadar memahami fungsi sebuah perangkat.
Guru matematika mungkin sedang mencari cara agar grafik lebih mudah dipahami. Guru IPA ingin menunjukkan proses yang terlalu kecil atau terlalu cepat untuk diamati langsung. Guru sejarah ingin membawa lebih banyak sumber ke ruang kelas agar murid tidak hanya membaca satu narasi.
PID menjadi bermakna ketika membantu guru menjawab kebutuhan-kebutuhan semacam itu.
Bagi saya, di sinilah makna berdaulat menjadi konkret: guru tetap menentukan arah pembelajaran, sementara teknologi memperluas pilihannya.
PID dan Pembelajaran Mendalam
Digitalisasi pembelajaran berlangsung ketika Kemendikdasmen juga sedang memperkuat pendekatan Pembelajaran Mendalam.
Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025 memperkuat arah kurikulum melalui pendekatan tersebut. Murid didorong tidak sekadar menghafal materi, tetapi memahami konsep secara utuh, menghubungkan pengetahuan, dan menerapkannya dalam konteks yang berbeda.
Karena itu, pemanfaatan PID akan lebih bermakna jika benar-benar mendukung Pembelajaran Mendalam di kelas.
Dalam pelajaran IPA, misalnya, guru dapat menampilkan simulasi. Tetapi kegiatan tidak perlu selesai setelah murid melihatnya. Mereka dapat diminta membuat dugaan, mengubah variabel, mengamati perubahan, berdiskusi dengan teman, lalu menjelaskan apa yang mereka pahami.
Dalam matematika, perubahan sebuah parameter bisa langsung diperlihatkan melalui grafik. Dalam sejarah, murid dapat membandingkan peta, foto, dokumen, dan beberapa sumber mengenai peristiwa yang sama. Dalam pembelajaran bahasa, sebuah teks dapat dibaca dan diberi anotasi bersama.
Di SMK, visualisasi dan simulasi dapat membantu mendekatkan pembelajaran dengan situasi kerja ketika alat atau kondisi sebenarnya belum dapat dihadirkan di kelas.
Nilai PID karena itu tidak terletak pada layarnya yang besar atau banyaknya fitur yang tersedia. Nilainya terlihat ketika perangkat membantu murid mengamati, mencoba, membandingkan, berdiskusi, dan akhirnya memahami sesuatu dengan lebih baik.
Guru memang perlu mengenal fitur perangkat. Setelah itu, pendampingan dapat bergerak ke pertanyaan yang lebih dekat dengan pekerjaan mereka sehari-hari: materi apa yang selama ini sulit dipahami murid, dan bagaimana teknologi dapat membantu?
Dengan cara itu, guru memulai dari kebutuhan belajar murid, lalu menentukan apakah dan bagaimana PID dapat membantu.
Keadilan Tidak Berhenti pada Perangkat
Kata adil dalam tema kemerdekaan tahun ini juga punya relevansi dengan digitalisasi pendidikan.
Kehadiran PID di sekitar 288 ribu satuan pendidikan memperluas akses sekolah terhadap teknologi pembelajaran. Namun titik awal setiap sekolah tidak sama.
Ada sekolah yang memiliki internet stabil, guru yang telah terbiasa menggunakan berbagai sumber digital, serta dukungan teknis yang mudah diperoleh. Sekolah lain membutuhkan pendampingan lebih besar untuk memanfaatkan perangkat yang sama.
Karena itu, pemerataan perangkat perlu diikuti pemerataan kesempatan untuk memperoleh manfaatnya.
Program Alumni Pejuang Digital memberikan salah satu contoh pendekatan yang mempertimbangkan konteks tersebut. Sebanyak 150 sekolah sasaran berada di empat kabupaten, yaitu Sumedang, Kupang, Halmahera Utara, dan Merauke, dengan pemilihan yang mempertimbangkan wilayah 3T, ketersediaan perangkat digital, serta kebutuhan peningkatan literasi dan numerasi.
Kebutuhan pendampingan juga tidak selalu seragam. Guru SD dapat membutuhkan contoh penggunaan yang berbeda dari guru SMA atau SMK. Guru matematika mempunyai kebutuhan yang tidak selalu sama dengan guru bahasa. Sekolah dengan konektivitas terbatas pun membutuhkan strategi berbeda dengan sekolah yang akses internetnya relatif stabil.
Keadilan dalam digitalisasi, dengan demikian, tidak harus berarti semua sekolah memperoleh bentuk dukungan yang sama persis. Yang lebih penting adalah memastikan sekolah memperoleh dukungan yang sesuai agar murid di berbagai daerah mempunyai kesempatan merasakan manfaat teknologi dalam pembelajaran.
Setelah Distribusi, Saatnya Melihat Pembelajaran
Pada tahap awal program berskala besar, pemerintah tentu perlu memastikan perangkat diterima, dipasang, berfungsi, dan digunakan. Semua itu bagian dari akuntabilitas.
Ketika distribusinya sudah mencapai skala ratusan ribu satuan pendidikan, ada kesempatan untuk melengkapi ukuran keberhasilan tersebut dengan pertanyaan yang lebih dekat ke kelas.
Bagaimana PID digunakan oleh guru? Apakah membantu menjelaskan konsep yang sulit? Apakah murid memperoleh lebih banyak kesempatan berinteraksi dengan materi? Apakah guru lebih mudah melakukan asesmen formatif?
Kemendikdasmen sendiri telah mendokumentasikan pendekatan pendampingan di Kota Mataram. Dinas pendidikan setempat memanfaatkan pengawas sekolah, supervisi akademik, pengimbasan, serta forum berbagi praktik baik antarguru dan antarsekolah. Pemanfaatan PID diarahkan menjadi media interaktif dan tidak berhenti pada fungsi presentasi.
Pengalaman seperti ini penting karena Indonesia sekarang memiliki kesempatan besar untuk belajar dari programnya sendiri.
Dengan jumlah sekolah pengguna yang sangat besar, kita dapat mengetahui pola pemanfaatan PID, kendala yang paling sering dihadapi guru, dukungan yang paling membantu, dan praktik yang layak dikembangkan di tempat lain. Evaluasinya tidak harus menjadi formulir baru yang menambah beban guru. Sampel sekolah, observasi pembelajaran, wawancara, supervisi akademik, dan dokumentasi praktik dapat memberikan informasi yang jauh lebih bermakna.
Tujuannya bukan mencari kekurangan sekolah atau guru. Hasilnya justru dapat membantu pemerintah menentukan bentuk dukungan berikutnya secara lebih tepat.
Dalam jangka panjang, makna makmur juga berkaitan dengan hasil investasi pendidikan terhadap kualitas manusia. Teknologi akan benar-benar bernilai ketika ikut membantu membentuk anak-anak yang mampu memahami persoalan, berpikir kritis, bekerja sama, mencipta, dan menggunakannya secara bertanggung jawab.
Mengisi Kemerdekaan dari Ruang Kelas
Delapan puluh satu tahun setelah Proklamasi, anak-anak Indonesia tumbuh dalam dunia yang sangat berbeda dengan generasi 1945. Informasi datang dalam hitungan detik. Kecerdasan artifisial semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari. Video, media sosial, mesin pencari, dan berbagai sumber digital menjadi bagian dari lingkungan mereka.
Sekolah perlu merespons perubahan itu, tetapi teknologi tetap membutuhkan arah.
Di ruang kelas, berdaulat berarti guru tetap mempunyai kendali atas bagaimana teknologi digunakan untuk belajar. Adil berarti sekolah di berbagai daerah memperoleh kesempatan dan dukungan agar perangkat benar-benar bermanfaat. Sementara makmur berarti investasi pendidikan pada akhirnya membantu membangun kualitas manusia Indonesia.
Membawa PID ke sekitar 288 ribu satuan pendidikan merupakan langkah besar. Kini terbuka tahap berikutnya: memastikan teknologi itu benar-benar hidup dalam proses belajar.
Barangkali beberapa tahun dari sekarang kita tidak lagi terlalu sibuk membicarakan berapa banyak PID yang terpasang. Perangkat itu sudah menjadi bagian biasa dari ruang kelas.
Yang kemudian lebih penting adalah apa yang terjadi saat PID digunakan: apakah guru terbantu menjelaskan, murid lebih terlibat, dan materi yang sulit menjadi lebih mudah dipahami.
Jika itu semakin banyak terjadi, digitalisasi pendidikan tidak hanya membuat ruang kelas terlihat lebih modern.
Ia menjadi salah satu cara konkret untuk mengisi kemerdekaan—dengan memperkuat guru dan membuka kesempatan belajar yang lebih baik bagi anak-anak Indonesia.
