Alfred Russel Wallace dan Eksplorasinya di Nusantara

#PotonganNostalgia || Mari bernostalgia! Menjelajah apa yang sudah mulai terlupakan, atau bahkan belum sempat diingat
Tulisan dari Potongan Nostalgia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Alfred Russel Wallace, lahir pada tanggal 8 Januari 1823 di Monmouthshire, Wales, merupakan salah seorang ilmuwan yang sangat berjasa dalam bidang keanekaragaman hayati. Wallace merupakan seorang naturalis, penjelajah, ahli geografi, antropolog dan ahli persebaran hewan dari Wales, Britannia Raya. Alfred Russel Wallace meninggal pada usia 90 tahun dan dimakamkan di Broadstone, Dorset, Inggris.
Semasa hidupnya, Wallace banyak karya menulis karya, termasuk karya besarnya berjudul “The Malay Archipelago” atau “Kepulauan Nusantara” (1869) sebagai hasil dari perjalanan dan ekspolarisnya ketika menjelajahi Kepulauan Nusantara (atau disebut dengan Kepulauan Melayu atau Hindia Timur pada masa itu).
Wallace diketahui memulai penjelajahannya dari Singapura pada tahun 1854 ketika berusia 31 tahun. Dari perjalanannya tersebut, ia diketahui berhasil mengumpulkan kurang lebih 125.660 spesimen fauna. Beberapa ribu dari spesimen tersebut merupakan penemuan-penemuan baru pada saat itu.
Salah satu spesimen fauna dari wilayah Indonesia yang dikumpulkan oleh Wallace sekarang masih dapat dilihat di University Museum of Zoology yang berada di Universitas Cambridge, yaitu satu set spesimen berisi 80 kerangka burung. Salah satu deskripsi spesies yang menjadi terkenal yang dibuat Walace adalah fauna katak pohon yang dapat terbang meluncur (Rachoporus nigropalmatus). Karena deskripsinya dibuat oleh Wallace, maka katak pohon tersebut juga dikenal dengan sebutan katak terbang Wallace.
Catatan perjalanan dan penelitian yang dilakukan oleh Wallace di Kepulauan Nusantara tersebut kemudian diterbitkan menjadi buku yang berjudul “The Malay Archipelago”. Buku tersebut termasuk buku tentang eksplorasi ilmiah yang sangat popular dan masih dicetak ulang hingga saat ini. Di Indonesia sendiri, tempat asal muasal perjalanan dan penelitian yang diceritakan dalam buku tersebut, baru dapat dinikmati kurang lebih 150 tahun setelah buku tersebut pertama kali diterbitkan.
Pengamatan yang dilakukan Wallace terhadap spesies fauna di Nusantara kemudian membuahkan teori yang saat ini dikenal, yaitu “garis Wallace” dan “efek Wallace”. Garis Wallace merupakan sebuah garis hipotesis yang memisahkan antara wilayah geografi hewan Asia dan Australasia. Australasia merupakan kawasan di Oseania yang mencakup Australia, Selandia Baru dan pulau-pulau di sekitarnya. Dalam catatan Wallace disebutkan jika spesies di sebelah barat garis tersebut memiliki hubungan dengan spesies yang ada di Asia, dan di sebelah timur berhubungan dengan spesies di Australasia.
Garis ini melalui Kepulauan Melayu, antara Borneo (Kalimantan) dan Sulawesi dan antara Bali dan Lombok. Oleh Max Wilhelm Weber, garis ini kemudian diperbaiki dengan digeser ke timur (melalui daratan Sulawesi) dan selanjutnya dikenal dengan “garis Wallace-Weber”.
Sedangkan efek Wallace merupakan suatu hipotesis tentang bagaimana seleksi alam dapat memberikan kontribusi pada spesiasi dengan mendorong terciptanya suatu penghalang terhadap hibridisasi. Gagasan tentang efek Wallace ditulis oleh Wallace dalam buku Darwinism yang terbit pada tahun 1889.
Selama hidupnya, Wallace merupakan seorang yang sangat produktif. Beliau telah menerbitkan 22 buku lengkap dan sekitar 747 penggalan-penggalan (makalah) yang singkat, 508 diantaranya berupa karya ilmiah (191 diantaranya diterbitkan di jurnal Nature yang saat ini menjadi salah satu jurnal imiah berkelas dunia).
Wallace diketahui telah mendapatkan berbagai penghargaan hasil dari tulisan-tulisannya tersebut, diantaranya Royal Medal dari Royal Society pada tahun 1868, Darwin Medal pada tahun 1890 dan Order of Merit pada tahun 1908. Bagaimanapun, dengan perannya sebagai rekan penemu seleksi alam dan karyanya dalam zoogeografi membuktikan bahwa beliau adalah figur yang sangat luar biasa. Dapat dikatakan bahwa Wallace adalah penjelajah sejarah alam terbesar pada abad 19.
***
Referensi:
https://dlhk.jogjaprov.go.id/
https://www.theguardian.com/
https://www.britannica.com/
