Awal Mula Julukan Parijs van Java untuk Kota Bandung

#PotonganNostalgia || Mari bernostalgia! Menjelajah apa yang sudah mulai terlupakan, atau bahkan belum sempat diingat
Tulisan dari Potongan Nostalgia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Parijs van Java adalah sebutan dari orang-orang Belanda untuk Kota Bandung pada zaman kolonial Belanda, yang artinya “Paris dari Jawa”

Julukan Parijs van Java untuk Kota Bandung diyakini sudah melekat sejak lama. Sebagai bukti, judul-judul buku yang terbit pada tahun 2000-an banyak yang mebahas tentang tentang julukan untuk ibu kota Jawa Barat tersebut. Seperti buku yang berjudul Parijs van Java: Darah, Keringat, Airmata (2003) karya Remy Sylado, Variasi Parijs van Java (2004) kumpulan sajak karya Soni Farid Maulana.
Adapun julukan tersebut sudah menjadi tagline di surat kabar sejak lama, seperti yang ditulis oleh E.M. Dachlan surat kabar atau koran Sipatahoenan edisi 1 Februari 1936. Dalam tulisan berjudul ”Bandoeng Parijs van Java” itu.
Dalam tulisan Wajah Bandoeng Tempo Doeloe, Haryoto Kunto menulis, ”Apa yang selalu jadi sorotan pembicaraan orang tentang ‘Sejarah Kota Bandung’, sering kali cuma berkisar pada periode ‘Parijs van Java’ saja. Yang berarti hanya meliputi kurun waktu tahun 1920-1940. Duapuluh tahun masa kegemilangan Kota Bandung.”
Banyak sumber lain mengatakan jika julukan Bandung Parijs van Java dicetuskan oleh orang-orang Belanda ketika zaman kolonial. Kebenaran sumber tersebut bisa dilihat dari koran-koran berbahasa Belanda yang diterbitkan pada zaman Hindia-Belanda. Koran paling lama yang menyebut-nyebut nama Parijs van Java adalah tulisan bersambung karya Lt. Clockener Brousson dalam Alkmaarsche Courant. Judulnya, ”Indische Penkrassen” atau “Corat-coret Hindia”.
Pada edisi 20 Maret tahun 1904, disebutkan bahwa ”Vroeger was deze stad dan ook de drukker bloeiende hoofdplaats van het Gewest de zetel van den Kandjeng Resident, doch thans is Bandoeng dit, Bandoeng het Parijs van Java, zooals ik 't heb hooren noemen...” (Dahulu, kota ini ibu kota karesidenan yang sibuk, tempat menetapnya Kandjeng Residen, tetapi kini yang menjadi ibu kota adalah Bandung, Bandung Parijs van Java, sebagaimana yang telah saya sebutkan…).
Bukti-bukti di atas memperkuat alasan jika Kota Bandung sudah dijuluki Parijs van Java sejak lama, meskipun masih belum ada bukti yang kongret mengenai siapa yang pertama kali memproklamirkan julukan tersebut.
**
Referensi:
Remy Sylado. Parijs van Java: Darah, Keringat, Airmata. 2003
Lt. Clockener Brousson. Alkmaarsche Courant: Indische Penkrassen. 20 Maret 1904
