Berlin, Panggung Utama Sejarah Jerman

#PotonganNostalgia || Mari bernostalgia! Menjelajah apa yang sudah mulai terlupakan, atau bahkan belum sempat diingat
Tulisan dari Potongan Nostalgia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sejak pertama kali berdiri, Berlin telah menjadi salah satu kota paling penting di Jerman yang mencatatkan banyak sejarah di dalamnya. Berlin merupakan bekas Ibu Kota Kerajaan Prusia, yang menjadi Ibu Kota Kekaisaran Jerman pada masa pembentukannya, tahun 1871.
Kota Berlin memainkan peran politik yang penting bagi Jerman karena perubahan situasi pemerintahan di Jerman banyak terjadi di kota itu. Pada masa pemerintahan Frederick William, dan Frederick II, Berlin memperoleh tempat terhormat di dunia interasional selama abad ke-17 dan abad ke-18.
Bahkan, ketika memasuki abad ke-19, daya tarik Berlin semakin bertambah ketika Universitas Humboldt di Berlin Timur menarik minat para pemikir besar, seperti George Hegel, dan juga Karl Marx untuk membangun pandangan mereka mengenai konsep-konsep buah pikir mereka.
Sebagaimana arsitektur di Berlin yang ditandai dengan gedung-gedung megah dan koleksi seni yang mengagumkan, pembangunan di Berlin pun ditandai oleh gerakan-gerakan intens yang berhasil memengaruhi keadaan Jerman dan Eropa dalam pergolakan sejarah dunia.
Mulai dari Revolusi 1848, Perang Dunia I, sampai dengan munculnya gairah kebudayaan barat yang modern sekitar tahun 1920-an, Berlin telah menancapkan karakternya dengan sangat baik.

Sejak Partai Nazi mulai berkuasa pada tahun 1933 hingga akhir Perang Dunia II, Berlin ditempatkan sebagai titik sentral nasionalisme Jerman. Pada 1936, Berlin menjadi tuan rumah dari laga Olimpiade, di tengah-tengah konflik yang sedang bergejolak di Eropa. Selama pesta olahraga itu berlangsung, banyak agenda-agenda tersembunyi yang dilakukan untuk mempromosikan superioritas bangsa Jerman.
Sisi gelap dari penguasa Jerman, Partai Nazi, pun dimulai di wilayah Berlin pada 1938. Mereka menggunakan sandi “Kristallnacht”, di mana kuil-kuil, tempat usaha, dan rumah-rumah orang Yahudi dirusak. Peristiwa itu dikenal sebagai pemusnahan orang-orang Yahudi, yang menyebabkan jutaan korban tewas.

Setelah kekalahan Jerman pada Perang Dunia II, negara itu terbagi menjadi empat wilayah pendudukan oleh kekuatan-kekuatan yang memenangkan perang. Kota Berlin, dengan luas 883 kilometer persegi, yang berada di wilayah Soviet, juga ikut dibagi.
Pada tahun 1949, ketiga wilayah barat Jerman berubah menjadi Republik Federasi Jerman, dengan Bonn sebagai ibu kotanya. Wilayah milik Soviet di timur berubah menjadi Republik Demokratik Jerman, dengan bagian timur Berlin sebagai ibu kotanya.
Setelah pembagian kekuasaan itu, banyak warga Jerman Timur yang mencoba untuk melarikan diri dari pengaruh komunis di Timur, sehingga memaksa pihak Soviet dan Jerman Timur untuk membangun Tembok Berlin. Batas pemisah antara Jerman Barat dan Timur itu menjadi tanda berakhirnya sistem politik besar di Jerman. Namun pada tahun 1989, tembok itu diruntuhkan, yang menjadi tanda hancurnya Republik Demokratik Jerman yang komunis.
Pada tahun 1990, Republik Federasi Jerman mengambil alih seluruh penguasaan Jerman dan Kota Berlin yang telah bersatu, dengan jumlah penduduk saat itu mencapai 3,4 juta jiwa. Kota Berlin kembali ditunjuk sebagai Ibu Kota Jerman yang telah bersatu, sedangkan Bonn tetap berfungsi sebagai ibu kota administratif.
***
Sumber: Beckner, Chrisanne. tt. 100 Kota Besar Bersejarah di Dunia. Jakarta : Intimedia & Ladang Pustaka.

Foto: Wikimedia Commons
