Konten dari Pengguna

Badai Galveston, Badai Terdahsyat dalam Sejarah Amerika yang Mematikan

Potongan Nostalgia

Potongan Nostalgia

#PotonganNostalgia || Mari bernostalgia! Menjelajah apa yang sudah mulai terlupakan, atau bahkan belum sempat diingat

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Potongan Nostalgia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dampak badai Galveston. Sumber: Wikimedia Commons
zoom-in-whitePerbesar
Dampak badai Galveston. Sumber: Wikimedia Commons

Tanggal 8 September 1900 menjadi hari paling mematikan dalam sejarah Amerika ketika Galveston, Texas mengalami salah satu badai paling merusak yang pernah melanda Pantai Teluk. Jalanan terendam banjir, rumah hancur, dan antara 8.000 dan 12.000 orang kehilangan nyawa.

Pada 6 September, pihak berwenang memiliki firasat bahwa badai itu menuju ke Galveston. Pada saat itu, angin kencang telah merobohkan jalur telegraf kota, jadi tidak ada cara untuk memperingatkan mereka. Satu pesan yang masuk berasal dari Kapten Halsey dari The Louisiana, yang telah meninggalkan New Orleans hari itu dan mencatat pergerakan badai yang dia temui di sana.

Ketika media lokal mulai menerbitkan informasi tentang badai tersebut, mereka melaporkannya sebagai badai musim panas yang biasa. Ironi yang tragis, pejabat Biro Cuaca Isaac M. Cline malah mengatakan kepada publik bahwa gelombang badai tidak cukup kuat untuk menyebabkan kerusakan besar. Nahas pada akhirnya ia kehilangan istrinya akibat badai.

Sumber: Wikimedia Commons

Pada hari yang mematikan itu gelombang badai lebih dari 15 kaki menenggelamkan kota sepenuhnya di bawah air. Angin yang mencapai 145 mil per jam yang dapat menerbangkan atap sirap. Rumah-rumah telah hancur sementara penduduk Galveston, berebut untuk tetap bertahan.

Momen paling mengerikan dari badai itu terjadi ketika ombak menghantam dua asrama di Rumah Sakit Yatim Piatu St. Mary. Ketika mayat dari hampir 100 anak yang tinggal di sana ditemukan keesokan harinya. Petugas penyelamat bingung menemukan bahwa mereka semua diikat menjadi satu. Kemudian terungkap bahwa 10 biarawati yang bertugas telah mengikat anak-anak dengan tali jemuran karena putus asa untuk menjaga agar gelombang tidak menghempas mereka. Hanya tiga anak laki-laki dari St. Mary's yang berhasil melarikan diri.

Galveston menjadi kota pengungsi selama satu hari. Sebanyak 80% penduduk kota tidak memiliki tempat untuk tidur.

Sumber: Wikimedia Commons

Pasca kehancuran Galveston pada tanggal 9 September. Sampah dan mayat memenuhi jalan-jalan. Tak cukup sukarelawan t untuk membersihkan reruntuhan, sehingga 50 orang kulit hitam dipaksa dengan todongan senjata untuk memuat mayat ke 700 tongkang sekaligus.

Penyintas bencana yang memilih untuk tinggal di Galveston ditempatkan di tempat penampungan tentara sementara, 17.000 penduduk tetap tinggal di kota yang porak poranda itu. Komite pembangunan Galveston menawarkan anggaran untuk membangun kembali kota. Tetapi sebagian besar penduduk terpaksa harus mengais sisa puing yang masih bisa dimanfaatkan untuk membangun rumah.

Layanan air bersih kembali pulih pada 13 September. Kota-kota di seluruh negeri menyumbang donasi untuk upaya pembangunan kembali Galveston. Diyakini bahwa badai Galveston merugikan kota sekitar $ 138,6 miliar dolar Amerika.

Sumber: historydaily.org