Konten dari Pengguna

Asal Usul Perayaan Seren Taun di Desa Cigugur

Potongan Nostalgia
#PotonganNostalgia || Mari bernostalgia! Menjelajah apa yang sudah mulai terlupakan, atau bahkan belum sempat diingat
1 Februari 2018 21:41 WIB
clock
Diperbarui 6 Agustus 2020 13:19 WIB
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Potongan Nostalgia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Seren Taun (Foto: Wikimedia Commons)
zoom-in-whitePerbesar
Seren Taun (Foto: Wikimedia Commons)
ADVERTISEMENT
Desa Cigugur berada di lereng Gunung Ceremai, yang secara administratif terletak di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Posisi Desa Cigugur ada pada ketinggian 700 meter di atas permukaan laut dengan luas wilayah 661.120 ha. Sebagian besar wilayah desa terdiri atas area pesawahan, dan sebagian besar penduduknya bekerja dalam bidang pertanian. Melihat hal tersebut, jelaslah bahwa di Desa Cigugur terdapat upacara adat yang diwariskan secara turun temurun untuk ungkapan rasa syukur kepada Sang Pencipta, bernama upacara Seren Taun.
ADVERTISEMENT
Sejarah munculnya perayaan Seren Taun di Desa Cigugur adalah ketika Madrais atau Pangeran Alibasa Koesoemawidjajaningrat pada 1921 menetapkan tanggal 1 Sura (Muharam) sebagai waktu diadakannya upacara Seren Taun. Menurut ajaran yang dianut oleh Madrais, Sanghyang Sri atau Dewi Padi perlu dihormati dengan upacara religius daur ulang penanaman padi agar dapat mengendalikan hawa nafsu untuk keselamatan hidup.
Madrais yang dibesarkan dalam tradisi ajaran Islam kemudian melahirkan ajaran baru yang berbeda dengan syariat Islam sesungguhnya. Madrais mengajarkan paham Islam dengan kepercayaan lama masyarakat Sunda yang agraris. Paham tersebut dinamakan Madraisme atau Ajaran Djwa Sunda (ADS), yang merupakan ajaran masyarakat pra-Islam.
Upacara Seren Taun sempat dilakukan pada 1963 secara sederhana, sebelum akhirnya berhenti diadakan setelah pemerintah mengeluarkan pelarangan terhadap aliran kepercayaan masyarakat pada 1964. Kemudian tanggal 22 September 1978, di bawah kepemimpinan cucu Madrais, Djatikusumah, Desa Cigugur kembali melaksanakan upacara Seren Taun sebagai upacara adat warisan nenek moyang mereka. Upacara Seren Taun, seperti yang dikatakan oleh Djatikusumah, adalah upacara kebudayaan bukan upacara agama. Upacara Seren Taun merupakan bentuk rasa syukur masyarakat Desa Cigugur atas kebaikan-kebaikan alam yang telah melancarkan segala urusan masyarakat setiap taunnya.
ADVERTISEMENT
Sumber : Eha Solihat, dkk. 2014. Upacara Adat di Jawa Barat. Bandung : Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat.