Sakralnya Puncak Upacara Seren Taun di Desa Cigugur Jawa Barat

#PotonganNostalgia || Mari bernostalgia! Menjelajah apa yang sudah mulai terlupakan, atau bahkan belum sempat diingat
Tulisan dari Potongan Nostalgia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Puncak acara Seren Taun dimulai pada pagi hari, dibuka dengan kesakralan dari suara goong renteng, gamelan khas Kuningan. Suara goong kemudian dilanjutkan dengan lantunan kecapi suling untuk mengiringi puluhan penari perempuan yang memakai penutup kepala, disebut menyunggi buyung, serta membawa kendi. Para penari Tari Buyung menggunakan batik motif kreasi Cigugur yang dililit kemben dan selendang aneka warna.
Setiap gerakan pada Tari Buyung memiliki makna yang dalam mengenai rasa syukur akan kebaikan alam. Tari Buyung membentuk beberapa barisan yang tersusun secara serentak, dinamai sebagai Jala Sutra, Nyakra Bumi, Bale Bandung, Medang Kamualan, dan Nugu Telu. Susunan barisan dimaknai sebagai simbol masyarakat petani Sunda sebagai masyarakat yang religius. Sebuah simbol yang menggambarkan Tuhan sebagai Kausa Prima (asal-usul kehidupan) yang menciptakan manusia sebagai makhluk yang sempurna, dan mengemban tugas sebagai pelindung alam yang harus selalu menyelaraskan kehidupan makrokosmos dengan mikrokosmos.
Setelah selesai melakukan Tari Buyung, puluhan laki-laki keluar dari empat penjuru mata angin dengan membawa angklung buncis yang dimainkan secara kolosal. Kemudian goong renteng kembali dibunyikan sebagai tanda masuknya prosesi Ngajayak, yaitu sebuah iring-iringan laki-laki dengan perempuan yang masih remaja. Para perempuan akan membawa nampan berisi padi dan umbi-umbian, sedangkan laki-laki akan memayungi dengan payung janur.
Sebanyak 20 kuintal ikatan padi dari keseluruhan 22 kuintal akan ditumbuk dalam ritual yang disebut Ngagondang, yaitu sebuah ritual menumbuk padi menggunakan alu di leseung sambil menembangkan beberapa tembang yang dimaknai sebagai doa kepada leluhur. Para ibu yang melakukan ritual itu memakai kebaya kuning berhiaskan untaian padi yang disimpan di rambut. Sisa padi yang tidak ditumbuk digunakan sebagai indung pare (benih).
Sumber : Eha Solihat, dkk. 2014. Upacara Adat di Jawa Barat. Bandung : Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat
