Konten dari Pengguna

Benarkah Zhanjiao Futou Dijadikan Simbol Social Distancing di Masa Dinasti Song?

Potongan Nostalgia

Potongan Nostalgia

#PotonganNostalgia || Mari bernostalgia! Menjelajah apa yang sudah mulai terlupakan, atau bahkan belum sempat diingat

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Potongan Nostalgia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dok: Wikimedia Commons
zoom-in-whitePerbesar
Dok: Wikimedia Commons

Sekitar beberapa Bulan lalu, ketika anak-anak di China memulai kegiatan sekolah mereka dengan pergi ke sekolah setelah penutupan sekolah dan fasilitas lain akibat pandemi Covid-19, topi kuno dari Dinasti Song kembali menjadi mode setelah diketahui banyak dari anak-anak menggunakannya ketika pergi bersekolah.

Sebuah sekolah dasar di Kota Hangzhou, murid kedapatan mengenakan tutup kepala buatan tangan berbahan kertas, balon, dan ornamen lainnya, dengan bentuk topi memanjang yang membentang hingga satu meter. Penggunaan topi ini memang dimaksudkan untuk membantu mereka menyesuaikan diri dengan kebiasaan social distancing.

Dok: YouTube/@Atlas Obscura

Kembali ke masa Dinasti Song, topi tersebut memang dimaksudkan untuk membuat jarak dan menjauhkan antara satu pejabat dan pejabat lainnya, sehingga mereka tidak bisa saling berbisik, dan berkongkalikong satu sama lain.

Namun, menurut seorang sarjana di bidang sejarah seni dan studi Asia, Jin Xu, mengatakan jika fungsi "social distancing" dari topi China itu sesungguhnya berakar pada "spekulasi yang tidak berdasar."

Jin Xu, yang sekarang menjadi asisten profesor di Vassar College, mengungkapkan, "Cendekiawan modern melacak asal-usul rumor itu dari peninggalan seorang cendekiawan China abad ke-13." Terungkap, jika topi tersebut aslinya terbuat dari kain hitam yang disebut futou, atau zhanjiao futou. Zhanjiao yang berarti "merentangkan kaki atau sayap."

Futou adalah kain yang dililitkan di kepala, dan sebagai tambahan diberikan yang melapisinya dengan kayu, sutra, rumput, atau kulit.

Pada masa Dinasti Tang (618-907), penggunaan futou secara bertahap menjadi outfit yang terstruktur. Para pejabat mulai berkreasi dengan menambahkan pita kaku yang membentuk sayap panjang menyamping.

Lalu, pada akhirnya futou menjadi aksesori yang umum digunakan selama Dinasti Song (960-1279).

Yu Yan, cendekiawan yang pertama kali berspekulasi tentang fungsi “social distancing” dari topi kuno ini, membuat klaimnya yang meragukan dalam bukunya The Pedantic Remarks of the Confucians.

"Tujuan topi futou mungkin untuk menghindari para pejabat saling berbisik ketika mereka mengadakan audiensi dengan Kaisar," tulis Liu.

Futou yang dimaksud Yu Yan kemungkinan futou yang terbuat dari muslin polos atau setelah divernis, dengan pita panjang menyamping yang diperkuat dengan kabel besi atau potongan bambu di dalamnya.

Pandangan serupa diungkapkan oleh Alexandra B. Bonds, Profesor desain kostum di Universitas Oregon, dalam tulisan bertajuk Beijing Opera Costumes: The Visual Communication of Character and Culture.

Banyaknya variasi pada topi kuno futou muncul selama Dinasti Ming (1368-1644), namun topi ini baru muncul setelah Manchus mengambil alih kekuasaan, dan mendirikan Dinasti Qing (1644-1912). Sejak saat itu, topi kuno tersebut kembali muncul dalam lukisan dan kostum teater, dan variasi lainnya yang berbeda masih terlihat selama pertunjukan Opera Beijing.

Dok: Wikimedia Commons.

"Apakah hiasan kepala awalnya dimaksudkan untuk mencegah anggota istana merencanakan hasutan atau tidak, sayap tentu akan menghalangi percakapan pribadi yang dekat," ungkap Bond.

“Jenis topi ini tentu dapat berguna dalam kondisi seperti sekarang ini, ketika siswa masih harus menjaga jarak sosial, sambil juga mengajari mereka tentang sejarah bangsa mereka." "Atau, bisa pula sambil memberi mereka proyek seni. Apa lagi yang bisa seorang guru inginkan dari sebuah tugas, bukan?” tutup Bond.

**

Referensi:

  • https://www.atlasobscura.com/