Konten dari Pengguna

Bentuk Pemerintahan Ideal Menurut Plato

Potongan Nostalgia

Potongan Nostalgia

#PotonganNostalgia || Mari bernostalgia! Menjelajah apa yang sudah mulai terlupakan, atau bahkan belum sempat diingat

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Potongan Nostalgia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Keadilan adalah keselarasan antara akal budi, emosi, dan hasrat.

Keadilan adalah keselarasan antara akal budi, emosi, dan hasrat.

Melalui karyanya, Republic, Plato membeberkan seluruh angan-angannya membuat sebuah pemerintahan yang dilandaskan pada konsep hukum dan keadilan. Karya Plato tersebut terbukti mempengaruhi banyak pendiri pemerintahan demokratis di seluruh dunia selama ribuan tahun.

Lahir di Athena sekitar tahun 428 SM, Plato adalah murid dari Sokrates, filsuf terkenal Yunani. Tahun 399 SM, Sokrates dituduh telah merusak kaum muda di Athena dengan menghadirkan praktik-praktik agama baru di negara-kota tersebut. Sokrates pun disarankan oleh pengikutnya untuk melarikan diri dari kota dibandingkan menjalani hukuman dari pemerintah Athena. Namun ia menolak, dan lebih memilih untuk mengakhiri hidupnya dengan meminum racun.

Kemarahan dan kekecewaan memenuhi diri Plato setelah perlakuan yang diterima oleh gurunya, yang menurutnya pemerintah sama sekali tidak bersikap demokratis. Plato pun akhirnya menghabiskan 12 tahun hidupnya untuk melakukan perjalanan dan belajar dari filsuf-filsuf besar lainnya.

Di dalam Republic, Plato menjabarkan sebuah gambaran mengenai struktur pemerintahan yang ideal untuk masyarakat. Ia percaya bahwa masyarakat harus dipimpin oleh orang-orang adil yang dipilih berdasarkan kemampuan mereka memahami kebenaran dari berbagai elemen.

Plato menganut paham bahwa konsep, seperti keadilan, pertama kali hadir dalam bentuk elemen yang harus dikembangkan berdasarkan keadaan-keadaan tertentu, yang saling melengkapi. Baginya, moralitas maupun kehidupan baik, yang direncanakan oleh negara, adalah pantulan dari elemen-elemen yang ideal.

Sama halnya seperti Socrates, Plato berkeyakinan bahwa pemerintahan harus dipimpin oleh seorang “raja-filsuf”. Untuk menggambarkan maksudnya, Plato mengilustrasikannya menggunakan sebuah keadaan. Ketika manusia, yang dirantai menghadap ke arah dinding goa dengan punggung terpapar cahaya, hanya melihat bayang-bayang realitas, maka ia akan dipaksa untuk menghadapi apa yang betul-betul nyata.

Keadaan itu, ujar Plato, seperti pemerintahan yang dipimpin oleh seseorang, sehingga sebaiknya sebuah negara dipimpin oleh filsuf yang akan memahami realitas secara dalam. Karena para filsuf akan menghadapi lingkungan terang di luar goa daripada terus berdiam diri menghadapi kegelapan di dalam.

Banyak orang yang mengkritik pandangan-pandangan Plato mengenai pemerintahan dan masyarakat yang ideal. Bagi mereka, pandangan Plato itu terlalu sempit dan justru hanya akan membentuk kelompok-kelompok masyarakat menjadi lebih kecil, yang akhirnya akan memunculkan gologan elite.

Walaupun Republic berisi pandangan Plato mengenai sebuah masyarakat yang diperintah oleh raja-filsuf tidak realistis, tetapi ia tetap berkeyakinan bahwa keadilan dan kebahagiaan tidak mungkin dipisahkan. Pandangannya itu akhirnya menimbulkan banyak perdebatan dari segi etika, politik, dan filosofi dari abad ke abad.

Sumber: Raftery, Miriam. 2008. 100 Buku yang Berpengaruh di Dalam Sejarah Dunia. Tanggerang: Karisma

Foto: commons.wikimedia.org