Konten dari Pengguna

AI bagi Peserta Didik: Antara Membantu atau Mengganti Proses Berpikir

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Pormadi Simbolon tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi AI bagi Peserta Didik (Foto: chatGPT/Pormadi)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi AI bagi Peserta Didik (Foto: chatGPT/Pormadi)

Seorang siswa mendapat tugas menulis esai. Ia membuka laptop, mengetik beberapa kalimat pada chatbot kecerdasan buatan (AI), lalu dalam hitungan detik memperoleh tulisan yang rapi, argumentatif, dan hampir tanpa kesalahan tata bahasa. Tugas selesai. Nilainya mungkin baik. Tetapi, apakah ia belajar?

Pertanyaan sederhana ini semakin penting ketika AI menjadi bagian dari kehidupan peserta didik. Teknologi yang dahulu digunakan untuk mencari informasi kini mampu menjelaskan konsep, menyusun argumentasi, memecahkan soal matematika, menerjemahkan teks, membuat presentasi, bahkan menulis esai.

Persoalannya bukan lagi hanya apakah anak menggunakan AI. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: apakah AI membantu anak berpikir atau justru menggantikan proses berpikirnya?

Pertanyaan ini mendapat perhatian dari Majalah The Economist melalui tulisan Does AI Stop Children from Learning? (18/8/2026). Artikel tersebut mengutip penelitian terhadap 26.811 siswa berusia 12–18 tahun di China. Penggunaan AI meningkatkan nilai pekerjaan rumah sekitar 18 persen dan mengurangi waktu pengerjaan dari rata-rata 64 menit menjadi 45 menit. Namun, ketika menghadapi ujian, siswa yang menggunakan AI memperoleh hasil sekitar 20 persen lebih rendah dibandingkan kelompok pembanding.

Temuan tersebut memperlihatkan paradoks yang patut direnungkan dunia pendidikan. AI dapat membuat siswa lebih produktif, tetapi produktivitas belum tentu berarti pembelajaran.

Selama ini kita cenderung menganggap tugas yang dikerjakan dengan baik sebagai bukti bahwa siswa telah belajar. AI membuat asumsi itu tidak lagi sesederhana sebelumnya. Seorang siswa dapat menghasilkan tulisan yang baik tanpa membaca banyak sumber, menyelesaikan soal tanpa memahami konsep, dan membuat presentasi tanpa benar-benar menguasai materi.

Dengan AI, hubungan antara performance dan learning menjadi semakin longgar.

Jalan pintas intelektual

Persoalan tersebut dapat dijelaskan melalui apa yang disebut cognitive offloading: manusia menyerahkan sebagian pekerjaan mental kepada alat di luar dirinya.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sudah lama melakukan praktik semacam ini. Kalkulator mengambil alih sebagian pekerjaan berhitung. Mesin pencari mengambil alih sebagian pekerjaan mengingat informasi. GPS membantu kita menemukan jalan tanpa harus menghafal peta.

AI membawa fenomena itu ke tingkat yang berbeda. Ia bukan hanya menyimpan atau menemukan informasi, tetapi dapat melakukan sebagian pekerjaan yang sebelumnya dianggap sebagai aktivitas intelektual manusia: merumuskan gagasan, menyusun argumen, meringkas, menerjemahkan, bahkan menghasilkan keputusan awal.

Di sinilah pendidikan perlu berhati-hati. Anak yang menggunakan kalkulator setelah memahami konsep matematika tentu berbeda dengan anak yang menggunakan kalkulator untuk menghindari belajar berhitung. Demikian pula, siswa yang menggunakan AI setelah mencoba menulis esai berbeda dengan siswa yang menyerahkan seluruh proses penulisan kepada AI.

Perbedaannya bukan pada alatnya, melainkan pada siapa yang melakukan pekerjaan berpikir.

AI dapat menjadi teman belajar ketika siswa bertanya, “Mengapa jawaban saya salah?” atau “Berikan argumen yang berlawanan dengan pendapat saya.”

Namun AI berubah menjadi pengganti berpikir ketika pertanyaannya hanya, “Kerjakan tugas ini untuk saya.” Atau "Buatkan tulisan tentang ini untuk tugas saya!"

Belajar memang membutuhkan kesulitan

Kita hidup dalam budaya yang sangat menghargai kecepatan. Teknologi dianggap semakin baik ketika mampu menghemat waktu dan mengurangi usaha.

Namun pendidikan memiliki logika yang agak berbeda. Tidak semua usaha adalah pemborosan. Tidak semua kesulitan harus dihilangkan.

Seorang siswa yang membaca buku dan mengalami kebingungan sedang belajar. Siswa yang mencoba menyelesaikan soal dan melakukan kesalahan sedang belajar. Siswa yang menulis paragraf, menghapusnya, lalu menulis kembali sedang belajar.

Proses semacam itu memang tidak efisien. Tetapi justru di sanalah kemampuan intelektual terbentuk. Hal ini yang terjadi di saat kemajuan teknologi tidak sepesat ini.

Paulo Freire (2000) mengingatkan bahwa pendidikan bukan sekadar proses memasukkan informasi ke dalam kepala peserta didik. Pendidikan harus memungkinkan manusia menjadi subyek yang mampu membaca realitas dan mengembangkan kesadaran kritis.

Dalam konteks AI, gagasan tersebut menjadi semakin relevan. Tantangan pendidikan bukan sekadar membuat anak mampu memperoleh jawaban, tetapi membuat mereka mampu mempertanyakan jawaban.

Hannah Arendt menempatkan aktivitas berpikir sebagai salah satu ciri penting kehidupan manusia. Berpikir berarti mengambil jarak, mempertimbangkan, menilai dan berdialog dengan diri sendiri.

AI dapat menghasilkan jawaban dalam hitungan detik. Tetapi AI tidak boleh membuat manusia kehilangan kebiasaan untuk berhenti dan bertanya: Benarkah jawaban ini? Mengapa saya mempercayainya? Apa yang belum saya pertimbangkan?

Peran Guru justru semakin penting

Karena itu, respons pendidikan terhadap AI tidak cukup berupa larangan. Larangan mungkin diperlukan untuk situasi tertentu, terutama ketika AI digunakan untuk menyontek atau memalsukan pekerjaan. Namun larangan saja tidak akan mempersiapkan anak menghadapi dunia yang memang akan dipenuhi AI.

Yang dibutuhkan adalah literasi AI sekaligus literasi berpikir. Peserta didik perlu belajar menggunakan AI sebagai alat untuk menguji gagasan, mencari perspektif alternatif, memperoleh umpan balik dan memperbaiki pemahaman. Pada saat yang sama, mereka harus belajar memeriksa sumber, menemukan kesalahan AI, membandingkan informasi dan mempertanggungjawabkan kesimpulannya.

Di sinilah peran guru justru menjadi semakin penting. Jika dahulu guru terutama dipandang sebagai sumber pengetahuan, di era AI guru semakin penting sebagai pendamping pembentukan penalaran. AI dapat memberikan seribu jawaban, tetapi guru membantu peserta didik memahami pertanyaan mana yang layak diajukan.

Konsekuensinya, cara sekolah menilai siswa juga perlu berubah. Tugas yang hanya meminta “jawaban akhir” semakin mudah dikerjakan AI. Penilaian perlu memberi ruang lebih besar pada proses: bagaimana siswa sampai pada kesimpulan, bagaimana ia menggunakan sumber, bagaimana ia mempertahankan argumen dan bagaimana ia memperbaiki kesalahan.

AI untuk memperkuat manusia

Akhirnya, persoalan AI dalam pendidikan bukanlah pertarungan antara manusia dan mesin. Pertanyaannya adalah untuk apa manusia menggunakan mesin.

Jika AI digunakan untuk menghilangkan seluruh proses berpikir, pendidikan kehilangan sebagian fungsi dasarnya. Namun jika AI digunakan untuk memperluas pertanyaan, memperdalam pemahaman dan menantang siswa melihat persoalan dari perspektif berbeda, teknologi dapat menjadi kekuatan yang memperkaya pendidikan.

Karena itu, sekolah tidak perlu mengajarkan anak untuk takut kepada AI. Sekolah justru harus mengajarkan anak agar tidak menyerahkan pikirannya kepada AI.

AI boleh membantu kita berpikir. AI bahkan dapat membuat kita berpikir lebih luas dan lebih cepat. Tetapi ada satu hal yang tidak boleh kita serahkan kepadanya: tanggung jawab untuk berpikir. Singkatnya, peran AI adalah membantu berpikir bukan menggantikan berpikir.