Konten dari Pengguna

Arsitektur Tradisional Masyarakat Nagari Sumpur

Potongan Nostalgia

Potongan Nostalgia

#PotonganNostalgia || Mari bernostalgia! Menjelajah apa yang sudah mulai terlupakan, atau bahkan belum sempat diingat

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Potongan Nostalgia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Seribu rumah gadang di Solok Selatan (Foto: instagram  @134l_al_farazi)
zoom-in-whitePerbesar
Seribu rumah gadang di Solok Selatan (Foto: instagram @134l_al_farazi)

Arsitektur tradisional masyarakat Sumatera Barat yang paling terkenal adalah rumah gadang. Rumah adat Minangkabau yang dibangun di atas tiang-tiang tinggi tersebut, secara bahasa memiliki arti “Rumah Besar”. Bentuk rumah gadang memang dapat memperlihatkan kemampuan ekonomi seseorang. Semakin besar rumah gadang dibangun, maka semakin maju perekonomian orang yang tinggal di dalamnya.

Rumah gadang dikenal dengan banyaknya ruangan di dalamnya, mulai dari sembilan ruangan hingga belasan ruangan, tergantung dari ukuran rumah tersebut. Atap rumah gadang berbentuk seperti tanduk kerbau disebut dengan ganjong. Jumlah ganjong pada setiap rumah beraneka macam, mulai dari dua, empat, enam, atau lebih. Rumah gadang dikenal juga oleh masyarakat dengan nama “Rumah Baganjong”.

Bagian rumah gadang terdiri dari kamar, lanjar, anjuang, dan kolong. Bagian lanjar digunakan sebagai tempat khusus bagi penghuni rumah untuk menerima tamu. Sedangkan anjuang terbagi menjadi dua, yaitu anjuang kanan yang berfungsi sebagai kamar untuk anak perempuan, dan anjuang kiri yang digunakan untuk tempat khusus upacara adat. Kemudian kolong berfungsi sebagai tempat penyimpanan peralatan pertanian, dan juga tempat untuk para perempuan bertenun.

Secara umum bentuk rumah gadang di setiap daerah di Sumatera Barat sama, namun ada beberapa bagian yang membedakannya, seperti pada rumah gadang di Nagari Sumpur. Arsitektur rumah gadang di sana erat kaitannya dengan lokalitas lingkungan masyarakat di sana, yaitu hubungan antara lingkungan alam dengan lingkungan manusia.

Rumah gadang Sumpur sarat dengan simbol-simbol yang tergambarkan melalui bentuk atap, jumlah tiang, jumlah ruangan, dan ukiran-ukiran yang ada di beberapa sudut rumah.

Rumah gadang di Nagari Sumpur, Kecamatan Batipuh Selatan, Kabupaten Tanah Datar, ketika awal abad ke-19 berjumlah lebih dari 200 bangunan. Jumlah tersebut terus berkurang disebabkan oleh gejolak sosial politik yang terjadi semasa perang Paderi yang berlangsung antara tahun 1821 sampai 1837.

Banyak rumah gadang pada masa tersebut yang dibakar, atau dihancurkan. Pasca perang Paderi, jumlah rumah gadang terus mengalami penurunan, baik karena roboh sendiri dimakan usia, ataupun dirobohkan oleh pemiliknya. Awal abad ke-21 ini jumlah rumah gadang di Nagari Sampur yang tersisa hanyalah 45 rumah, dengan 30 rumah layak huni, dan 15 rumah sisanya tidak layak huni.

Rumah gadang Sumpur penuh dengan keunikan ragam hias dan arsitektur, serta variasi bentuknya beraneka ragam. Jika mengacu pada dua sistem keselarasan yang ada di MInangkabau, yaitu kelarasan Bodi Caniago, dan kelarasan Koto Piliang, rumah gadang Sumpur mengikuti sistem kelarasan Koto Piliang, yang ditunjukan dengan adanya beberapa rumah tidak berlantai datar.

Namun sistem sosial budaya di sana mengacu pada sistem kelarasan Bodi Caniago yang bersifat demokratis.

Sumber : warisanbudaya.kemendikbud.go.id