Bangkit Bersama dalam Pengharapan di Era Kecemasan Digital

Alumnus Magister Ilmu Filsafat STF Driyarkara Jakarta. Penulis buku Pemikiran Zygmunt Bauman (2024) dan buku Mendidik dengan Iman dan Cinta (2025). Buku dapat dipesan via: https://s.id/PesanBukuPormadi
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Pormadi Simbolon tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di tengah derasnya arus informasi dan percepatan teknologi digital, manusia modern justru menghadapi paradoks besar: semakin terkoneksi, semakin banyak pula yang merasa terasing. Semakin terhubung, tetapi semakin kesepian pula.
Era digital yang dijanjikan membawa kemudahan dan kebebasan ternyata juga melahirkan kecemasan baru. Informasi bergerak tanpa henti, media sosial membentuk tekanan sosial yang tak kasat mata, kecerdasan buatan mulai menggantikan banyak peran manusia, sementara ketidakpastian ekonomi global terus menghantui kehidupan sehari-hari.
Dalam situasi seperti ini, press release Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) yang ditandatangani pada tanggal 20 Mei 2026 dan dipublikasikan pada 22 Mei 2026 bertajuk “Bangkit Bersama dalam Pengharapan” menjadi relevan dan penting untuk direnungkan.
Seruan tersebut bukan sekadar pesan rohani bagi umat Katolik, melainkan panggilan moral dan sosial bagi seluruh masyarakat Indonesia untuk tidak tenggelam dalam pesimisme zaman.
Kecemasan Digital dan Masyarakat yang Rapuh
Sosiolog Zygmunt Bauman menyebut dunia modern hari ini sebagai liquid modernity (2000)—modernitas cair. Dalam masyarakat cair, hampir semua hal menjadi tidak stabil: pekerjaan, identitas, relasi sosial, bahkan kebenaran. Dunia digital makin mempercepat kondisi itu.
Media sosial menciptakan budaya perbandingan tanpa akhir. Banyak orang merasa harus selalu tampil sempurna, sukses, dan relevan. Akibatnya, ruang digital berubah menjadi arena kecemasan sosial. Orang takut tertinggal, takut tidak diakui, takut kehilangan eksistensi. Fenomena fear of missing out (FoMO), kecanduan validasi digital, hingga meningkatnya gangguan kesehatan mental menjadi tanda bahwa kemajuan teknologi tidak otomatis menghasilkan ketenangan batin.
Sejumlah data empiris memperlihatkan gejala tersebut. Penelitian di Indonesia tahun 2025 menunjukkan adanya hubungan signifikan antara intensitas penggunaan media sosial dan kesehatan mental remaja. Sebanyak 57,9% responden mengalami kecanduan media sosial tingkat ringan, sementara 38,2% mengalami gejala depresi ringan (Syauqi, Muhammad Syahruzzidan As., Pepin Nahariani, Jurnal Ilmiah Keperawatan, Vol. 20 No. 2 2025). Penelitian lain menyebut penggunaan media sosial yang berlebihan meningkatkan risiko kecemasan, depresi, hingga keinginan bunuh diri pada remaja akibat tekanan validasi sosial dan budaya perbandingan digital (unair.ac.id, 15 Oktober 2025 diakses 22/5/2026).
Bahkan, laporan World Health Organization (WHO) tahun 2025 menyatakan bahwa satu dari enam orang di dunia mengalami kesepian (loneliness), yang berdampak serius terhadap kesehatan fisik maupun mental. WHO menyebut isolasi sosial sebagai “tantangan besar zaman ini” (who.int, 30 Juni 2025, diakses 22/5/2026)
Ironisnya, di era ketika manusia dapat berkomunikasi kapan saja melalui gawai, rasa kesepian justru meningkat. Penelitian internasional di Amerika Serikat juga menunjukkan bahwa semakin lama waktu yang dihabiskan di media sosial, semakin tinggi tingkat kesepian dan gangguan psikologis yang dialami seseorang (Tore, Bonsaksen, dkk. Jurnal Health Psychology and Behavioral Medicine, Volume 11, 2023).
AI, Ketidakpastian, dan Kecemasan Baru
Kecerdasan buatan (AI) membawa peluang besar, tetapi juga melahirkan kecemasan baru. Banyak pekerjaan mulai tergantikan otomatisasi. Dunia pendidikan mengalami disrupsi. Informasi palsu semakin sulit dibedakan dari fakta. Bahkan relasi manusia perlahan dimediasi oleh algoritma.
Dalam konteks ini, manusia modern menghadapi apa yang disebut Bauman sebagai unsicherheit — perasaan tidak aman yang terus-menerus. Orang hidup dalam ketidakpastian pekerjaan, identitas, dan masa depan. Generasi muda khususnya menghadapi tekanan besar untuk terus relevan dalam sistem digital yang bergerak cepat.
Laporan WHO Eropa tahun 2024 memperlihatkan peningkatan tajam penggunaan media sosial bermasalah pada remaja, dari 7% pada 2018 menjadi 11% pada 2022 (who.int, 25 September 2024, diakses 22/5/2026). Sementara studi terbaru menunjukkan perilaku adiktif terhadap media sosial dan layar digital meningkatkan risiko gangguan emosional serta kecenderungan bunuh diri pada remaja (theguardian, 18 Juni 2025, diakses 22/5/2026)
Bahkan perkembangan AI generatif mulai memunculkan persoalan psikologis baru. Beberapa peneliti memperingatkan risiko ketergantungan emosional manusia terhadap chatbot AI, terutama pada individu yang mengalami isolasi sosial atau gangguan mental (arXiv.org, 25 Juli 2025, diakses 22 Mei 2025).
Yang muncul kemudian adalah masyarakat yang mudah lelah, mudah marah, dan mudah kehilangan harapan.
Harapan sebagai Tindakan Sosial
Dalam konteks inilah tema “bangkit bersama dalam pengharapan” memperoleh makna mendalam. Harapan bukan sekadar optimisme pribadi, melainkan energi sosial untuk mempertahankan kemanusiaan di tengah dunia yang semakin mekanis.
Filsuf Ernst Bloch (1986, terbitan MIT Ress) menyebut harapan sebagai prinsip yang mendorong manusia menciptakan masa depan yang lebih manusiawi. Harapan bukan pelarian dari kenyataan, melainkan keberanian menghadapi kenyataan.
Karena itu, “bangkit bersama” berarti membangun solidaritas di tengah budaya individualisme digital. Dunia hari ini cenderung mendorong manusia hidup dalam gelembung masing-masing: algoritma media sosial mempersempit dialog, politik identitas memecah masyarakat, dan ekonomi digital sering hanya menguntungkan segelintir pihak besar.
Pesan KWI mengingatkan bahwa kebangkitan nasional tidak cukup hanya diukur lewat pertumbuhan ekonomi atau kemajuan teknologi. Kebangkitan sejati harus menyentuh dimensi kemanusiaan: apakah masyarakat semakin peduli satu sama lain? Apakah ruang publik semakin adil? Apakah teknologi dipakai untuk memperkuat martabat manusia atau justru memperlemah?
Melawan Kolonialisme Digital Baru
Era digital juga melahirkan bentuk kolonialisme baru. Jika dahulu penjajahan dilakukan melalui penguasaan wilayah fisik, kini dominasi terjadi melalui data, algoritma, dan platform digital global. Banyak masyarakat menjadi konsumen pasif teknologi tanpa memiliki kedaulatan digital sendiri.
Paus Pope Leo XIV dalam ensiklik pertamanya, Magnifica Humanitas, mengingatkan bahaya dehumanisasi teknologi ketika manusia diperlakukan sekadar data dan komoditas ekonomi. Teknologi seharusnya membantu manusia berkembang, bukan menjadikan manusia objek manipulasi pasar digital.
Karena itu, harapan di era digital juga berarti keberanian membangun etika teknologi. Pendidikan harus membentuk manusia kritis, bukan sekadar pengguna teknologi. Generasi muda perlu dibekali kemampuan reflektif agar tidak mudah diperbudak algoritma. Negara juga harus hadir melindungi masyarakat dari ketimpangan digital dan eksploitasi data.
Jika tidak, masyarakat akan terus hidup dalam kecemasan kolektif: takut tergantikan, takut dimanipulasi, dan takut kehilangan makna hidup.
Kebangkitan yang Memanusiakan
Peringatan Kebangkitan Nasional seharusnya tidak berhenti sebagai seremoni tahunan. Kebangkitan hari ini menuntut keberanian baru: membangkitkan kembali solidaritas, empati, dan tanggung jawab sosial di tengah dunia yang semakin individualistis.
“Bangkit bersama dalam pengharapan” berarti menolak menyerah pada sinisme zaman. Harapan menjadi bentuk perlawanan terhadap budaya ketakutan dan keputusasaan yang diproduksi terus-menerus oleh dunia digital.
Di tengah kecemasan digital, manusia membutuhkan lebih dari sekadar teknologi canggih. Manusia membutuhkan makna, relasi, dan rasa kebersamaan. Sebab pada akhirnya, bangsa tidak dibangun hanya oleh kecerdasan teknologi, tetapi juga oleh kemampuan warganya menjaga harapan bersama. Harapan adalah bentuk keberanian paling manusiawi yang masih kita miliki.
