Konten dari Pengguna

Mengapa Inflasi dan Pengangguran terjadi?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Popi Pebrianti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Ilustrasi dibuat menggunakan ChatGPT.
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Ilustrasi dibuat menggunakan ChatGPT.

“Sekarang kok jarang beli nasi di sini?”

Pertanyaan sederhana itu mungkin terdengar biasa. Tetapi bagi pemilik warung makan, pertanyaan tersebut bisa menjadi tanda bahwa ada sesuatu yang sedang berubah.

Beberapa waktu lalu, kita mungkin masih terbiasa membeli makan siang, kopi, gorengan, atau sekadar jajan setelah pulang kerja. Namun, ketika harga kebutuhan mulai terasa lebih mahal, pilihan kecil pun berubah. Yang biasanya membeli lauk lengkap mulai memilih satu lauk. Yang biasanya membeli minuman tambahan mulai membawa air dari rumah. Bahkan makan di luar yang sebelumnya dianggap biasa, perlahan menjadi sesuatu yang harus dipikirkan.

Bagi pembeli, perubahan itu mungkin hanya terasa seperti, “Lagi hemat.”

Namun, coba lihat dari sisi pemilik warung.

Ketika pelanggan mengurangi pembelian, omzet ikut turun. Pemilik warung kemudian mengurangi jumlah bahan yang dibeli agar makanan tidak banyak tersisa. Jika kondisi berlangsung lama, jam kerja pegawai bisa dikurangi. Bahkan, bukan tidak mungkin pemilik memilih menjalankan warung sendiri tanpa tambahan tenaga kerja.

Di sinilah cerita sebuah warung kecil ternyata berhubungan dengan ekonomi makro.

Masalahnya bukan lagi sekadar seseorang mengurangi uang jajannya. Ada hubungan antara harga, daya beli, produksi, dan kesempatan kerja yang saling memengaruhi.

Inflasi sering kali kita kenal sebagai kenaikan harga barang dan jasa secara umum dan terus-menerus. Tetapi bagi masyarakat, inflasi sebenarnya tidak terasa dalam bentuk angka. Inflasi terasa ketika uang yang biasanya cukup untuk membeli beberapa kebutuhan, sekarang hanya cukup untuk sebagian.

Misalnya, seseorang tetap menerima gaji Rp4 juta setiap bulan. Secara nominal, pendapatannya tidak berubah. Namun, jika harga makanan, transportasi, kebutuhan rumah tangga, dan berbagai pengeluaran lainnya meningkat, kemampuan uang tersebut untuk membeli barang menjadi lebih kecil.

Inilah yang membuat inflasi terasa begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Persoalannya menjadi lebih menarik ketika daya beli masyarakat melemah. Ketika orang mulai mengurangi belanja, pelaku usaha bisa menghadapi penurunan permintaan. Pedagang kemudian menyesuaikan stok, restoran mengurangi produksi, dan perusahaan dapat menahan ekspansi.

Jika berlangsung luas dan cukup lama, kondisi tersebut dapat memengaruhi pasar tenaga kerja.

Artinya, pengangguran tidak selalu muncul karena seseorang tidak mau bekerja.

Ada kalanya pekerjaan tersedia lebih sedikit karena dunia usaha sedang berhati-hati. Perusahaan yang menghadapi penjualan yang menurun tentu akan berpikir ulang sebelum membuka cabang baru atau merekrut banyak karyawan. Sebagian bahkan mungkin mengurangi jam kerja atau menunda perekrutan.

Di sinilah kita perlu melihat inflasi dan pengangguran bukan sebagai dua masalah yang berdiri sendiri.

Keduanya dapat berhubungan dengan kondisi perekonomian secara keseluruhan.

Ketika ekonomi tumbuh dan aktivitas usaha meningkat, permintaan terhadap barang dan jasa biasanya ikut meningkat. Dunia usaha membutuhkan lebih banyak pekerja sehingga kesempatan kerja dapat bertambah. Sebaliknya, ketika aktivitas ekonomi melemah, perusahaan dapat mengurangi produksi dan kebutuhan tenaga kerja.

Namun, menurut saya, tantangannya bukan sekadar memilih satu masalah: menekan inflasi atau mengurangi pengangguran.

Yang lebih penting adalah bagaimana menjaga keseimbangan. Inflasi yang terlalu tinggi dapat menggerus daya beli masyarakat, tetapi kebijakan yang terlalu menekan aktivitas ekonomi juga berisiko membuat dunia usaha semakin sulit berkembang dan menyerap tenaga kerja.

Karena itu, pembahasan ekonomi makro seharusnya tidak berhenti pada angka pertumbuhan ekonomi, tingkat inflasi, atau tingkat pengangguran di layar berita.

Angka-angka tersebut sebenarnya sedang menceritakan kehidupan kita.

Ketika ibu mulai mengurangi belanja di pasar, ketika mahasiswa memilih membawa bekal, ketika pekerja mulai menghitung ulang biaya perjalanan ke kantor, atau ketika warung dekat rumah mulai kehilangan pelanggan, di sanalah ekonomi makro sedang bekerja.

Dan mungkin, ketika suatu hari kita melihat sebuah warung yang semakin sepi, kita tidak bisa langsung menyimpulkan bahwa masyarakat sudah tidak suka makan di sana.

Bisa jadi mereka masih ingin membeli.

Hanya saja, uang yang mereka punya sudah tidak lagi memiliki daya beli seperti sebelumnya.

Di balik warung yang sepi, bisa ada cerita tentang inflasi. Di balik pegawai yang jam kerjanya dikurangi, bisa ada cerita tentang melemahnya aktivitas ekonomi. Dan di balik seseorang yang sulit mendapatkan pekerjaan, bisa ada persoalan ekonomi yang jauh lebih besar daripada sekadar “kurang berusaha”.

Itulah mengapa ekonomi makro sebenarnya tidak jauh dari kehidupan kita.

Kita tidak perlu menjadi ekonom untuk merasakannya. Cukup pergi ke warung, membuka dompet, dan memperhatikan apa yang berubah.