Konten dari Pengguna

Attila 'The Hun', Pengganggu Keseimbangan Eropa

Potongan Nostalgia

Potongan Nostalgia

#PotonganNostalgia || Mari bernostalgia! Menjelajah apa yang sudah mulai terlupakan, atau bahkan belum sempat diingat

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Potongan Nostalgia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Attila dikenal sebagai seorang pemimpin yang kejam, yang secara alamiah telah mengalir di dalam dirinya darah orang-orang pemuja perang. Ia memimpin pasukannya dalam serangkaian operasi militer yang hampir menghancurkan landasan wilayah Kekristenan Barat.

Attila berasal dari suku bangsa Hun, yang merupakan suku nomaden dari wilayah Asia Tengah. Orang-orang Hun melakukan banyak perjalanan menaklukkan bangsa lain untuk menguasai wilayahnya. Mereka sangat gemar berperang dan sepertinya hanya itulah satu-satunya jalan hidup suku Hun untuk tetap menjaga keberadaannya.

Pada tahun 370, bangsa Hun memasuki wilayah Laut Hitam dan Sungai Danube. Kedatangan mereka sangat mengancam wilayah tersebut, bahkan para sejarawan menyebut bahwa kekejaman bangsa Hun melebihi bangsa Visigoth dan Ostrogoth, yang sebelumnya menjadi ancaman bagi Romawi.

Kemudian pada tahun 433, Attila dan saudaranya, Bleda, mewarisi tahta kepemimpinan Suku Hun dari paman mereka. Kedua saudara itu mengawali era kepemimpinannya dengan menaklukan suatu wilayah kesukuaan yang membentang dari Pegunungan Alpen dan Laut Baltik di barat sampai dekat Laut Kaspia di timur.

Saat itu, orang-orang Hun menerima upeti tahunan berupa emas seberat 350 kilogram dari kekaisaran Romawi Timur di Konstantinopel sebagai tanda perdamaian di antara dua bangsa tersebut.

Pertengahan abad ke-5 masehi, kaum Vandal yang berasal dari bagian utara Afrika melakukan serangan ke Mesir dan memotong jalur pasokan untuk wilayah Konstantinopel. Attila mengambil keuntungan dari peristiwa tersebut dan memilih untuk mengabaikan perjanjian damai dengan Kekaisaran Romawi Timur.

Bangsa Hun di bawah perintah Attila melakukan serangan ke benteng-benteng pertahanan Romawi Timur di tepi utara Sungai Danube pada tahun 440.

Attila dan pasukannya berhasil menduduki dan menghancurkan kota-kota di daerah selatan, yang sekarang menjadi wilayah Bulgaria. Serbuan dari Attila tersebut membuat kekaisaran Romawi terpaksa menaikkan upeti tahunan mereka kepada bangsa Hun menjadi 1.050 kilogram emas, agar Attila menghentikan penyerbuannya.

Pada tahun 445, Attila membunuh saudaranya, Belda, karena ia ingin menjadi penguasa tunggal atas kaum Hun. Pada tahun 451, Attila memutuskan untuk melakukan penyerangan menuju Kekaisaran Romawi Barat. Pasukan Hun menyerbu Gaul dengan jumlah tentara yang sangat besar, terdiri dari orang Hun dan suku bangsa lainnya yang menjadi sekutu Hun.

Perang yang dikenal sebagai Perang Chalon tersebut menjadi satu-satunya kekalahan Attalia, sepanjang ia berkuasa. Mereka kalah dari pasukan gabungan Romawi, Frankish, dan Visigoth. Kedua kubu mengalami kerugian yang sama besar, namun Visigoth harus membayar kemenangannya dengan kematian rajanya, Theodoric, yang terbunuh saat pertempuran berlangsung.

Setelah memerintahkan pasukannya untuk mundur dari Gaul, Attila memilih untuk mengarahkan pasukannya ke Italia. Di sana, orang-orang Hun menghancurkan beberapa kota di bagian utara Italia. Ketika Attila sedang mempersiapkan pasukannya untuk bergerak ke Roma, Paus Leo I datang ke hadapannya.

Attila dikenal sebagai orang yang sangat menaruh hormat pada orang-orang dengan kualitas kerohanian yang tinggi, sehingga Paus Leo I diterima dengan baik oleh Attila. Setelah pertemuan tersebut, secara mengejutkan Attila memutuskan untuk meninggalkan Italia dan menarik mundur pasukannya.

Pada tahun 453, ketika pasukan Hun melintasi Pegunungan Alpen untuk kembali, Attila secara tiba-tiba meninggal setelah malam pernikahannya dengan seorang perempuan dari suku Hun. Legenda mengatakan bahwa Attila tewas akibat pendarahan hebat setelah minum berlebihan saat pestanya pernikahannya.

Tidak lama setelah kematian Attila, orang-orang Hun terpecah menjadi beberapa kelompok dan akhirnya pengaruh mereka pun semakin berkurang.

Sumber: Paparchontis, Kathleen. 2005. 100 Pemimpin Dunia yang Berpengaruh di Dalam Sejarah Dunia. Tanggerang: Karisma

Foto: commons.wikimedia.org