Konten dari Pengguna

Pesan Paus Leo XIV: Komunikasi Sejati, Memanusiakan Manusia

Pormadi Simbolon

Pormadi Simbolon

Alumnus Magister Ilmu Filsafat STF Driyarkara Jakarta. Penulis buku Pemikiran Zygmunt Bauman (2024) dan buku Mendidik dengan Iman dan Cinta (2025). Buku dapat dipesan via: https://s.id/PesanBukuPormadi

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Pormadi Simbolon tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Paus Leo XIV (Foto: Istimewa)
zoom-in-whitePerbesar
Paus Leo XIV (Foto: Istimewa)

Di tengah derasnya arus informasi hari ini, kita seperti hidup dalam dunia yang tak pernah sunyi—namun justru terasa semakin sepi. Pesan datang tanpa henti, notifikasi berdering tanpa jeda, dan opini berhamburan di ruang digital. Tetapi di balik semua itu, sebuah pertanyaan mendasar mengemuka: apakah kita masih sungguh-sungguh berkomunikasi?

Pesan Paus Leo XIV pada Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-60 yang dirayakan pada 17 Mei tahun 2026 ini dengan tema "Menjaga Suara dan Wajah Manusia" (dalam Dept. Dokpen KWI, Pesan Paus Leo XIV untuk Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-60) menekankan bahwa komunikasi sejati bukan hanya soal penyampaian informasi atau data tetapi ajakan untuk membangun perjumpaan antarwajah, sebagaimana Allah berkomunikasi dengan umat manusia melalui Yesus Kristus. Komunikasi harus kembali pada martabat manusia sebagai pribadi (persona), bukan sebagai objek konten.

Komunikasi sejati: perjumpaan antar wajah

Dalam pesannya, Paus menegaskan bahwa komunikasi sejati tidak boleh direduksi menjadi sekadar distribusi informasi dan data. “Walaupun kecerdasan buatan dapat membantu dan mendukung dalam berbagai tugas komunikasi, menghindari usaha berpikir sendiri dan merasa cukup dengan hasil olahan statistik buatan, dalam jangka panjang dapat melemahkan kemampuan kognitif, emosional, dan komunikasi kita”, (dalam Dokpen KWI Hlm. 4). Dalam kalimat ini, kita diingatkan bahwa inti komunikasi adalah perjumpaan—bukan sekadar konektivitas.

Namun, lanskap digital hari ini bergerak dalam logika yang berbeda. Algoritma mendorong kecepatan, bukan kedalaman; viralitas, bukan kebenaran. Akibatnya, komunikasi sering kali berubah menjadi arus konten: cepat, masif, tetapi dangkal. Kita terkoneksi, tetapi tidak selalu saling memahami.

Di Indonesia, fenomena ini tampak nyata. Menurut data siaran pers Kementerian Komunikasi dan Digital tahun 2024 menunjukkan bahwa sejak Agustus 2018 hingga akhir 2023, sedikitnya 12.547 konten hoaks telah diidentifikasi dan diverifikasi. Bahkan, dalam satu bulan saja bisa muncul lebih dari seratus konten hoaks baru. Dalam satu periode pemantauan, tercatat lebih dari seribu isu hoaks berkembang menjadi hampir dua ribu konten yang tersebar di berbagai platform.

Lebih mengkhawatirkan lagi, menurut data (metrotvnews.com, 8/8/2024) lebih dari 60 persen masyarakat Indonesia mengakses informasi melalui media sosial—ruang yang sering kali tidak menyediakan mekanisme verifikasi yang memadai. Tidak mengherankan jika sekitar 71 persen publik menganggap hoaks sebagai masalah serius (Laporan Kominfo 2022), namun tetap kesulitan membedakan mana yang benar dan mana yang menyesatkan.

Dalam konteks ini, peringatan Paus menjadi semakin relevan. Ia mengingatkan bahwa dunia komunikasi kita sedang menghadapi ancaman serius dari manipulasi realitas. “Kekuatan simulasi sedemikian rupa sehingga kecerdasan buatan dapat menipu kita dengan menciptakan “realitas” paralel, bahkan dengan mengambil alih wajah dan suara kita” (Dokpen KWI Hlm.5). Pernyataan ini terasa semakin aktual di era kecerdasan buatan, ketika batas antara yang nyata dan yang artifisial semakin kabur.

Teknologi kini tidak lagi hanya menyampaikan pesan, tetapi juga mampu menciptakan realitas. Teks, gambar, bahkan suara dapat direkayasa sedemikian rupa sehingga sulit dibedakan dari yang asli. Dalam situasi seperti ini, pertanyaan etis menjadi mendesak: siapa yang bertanggung jawab atas kebenaran?

Paus Leo XIV menjawabnya dengan tegas: “Setiap orang dipanggil untuk bersuara demi membela martabat manusia, agar teknologi ini sungguh dapat kita terima sebagai sekutu, bukan sebagai ancaman” (Dokpen KWI Hlm. 6). Dengan kata lain, kemajuan teknologi tidak membebaskan manusia dari etika, melainkan memperdalam tuntutan moralnya.

Namun, di sinilah tantangan terbesar kita. Budaya digital saat ini cenderung mendorong komunikasi yang instan dan reaktif. Kita lebih cepat membagikan daripada memverifikasi, lebih mudah mengomentari daripada memahami. Dalam logika “klik”, yang utama bukan lagi makna, melainkan perhatian. Semakin provokatif sebuah pesan, semakin besar peluangnya untuk menyebar.

Akibatnya, komunikasi kehilangan orientasi etisnya. Ia tidak lagi bertujuan membangun relasi, melainkan menguasai perhatian. Manusia tidak lagi dipandang sebagai pribadi, melainkan sebagai target audiens.

Tanggung jawab semua orang

Karena itu, Paus mengajak perubahan arah yang mendasar. Setiap orang dipanggil untuk beralih dari komunikasi yang mengeksploitasi kepada komunikasi yang peduli. Ajakan ini bukan sekadar idealisme moral, melainkan kebutuhan mendesak dalam masyarakat yang semakin terfragmentasi.

Komunikasi yang empatik menuntut lebih dari sekadar keterampilan teknis. Ia membutuhkan kedewasaan batin, kejujuran intelektual, dan keberanian untuk menahan diri. Ia mengandaikan bahwa di balik setiap layar, ada manusia nyata dengan martabat yang harus dihormati.

Dalam konteks Indonesia yang plural, komunikasi semacam ini menjadi semakin penting. Keberagaman suku, agama, dan budaya adalah kekayaan, tetapi sekaligus juga potensi konflik jika tidak dikelola dengan bijak. Di sinilah komunikasi memainkan peran strategis: apakah ia akan memperkuat persaudaraan, atau justru memperdalam perpecahan.

Lebih jauh, pesan ini juga menyentuh dimensi terdalam manusia: hati nurani. Paus mengingatkan bahwa di tengah dominasi algoritma, manusia tidak boleh kehilangan kompas moralnya. Tanpa hati nurani, komunikasi berisiko kehilangan arah dan kemanusiaannya.

Refleksi ini sejalan dengan kegelisahan Zygmunt Bauman, yang melihat bahwa masyarakat modern cenderung cair—relasi menjadi rapuh, komitmen melemah, dan tanggung jawab sering kali dihindari (Liquid Modernity, 2000). Dalam dunia seperti ini, komunikasi mudah terjebak di permukaan, kehilangan kedalaman maknanya.

Karena itu, seruan Paus Leo XIV sejatinya adalah seruan untuk mengembalikan komunikasi pada hakikatnya: sebagai tindakan manusiawi yang bertanggung jawab dan penuh kasih. Ia bahkan menegaskan bahwa sejatinya komunikasi seharusnya menjadi jalan menuju perdamaian: komunikasi yang benar selalu membuka ruang perjumpaan, bukan permusuhan.

Akhirnya, pertanyaan yang perlu kita ajukan bukanlah seberapa banyak kita berbicara, tetapi seberapa dalam kita sungguh-sungguh mendengarkan dan peduli dengan sesama manusia. Bukan seberapa cepat kita merespons, tetapi seberapa jujur kita mendengar, memahami, dan merenung.

Di dunia yang penuh kebisingan, mungkin yang paling dibutuhkan bukan lebih banyak suara, melainkan lebih banyak keheningan yang bermakna—keheningan yang memberi ruang bagi komunikasi yang kembali manusiawi.