Konten dari Pengguna

Gunung Meletus Meruntuhkan Kesombongan Manusia Modern

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Pormadi Simbolon tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Gunung Meletus (Foto: ChatGPT/Pormadi)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Gunung Meletus (Foto: ChatGPT/Pormadi)

Ketika beberapa gunung meletus (Gunung Sinabung, Semeru, Anak Krakatau, Ibu, dan beberapa gunung lainnya), kita sudah seharusnya berhenti sejenak dan bertanya: sebenarnya siapa yang sedang menguasai siapa?

Selama berabad-abad, peradaban manusia dibangun di atas sebuah keyakinan besar: alam harus ditaklukkan. Hutan harus dibuka. Sungai harus dibendung. Gunung harus dieksploitasi. Laut harus dikuasai. Tanah harus dipaksa menghasilkan sebanyak mungkin. Teknologi kemudian menjadi senjata utama manusia dalam proyek besar tersebut.

Semakin canggih teknologi, semakin besar pula keyakinan bahwa manusia tidak lagi perlu tunduk kepada alam.

Teknologi Membuat Kita Pintar

Masalah terbesar manusia modern bukanlah kurangnya pengetahuan. Justru sebaliknya.

Kita hidup pada zaman ketika manusia mengetahui lebih banyak daripada generasi mana pun dalam sejarah. Kita dapat mengakses informasi dalam hitungan detik. Kita memiliki kecerdasan buatan, satelit, superkomputer, dan teknologi yang dahulu hanya hidup dalam cerita fiksi ilmiah.

Namun pertanyaannya adalah: Apakah semakin pintar berarti semakin bijaksana? Belum tentu.

Martin Heidegger sudah lama mengingatkan bahwa teknologi bukan sekadar alat netral. Teknologi dapat membentuk cara manusia melihat dunia. Ketika segala sesuatu dipandang hanya sebagai sesuatu yang dapat digunakan, dihitung, dikuasai, dan dieksploitasi, manusia kehilangan kemampuan untuk melihat dunia sebagai sesuatu yang memiliki makna di luar kepentingannya.

Itulah tragedi modernitas terjadi. Manusia memiliki teknologi yang semakin besar, tetapi tidak selalu memiliki kebijaksanaan yang sebanding untuk menggunakannya.

Ilusi Berbahaya

Bahasa kita sendiri sering memperlihatkan cara berpikir yang problematis. Kita berbicara tentang “menaklukkan alam”. Gunung yang meletus tidak sedang berperang melawan manusia. Gunung tidak memiliki ambisi politik. Laut tidak memiliki dendam. Gempa tidak sedang memilih siapa yang harus dihukum. Alam menjalankan hukumnya sendiri. Justru manusialah yang sering membangun kehidupan dengan mengabaikan hukum-hukum tersebut.

Kita membangun di tempat yang berisiko, kemudian terkejut ketika risiko itu menjadi kenyataan. Kita mengabaikan tata ruang, kemudian menyebut akibatnya sebagai “bencana yang tidak terduga”. Kita merusak daerah resapan, lalu heran ketika banjir datang. Kita mengabaikan peringatan, tetapi kemudian menyalahkan nasib.

Indonesia Terlalu Akrab dengan Bencana

Indonesia adalah negeri yang hidup di atas cincin api. Kita memiliki gunung api aktif, berada di wilayah pertemuan lempeng tektonik, dan menghadapi berbagai ancaman gempa, tsunami, banjir, longsor, serta erupsi. Artinya, kita seharusnya menjadi salah satu bangsa dengan budaya mitigasi bencana paling kuat di dunia.

Tetapi apakah kita sudah seperti itu? Sering kali kita baru serius ketika bencana sudah terjadi. Ketika gunung mulai menunjukkan aktivitas, perhatian meningkat. Ketika status dinaikkan, masyarakat mulai panik. Ketika korban sudah berjatuhan, bantuan mulai berdatangan. Ketika media mulai memberitakan, para pejabat mulai datang.

Lalu setelah beberapa minggu? Kita perlahan kembali lupa. Inilah salah satu kelemahan terbesar kita: kita lebih pandai merespons bencana daripada mencegah tragedi.

Dalam tradisi teologi, iman tidak pernah dimaksudkan untuk menghapus tanggung jawab manusia. Dalam Kitab Kejadian, manusia dipercaya untuk mengusahakan dan memelihara bumi. Kata memelihara sangat penting. Manusia bukan diberi mandat untuk menghancurkan ciptaan, melainkan merawatnya.

Paus Fransiskus, melalui Laudato Si' (2015), mengkritik apa yang disebut sebagai paradigma teknokratis: kecenderungan manusia modern untuk percaya bahwa setiap persoalan dapat diselesaikan hanya dengan kekuatan teknologi dan penguasaan. Padahal, krisis ekologis adalah juga krisis moral.

Kita tahu banyak hal. Tetapi kita tidak selalu mau bertanggung jawab. Kita mampu melakukan sesuatu. Tetapi kita tidak selalu bertanya apakah sesuatu itu seharusnya dilakukan. Itulah perbedaan antara kemampuan dan kebijaksanaan.

Gunung Mengajarkan Kerendahan Hati

Di hadapan gunung yang meletus, semua manusia pada dasarnya sama. Di sinilah gunung memberikan pelajaran filosofis yang mungkin paling sulit diterima manusia modern: Ada batas bagi kekuasaan kita.

Filsuf Hans Jonas (1984) berbicara tentang prinsip tanggung jawab. Semakin besar kemampuan manusia, semakin besar pula tanggung jawabnya. Tetapi manusia modern sering melakukan sebaliknya. Semakin besar kekuasaan, semakin besar eksploitasi. Semakin besar teknologi, semakin besar kesombongan. Semakin besar kemampuan, semakin kecil kerendahan hati.

Kita perlu membalik logika itu. Semakin besar teknologi kita, seharusnya semakin besar tanggung jawab kita. Semakin mampu kita mengubah alam, semakin berhati-hati kita seharusnya. Semakin banyak pengetahuan yang kita miliki, semakin sadar kita akan keterbatasan pengetahuan tersebut. Itulah kedewasaan peradaban.

Ujian Peradaban

Kita sering mengatakan bahwa bencana adalah ujian. Tetapi mungkin kita perlu bertanya: Siapa sebenarnya yang sedang diuji? Apakah gunung? Tidak. Gunung hanya menjadi gunung.

Yang sedang diuji adalah manusia. Apakah kita mampu mendengarkan ilmu pengetahuan? Apakah kita mampu membuat kebijakan berdasarkan keselamatan, bukan kepentingan ekonomi? Apakah kita mampu menghormati batas-batas alam? Apakah kita mampu merencanakan sebelum tragedi terjadi? Apakah kita mampu meninggalkan kesombongan bahwa teknologi akan selalu menyelamatkan kita? Bencana menguji kualitas peradaban.

Sebuah masyarakat tidak dapat disebut maju hanya karena memiliki gedung tinggi, jalan tol panjang, atau teknologi canggih. Masyarakat yang benar-benar maju adalah masyarakat yang mampu melindungi kehidupan warganya.

Kemajuan tanpa keselamatan adalah kesombongan. Teknologi tanpa etika adalah bahaya. Pembangunan tanpa penghormatan terhadap alam adalah utang yang suatu hari akan ditagih oleh kenyataan.

Gunung tidak membutuhkan kerendahan hati kita. Alam tidak membutuhkan pengakuan kita.

Justru kitalah yang membutuhkan kerendahan hati agar dapat bertahan hidup. Sebab manusia tidak akan menjadi lebih besar dengan menaklukkan seluruh alam.

Manusia justru menjadi besar ketika ia menyadari bahwa dirinya kecil—dan dari kesadaran itu lahir kebijaksanaan untuk menjaga kehidupan. Teknologi dapat membuat manusia semakin kuat. Tetapi hanya kerendahan hati yang dapat membuat manusia cukup bijaksana untuk tidak menghancurkan dirinya sendiri.