Konten dari Pengguna

Ali Anyang, Perawat Pejuang Kemerdekaan Indonesia yang Ditakuti Belanda

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Potongan Nostalgia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Wikimedia Commons
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Wikimedia Commons

Ali Anyang adalah pejuang kemerdekaan Indonesia di masa peperangan. Putra Indonesia asal Kalimantan Barat ini amat menakutkan bagi penjajah Belanda ketika itu. Tentara Belanda dibuat repot oleh perlawanan Ali Anyang.

Ali Anyang lahir di Sintang, Kalimantan Barat, 20 Oktober 1920. Tempat kelahirannya memang menjadi pemukiman mayoritas suku Dayak, di Desa Nanga Manantak. Ali Anyang lahir dari pasangan Lakak yang merupakan ayahnya dan Liang adalah ibunya

Kolonial Belanda sempat mengumumkan sayembara bagi sesiapa yang berhasil menangkap Ali Anyang, hidup atau mati, akan diberikan imbalan uang sebesar 25.000 Gulden.

Sosok pejuang yang mengerikan bagi Belanda, pantang menyerah dan berani, awalnya bukanlah tentara. Justru berprofesi sebagai perawat. Ali Anyang adalah putra asli keturunan Dayak, Kalimantan Barat. Nama kecilnya Anyang. Sejak usia 8 tahun, Anyang telah diadopsi oleh keluarga bangsawan Jawa yang bermukim di Kalimantan Barat, yaitu Raden Mas Suadi Djoyomihardjo.

Sumber: indonesia.go.id

Keluarga angkat Anyang adalah pemeluk Islam yang taat. Anyang ketika diadopsi beragama non-muslim. Setelah itu barulah Anyang berpindah agama menjadi Islam dan menambahkan nama baru Mohammad Ali Anjang (Anyang).

Diadopsi oleh keluarga bangsawan membuat Ali Anyang menempuh sekolah bergengsi di Pontianak, Kalimantan Barat. Sekolah Ali Anyang hanya khusus untuk anak-anak dari keluarga bangsawan, pejabat dan juga pemerintah kolonial Belanda. Meskipun Ali Anyang adalah anak angkat, namun keluarga Raden Mas Suadi Djoyomihardjo amat menyayanginya.

Memasuki masa pendidikan menengah atas, Ali Anyang bercita-cita ingin menjadi penolong medis. Ali Anyang yang telah beranjak remaja memiliki kepedulian sosial tinggi. Dirinya suka membantu orang yang mengalami sakit dan sulit mendapatkan pertolongan medis. Ia bercita-cita menjadi penolong medis.

Cita-cita Ali Anyang disambut positif oleh ayah angkatnya. Ali Anyang kemudian disekolahkan ke Sekolah Juru Rawat Medis di Semarang, Jawa Tengah. Sekolah Ali Anyang di Semarang adalah tempat pendidikan bergengsi. Tetap hanya anak bangsawan dan pemerintah Belanda yang boleh belajar di situ.

Setelah lulus Sekolah Juru Rawat dan resmi menjadi perawat medis, Ali Anyang sempat bekerja di Rumah Sakit Umum Semarang dan Rumah Sakit Umum Sui Jawi, Pontianak. Namun; ketika masa bekerja sebagai perawat medis di Pontianak inilah semangat pergolakan Ali Anyang untuk melawan kolonialis Belanda muncul.

Ali Anyang terlibat aktif dalam pembentukan Panitia Penyongsong Republik Indonesia (PPRI). Organisasi yang didirikan oleh para pemuda di seluruh Tanah Air untuk menyambut dan menjaga kemerdekaan Republik Indonesia. Sedangkan Ali Anyang tercatat sebagai pembentuk dan pengurus PPRI Pontianak.

Sumber: Wikimedia Commons

Perlawanan Ali Anyang pertama kali bersama PPRI Pontianak saat menggempur markas dan gudang peluru Belanda pada 12 November 1945. Semangat Ali Anyang untuk bertempur melawan tentara Belanda tumbuh saat mengetahui pasukan militer Australia yang diboncengi NICA mendarat di Pontianak pada 29 September 1945 dan langsung mengambil alih kekuasaan di Kalimantan Barat. Belanda dan sekutunya mengkhianati kemerdekaan Indonesia yang telah diproklamirkan.

Ali Anyang yang mulanya adalah perawat telah berubah menjadi pejuang kemerdekaan yang hebat. Jiwa tempur melawan penjajah makin bertambah ketika ia didaulat sebagai Komandan Pasukan Barisan Pemberontak Republik Indonesia (BPRI) Kalimantan Barat. Selanjutnya Ali Anyang mendirikan Barisan Pemberontak Indonesia (BPI) Kalimantan Barat.

Saat memimpin pasukan pejuang, Ali Anyang ditugaskan melakukan serangan ke tentara Belanda dan sekutunya di wilayah Pontianak, Mempawah, Singkawang, Sambas dan Bengkayang. Ketika pertempuran di Bengkayang. Markas tentara Belanda di Bengkayang luluh lantak. Hebatnya: Ali Anyang mampu mengibarkan bendera Merah Putih di seluruh Bengkayang serta menyanyikan lagu Indonesia Raya

Sumber: indonesia.go.id